Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AIMI Minta Tinjau Ulang Sufor di MBG, Dianggap Menabrak Aturan
Wikipedia
  • AIMI menyoroti penyediaan susu formula dalam program Makan Bergizi Gratis karena dinilai berpotensi membuka celah promosi produk pengganti ASI.
  • Menurut AIMI, dukungan lintas sektor diperlukan agar target menyusui hingga dua tahun dapat terwujud bagi setiap ibu dan anak.
  • Penyediaan susu formula di menu MBG dikhawatirkan menambah hambatan perjuangan penggiat ASI serta berpotensi menurunkan angka ibu menyusui.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menitikberatkan perhatian pada masalah susu formula yang ada di program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi ini bisa berpotensi menjadi celah promosi susu pengganti ASI

Setiap ibu selalu menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya. Dengan dukungan dari semua sektor terkait, terwujudnya program menyusui hingga 2 tahun pun bisa tercapai. 

Sejauh ini, perjuangan penggiat ASI sudah sulit karena bertabrakan dengan kondisi ekonomi, pendidikan, dan banyak pengaruh lainnya. Apalagi dengan tambahan penyediaan susu formula di menu MBG. 

Dalam Konferensi Pers Pekan Menyusui Dunia (PMD) 2026, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)  bertema "Perkuat yang Sudah Berjalan, Bersama AIMI Mewujudkan Keberlanjutan Menyusui" yang diselenggarakan secara daring pada Rabu, 29 Juli 2026 yang dihadiri ⁠Nia Umar, Ketua Umum AIMI Pusat dan Gina Sabrina, Divisi Advokasi AIMI Pusat mengungkap mengenai perlunya peninjauan ulang susu formula untuk menu MBG karena hal ini tentu bisa menyebabkan angka ibu menyusui bisa menurun.

Bagaimana detailnya, Popmama.com akan menjabarkannya untuk Mama. 


1. Menyoroti adanya sufor dalam menu MBG

Pexels.com/Towfiqu barbhuiya

Divisi Advokasi AIMI Pusat, Gina Sabrina, mengatakan kalau salah satu hal yang disoroti pihaknya adalah keberadaan menu sufor dalam menu MBG untuk balita. Meski pada dasarnya, penerima MBG dengan menu sufor adalah untuk bayi berumur 6 bulan ke atas. 

Menurutnya, penerima MBG bukan hanya anak sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui dan kelompok lainnya. 

"Karena perlu diingat, salah satu penerima manfaat dari program MBG itu bukan hanya siswa sekolahnya, tapi juga ibu hamil dan ibu menyusui," kata Gina dalam konferensi pers AIMI dalam rangka Pekan Menyusui Dunia 2026 secara daring. 

2. Telah melakukan audiensi ke DPR

Ibu menyusui - Pexels/Jonathan Borba

Bukan hanya menyarankan, namun AIMI juga telah melakukan audiensi ke DPR bersama Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak untuk membahas program tersebut. 

Gina melanjutkan, pemberian produk pengganti ASI secara massal melalui program pemerintah bisa membentuk persepsi kalau produk tersebut direkomendasikan pemerintah. 

3. Kekhawatiran bisa menggeser keutamaan ASI

Magnific.com/shurkin_son

Program MBG sudah berlangsung hampir di seluruh pelosok Indonesia. Sehingga, adanya susu kemasan dan sufor pada menu MBG untuk bayi, bisa menggeser keutamaan ASI. 

"Ketika kita menerima sebagai penerima manfaat, oh ada susu kotak nih. Oh, ini pemerintah saja pakai. Berarti bagus dong," lanjut Gina. 

4. Bisa menjadi celah untuk promosi produk pengganti ASI

Freepik.com

Di sisi lain, masifnya pemberian sufor di menu MBG pada kelompok bayi dan balita juga bisa menjadi celah untuk promosi produk pengganti ASI secara tidak etis. 

"Jadi promosi pembagian produk pengganti ASI secara massal itu sebenarnya sudah jelas menabrak aturan-aturan, baik di tingkat peraturan perundang-undangan dalam sektor kesehatan maupun dari kode sendiri," tuturnya. 

Menurut AIMI, dukungan terhadap ibu menyusui perlu dilakukan secara menyeluruh dan konsisten, termasuk melalui kebijakan pemerintah yang tidak kontraproduktif dengan upaya meningkatkan keberhasilan menyusui. 

5. Meminta pemerintah meninjau ulang

Pexels.com/Sarah Chai

AIMI menilai, pemberian susu formula tanpa indikasi medis bisa berdampak pada keberhasilan menyusui. Ia menilai, kondisi tersebut jadi kontraproduktif dengan upaya ibu, komunitas, dan kelompok masyarakat sipil yang selama ini berusaha mendukung keberhasilan menyusui. 

AIMI pun meminta pemerintah meninjau kembali menu MBG, termasuk memastikan proses penyusunannya dilakukan secara transparan dan akuntabel. 

"Rekomendasinya tentu tinjau ulang Petunjuk teknis (juknis)-nya dan menunya," tutupnya. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article