7 Cara Menyusui Bayi Baru Lahir yang Mama Harus Ketahui

Lakukan dengan tepat supaya kebutuhan nutrisi si Kecil terpenuhi

15 Mei 2019

7 Cara Menyusui Bayi Baru Lahir Mama Harus Ketahui
Freepik/Zilvergolf

Setelah melahirkan, pengalaman selanjutnya yang tak akan pernah Mama lupakan adalah saat menyusui si Kecil. Agar aktivitas baru ini bisa berjalan dengan baik, Mama perlu memahami seperti apa cara yang tepat saat menyusui bayi baru lahir.

Sebab kadang-kadang periode ini terasa lebih sulit secara praktik dibandingkan teorinya lho, Ma.

Terlebih jika tak ada dukungan yang adekuat dari pasangan dan anggota keluarga di sekitar Mama. Proses ini bisa menurunkan kepercayaan diri Mama, menurunkan produksi ASI, bahkan sampai meningkatkan risiko terjadinya baby blues syndrome.

Agar hal tersebut tak terjadi, yuk simak beberapa cara menyusui bayi baru lahir yang Mama harus ketahui berikut ini dari Popmama.com:

1. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

1. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Pixabay.com

Segera setelah lahir, bayi seharusnya bisa segera mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dengan Mama. Dikutip dari situs Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), sebagian besar bayi baru lahir bisa menyusu sendiri jika diletakkan di dada ibunya segera setelah proses melahirkan.

Riset pun menunjukkan hal ini memiliki banyak manfaat, tidak hanya untuk bayi tetapi juga untuk Mama. Alasan bahwa Mama perlu istirahat setelah melahirkan tidak bisa diterima karena sebenarnya proses ini tidak melelahkan, bahkan bisa menjadi proses pertemuan pertama kali yang indah bagi Mama, Papa dan juga buah hati tercinta.

Momen IMD juga sering dimanfaatkan oleh Papa untuk membacakan doa di telinga si Kecil. Jadi pada dasarnya, inti dari IMD ini sendiri adalah kontak kulit antara Mama dan bayi, yang kemudian disusul dengan bayi akan menyusu sendiri dan ini sangat bisa dilakukan bagi bayi yang dilahirkan dengan proses operasi caesar sekali pun.

2. Cari posisi pelekatan yang tepat

2. Cari posisi pelekatan tepat
scarymommy.com

Sebenarnya menyusui tidak menyakitkan untuk Mama, dengan catatan semua bagian puting dan sebagian areola bisa benar-benar masuk ke dalam mulut bayi (biasanya areola di bagian atas masih terlihat lebih banyak dibanding areola di bagian bawah).

Posisi pelekatan mulut bayi dengan payudara seperti ini membuat puting Mama berada dekat sekali dengan langit-langit mulut bayi yang lembut. Pada posisi ini, dagu bayi menempel pada payudara dan hidungnya akan jauh dari payudara, jadi kepala bayi seperti mendongak.

Posisi seperti ini dapat memudahkan si Kecil untuk menyusu, Ma. Selain itu, perhatikan juga posisi badan bayi. Upayakan tubuh, kepala dan pundaknya lurus menghadap Mama, sehingga perut bayi menempel ke perut atau badan Mama.

Jika perlu, gunakan bantal menyusui untuk membantu Mama menemukan posisi yang nyaman.

Intinya, posisi pelekatan yang baik adalah saat posisi ini nyaman untuk Mama dan juga bayi untuk bisa menyusui dengan lancar. Tetapi seringkali untuk mendapatkan pelekatan yang tepat ini yang menjadi sulit dan ini biasanya dikarenakan pertemuan pertama Mama dan bayi yang penuh dengan intervensi. 

3. Jangan lupakan juga kenyamanan Mama

3. Jangan lupakan juga kenyamanan Mama
idaijogja.or.id

Suasana yang tenang dan memilih tempat yang nyaman juga berperan penting saat Mama belajar menyusui di masa-masa awal setelah melahirkan.

Sayangnya, pada waktu ini seringkali terlalu banyak kerabat yang berkunjung untuk menjenguk, ya. Akibatnya waktu Mama untuk fokus belajar menyusui dan mencari posisi pelekatan yang tepat pun kadang-kadang terganggu.

Jika Mama juga mengalaminya, jangan ragu untuk menyampaikan apabila Mama sedang butuh privasi untuk menyusui terlebih dahulu. Termasuk jika Mama saat itu masih berada dalam perawatan di rumah sakit.

Prioritaskan kebutuhan si Kecil dulu supaya ikatan alias bonding pun bisa lebih cepat terjadi antara ia dan juga Mama. Kondisi seperti ini biasanya akan sangat dimaklumi oleh kerabat yang menjenguk kok, Ma.

