6 Jenis Pekerjaan yang Mulai Ditinggali Gen Z, Apa Saja?

- Gen Z mulai meninggalkan pekerjaan yang dianggap menguras tenaga dan tidak sepadan dengan gaji, seperti customer service, buruh pabrik, hingga food service.
- Pekerjaan berbasis komisi dan magang tanpa bayaran juga makin dihindari karena dinilai tidak memberikan kepastian finansial serta kurang menghargai waktu dan usaha pekerja muda.
- Peran korporat yang kaku tanpa jenjang karier jelas membuat Gen Z lebih memilih pekerjaan fleksibel dengan keseimbangan hidup dan peluang berkembang yang lebih nyata.
Belakangan ini, makin sering muncul obrolan soal Gen Z yang kerap kabur dari pekerjaan-pekerjaan tertentu. Bukan karena malas atau tidak mau capek, tapi karena generasi ini punya cara pandang baru soal apa itu kerjaan yang layak.
Mereka tidak segan-segan keluar dari posisi yang dianggap menguras tenaga dan pikiran, tapi diberikan feedback yang sepadan. Wajar saja, kalau dipikir-pikir. Biaya hidup makin mahal, sementara beberapa jenis pekerjaan masih menawarkan gaji minim dengan beban kerja yang berat.
Penasaran apa saja pekerjaannya? Berikut Popmama.com mengulas 6 jenis pekerjaan yang mulai ditinggali Gen Z. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
1. Customer service atau call center

Posisi customer service atau call center menjadi salah satu yang paling sering disebut. Melansir Newsweek, Abigail Wright selaku penasihat bisnis senior di Chamber of Commerce, mengungkapkan bahwa peran customer support termasuk pekerjaan yang banyak dihindari Gen Z karena dianggap kurang dihargai dan terlalu menguras energi.
Mengutip Trynavi, alasan utamanya cukup masuk akal, yaitu ketidakbetahan akan dimarahi oleh orang asing sepanjang hari sambil mengejar tujuan yang kadang-kadang tidak dapat dicapai. Selain itu, pengawasan yang ketat, termasuk durasi istirahat dan nada bicara saat menelepon, membuat pekerja merasa diperlakukan seperti robot.
2. Buruh pabrik dan pekerjaan fisik lainnya

Selain kerja di balik meja, pekerjaan yang menuntut fisik seperti buruh pabrik atau pergudangan juga mulai ditinggalkan. Melansir Newsweek, tingkat kelelahan yang tinggi dan beban fisik yang berat bikin Gen Z kurang tertarik mengambil peran semacam ini, apalagi kalau dibandingkan sama upah yang ditawarkan.
Gen Z melihat pola ini dari generasi sebelumnya yang rela banting tulang di pabrik, tapi ujung-ujungnya tetap kesulitan secara finansial. Makanya, banyak dari mereka lebih memilih mencari pekerjaan yang lebih fleksibel, meski risikonya penghasilan belum tentu stabil di awal.
3. Pekerja restoran atau food service

Kalau yang ini mungkin tidak terlalu mengejutkan. Mengutip Trynavi, pekerjaan di bidang restoran atau food service dikenal punya jam kerja panjang, jadwal yang tidak menentu, gaji pokok kecil yang mengandalkan tip, plus tekanan fisik dan mental yang lumayan berat.
Pandemi juga jadi titik balik buat banyak orang di industri ini. Saat restoran tutup sementara dan pekerja terpaksa cari kerjaan lain, banyak yang sadar kalau mereka bisa hidup lebih tenang sambil tetap dapat penghasilan serupa di bidang lain. Sejak itu, makin banyak Gen Z yang berpikir dua kali sebelum terjun ke dunia food service untuk jangka panjang.
4. Sales asuransi atau sales berbasis komisi

Pekerjaan sales, khususnya di bidang asuransi, juga masuk daftar yang mulai dihindari. Melansir Newsweek, sistem gaji komisi tanpa jaminan pendapatan tetap menjadi salah satu alasan utama Gen Z enggan melirik posisi ini.
Mengutip Trynavi, iming-iming "penghasilan tidak terbatas" dan "jadi bos buat diri sendiri" kerap tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak pekerja merasa terbebani dengan tekanan menelepon calon klien yang tidak dikenal, ditolak berkali-kali, sampai harus menjual produk yang sebenarnya tidak mereka percaya sepenuhnya.
Buat generasi yang mengutamakan keaslian dan makna dalam bekerja, hal-hal kayak ini jadi dealbreaker tersendiri.
5. Magang tidak berbayar

Magang sebenarnya bisa jadi batu loncatan yang bagus buat memulai karier. Tapi, magang tanpa bayaran adalah cerita lain. Melansir Newsweek, internship tanpa kompensasi termasuk salah satu jenis pekerjaan yang paling banyak dihindari Gen Z karena dianggap tidak menghargai waktu dan tenaga yang sudah dikorbankan.
Di tengah biaya hidup yang terus naik, rasanya berat buat generasi muda mengorbankan waktu berbulan-bulan tanpa penghasilan sama sekali, apalagi kalau tidak ada jaminan bakal direkrut jadi karyawan tetap setelahnya. Gen Z lebih memilih mencari pengalaman lewat jalur lain yang setidaknya tetap menghasilkan, seperti freelance atau proyek lepas yang dibayar.
6. Pekerja korporat tanpa jenjang karier

Terakhir, ada pekerjaan kantoran dengan posisi semacam koordinator atau associate yang kelihatannya keren di kertas, tapi tidak punya arah jelas. Melansir Newsweek, peran korporat yang terlalu kaku dan kurang fleksibel mulai ditinggalkan karena dianggap tidak sejalan dengan gaya kerja Gen Z yang lebih mengutamakan keseimbangan hidup.
Mengutip Trynavi, masalah utamanya bukan cuma soal kekakuan, tapi juga ketiadaan jenjang karier yang jelas. Banyak yang merasa cuma kerja serabutan buat atasan, tanpa tahu kapan bakal naik posisi atau dapat tanggung jawab yang lebih besar. Daripada menunggu promosi yang tidak pasti, Gen Z lebih memilih aktif mencari peluang sendiri di tempat lain.
Nah, itulah pembahasan mengenai 6 jenis pekerjaan yang mulai ditinggali Gen Z. Semoga bermanfaat!


