Jika perlu buatlah pengumuman bahwa Mama bersedia menerima kunjungan setidaknya 1-2 pekan setelah melahirkan, dengan begitu Mama punya cukup waktu untuk belajar menyusui terlebih dahulu.

Editors' Picks

4. Hindari buru-buru memberikan dot

4. Hindari buru-buru memberikan dot
Pexels/Burst

Sulitnya menyusui secara lansung seringkali membuat para Mama baru panik tidak bisa memberikan ASI untuk buah hatinya dan memilih untuk menggunakan dot. Bahkan tak jarang yang memutuskan untuk memberikan susu formula.

Padahal seperti kita ketahui bersama, produksi ASI ibu yang baru melahirkan memang belum banyak. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya frekuensi si Kecil menyusui, produksi ASI pun akan semakin bertambah.

Sayangnya, hal ini seringkali diartikan bahwa ASI ibu kurang dan mulailah bayi diperkenalkan dengan cairan lain yang diberikan dengan dot. Padahal Bagaimana bayi mengisap dot berbeda dengan cara ia menyusu langsung dari payudara.

Dibutuhkan lebih banyak kerja otot di bagian kepala dan lidah bayi untuk mengeluarkan ASI pada payudara, sehingga mulut bayi perlu terbuka lebar untuk memasukkan sebagian besar areola dan seluruh puting ke mulutnya.

Sedangkan ketika mengisap botol, bayi cukup membuka mulutnya sedikit saja dan aliran isi dari botol pun mudah keluar. Hal ini membuat bayi mengenali adanya ‘aliran’ yang deras dari botol.

Pahamilah, Ma. Bayi adalah mahkluk kecil yang pintar dan cerdas. Jika mereka terbiasa mendapatkan asupan yang lebih deras dan cepat maka mereka akan meminta (melalui tangisan dan penolakan pada payudara) botol dot.

5. Tak ragu untuk berkonsultasi dengan pakar laktasi

5. Tak ragu berkonsultasi pakar laktasi
Freepik/tirachardz

Ketika Mama mengalami masalah atau hambatan saat menyusui si Kecil, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan pakar laktasi. Para pakar ini akan membantu Mama mendapatkan posisi pelekatan yang tepat, mencarikan posisi nyaman untuk Mama, serta membantu mengatasi masalah menyusui lainnya.

Selain di rumah sakit ibu dan anak, pakar laktasi kini juga banyak yang sudah membuat klinik mandiri, Ma.

Jika perlu, ajak juga suami atau anggota keluarga lain untuk mendampingi. Sebab diperlukan dukungan dari orang-orang di sekitar Mama juga untuk melancarkan proses menyusui.

Baca juga:

Bisa Meningkatkan Produksi ASI, Apa Itu Pijat Laktasi?

ASI Terhenti atau Tak Lancar? Terapkan Proses Relaktasi!

6. Kenali kebiasaan menyusu bayi

6. Kenali kebiasaan menyusu bayi
Pixabay/smpratt90

Sedikit demi sedikit Mama akan mulai mengenali kebiasaan menyusui si Kecil. INgat ya, Ma, hindari membatasi waktu menyusu dan frekuensi menyusui.

Seringkali ada informasi yang menyatakan bahwa bayi harus menyusu minimal dalam interval 2 sampai 3 jam. Atau informasi lain yang menyebutkan bahwa apabila setiap jam bayi ingin menyusu, itu adalah pertanda bayi manja.

Menurut AIMI, kedua informasi ini hanya mitos dan merupakan kesalahpahaman yang cukup fatal, Ma. Sangat wajar jika pada saat baru dilahirkan bayi mungkin akan lebih sering menyusu. Sebab ia pun juga masih dalam tahap belajar untuk bisa mendapatkan posisi menyusu yang nyaman.

Bayi yang melekat dengan baik pada payudara tidak akan menghabiskan waktu berjam-jam di payudara dalam satu sesi menyusu. Maka jika dia menyusu pada satu payudara berjam-jam lamanya, maka itu salah satu pertanda bahwa pelekatannya tidak baik atau ia tidak mendapatkan cukup pasokan ASI.

7. Jangan pernah menyerah

7. Jangan pernah menyerah
Freepik/yanalya

Ingatlah bahwa sebesar apapun masalah yang Mama hadapi pada tahap awal menyusui si Kecil, jangan pernah menyerah dengan keadaan. Percaya bahwa setiap hambatan pasti ada solusinya.

Tak perlu mendengar komentar pedas atau kritik dari orang lain yang sifatnya tidak membangun atau justru hanya membuat Mama jadi terpuruk.

Sebaliknya, kelilingi diri dengan orang-orang yang selalu mendukung. Termasuk cari waktu untuk rutin berkonsultasi dengan pakar laktasi.

Dengan begitu, proses menyusui pun akan berjalan lebih lancar dan bisa dilewati dengan baik. Tetap mencoba dan berusaha ya, Ma!

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!