Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Ibu dengan TBC Tetap Boleh Menyusui? Simak Faktanya
Magnific.com
  • TBC terutama menular melalui udara, bukan ASI; ibu perlu menjalani pengobatan, memakai masker, menerapkan etika batuk, dan menjaga ventilasi saat kontak dekat dengan bayi.
  • Ibu yang menjalani pengobatan TBC lini pertama umumnya tetap dapat menyusui karena kadar obat dalam ASI rendah, tetapi tidak cukup untuk melindungi atau mengobati bayi.
  • Bayi yang sering berkontak dengan ibu penderita TBC perlu diperiksa dan mungkin mendapat terapi pencegahan; menyusui langsung dapat ditunda bila TBC aktif belum diobati sesuai anjuran dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi yang dapat menimbulkan kekhawatiran bagi Mama yang sedang menyusui. Mama mungkin bertanya-tanya apakah kondisi tersebut membuat pemberian ASI harus dihentikan demi menjaga kesehatan si Kecil.

Padahal, TBC tidak perlu membuat Mama harus berhenti menyusui. Bagaimana dengan pemberian ASI jika seorang ibu mengalami TBC dan apa saja yang perlu diperhatikan? Berikut Popmama.com rangkum informasinya.

TBC Lebih Berisiko Menular lewat Udara, Bukan ASI

Magnific.com/Wiroj Sidhisoradej

Tinjauan ilmiah dalam International Journal of Tuberculosis and Lung Disease menyebutkan bahwa risiko penularan TBC melalui ASI sangat kecil. Sebagian besar obat TBC yang umum digunakan juga hanya masuk ke dalam ASI dalam jumlah rendah.

Penyakit ini lebih sering menular melalui udara saat seseorang dengan TBC aktif batuk, berbicara, atau bernyanyi. Karena itu, risiko utama bagi bayi berasal dari paparan udara saat kontak dekat dengan ibu yang masih menular. Penting bagi Mama untuk menjalani pengobatan, menggunakan masker, menerapkan etika batuk dan memastikan ventilasi ruangan baik.

Pengobatan TBC Bukan Berarti Harus Berhenti Menyusui

Magnific.com

Ibu menyusui yang sedang menjalani pengobatan TBC lini pertama pada umumnya tetap dapat menyusui. Kandungan obat yang masuk ke dalam ASI biasanya sangat rendah sehingga tidak menyebabkan toksisitas pada bayi, tetapi jumlah tersebut juga tidak cukup untuk mengobati TBC aktif maupun infeksi TBC laten pada si Kecil.

Meski begitu, bayi tetap perlu mendapatkan pemeriksaan dan menjalani terapi pencegahan TBC sesuai anjuran dokter. Perlu diketahui bahwa konsumsi obat TBC oleh ibu tidak otomatis melindungi bayi dari infeksi hanya karena bayi mendapatkan ASI.

Kalau TBC Aktif Belum Diobati, Menyusui Langsung Bisa Ditunda Sementara

Magnific.com

Jika seorang ibu menyusui mengalami TBC aktif tetapi belum menjalani pengobatan, pemberian ASI secara langsung dapat ditunda sementara sesuai kondisi dan anjuran dokter. Ada juga beberapa pedoman kesehatan memiliki rekomendasi yang berbeda, sehingga keputusan untuk melanjutkan atau menunda menyusui perlu disesuaikan dengan kondisi ibu dan bayi. 

Agar tidak salah langkah, Mama sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan cara menyusui yang paling aman bagi diri sendiri dan si Kecil.

Bayi Tetap Perlu Mendapatkan Pemeriksaan

Magnific.com

Mengutip panduan WHO, bayi yang sering berkontak dekat dengan ibu yang mengalami TBC perlu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kemungkinan terpapar atau terinfeksi. Jika bayi sehat dan TBC aktif sudah disingkirkan, dokter dapat mempertimbangkan terapi pencegahan, terutama karena sistem kekebalan bayi masih berkembang.

Hal ini bukan berarti ASI berbahaya, ya, Ma, tetapi paparan dekat dengan sang Ibu yang masih menular tetap perlu diperhatikan. WHO juga menyebutkan bahwa vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin), yang berfungsi membantu mencegah penyakit TBC pada anak, dalam kondisi tertentu dapat ditunda hingga proses evaluasi atau terapi pencegahan selesai.

Obat TBC Umumnya Aman saat Menyusui, tetapi Bayi Tetap Perlu Dipantau

Magnific.com

Obat TBC seperti isoniazid dan rifampisin umumnya tetap dapat digunakan saat menyusui karena hanya masuk ke dalam ASI dalam jumlah rendah. Isoniazid juga biasanya disertai anjuran konsumsi vitamin B6 untuk ibu menyusui.

Meski begitu, bayi tetap perlu dipantau terhadap kemungkinan efek samping, seperti kuning atau jaundice. Kadar obat yang masuk ke ASI juga tidak cukup untuk mengobati TBC pada bayi, sehingga si Kecil tetap memerlukan pemeriksaan dan penanganan sesuai anjuran dokter.

Memiliki TBC bukan berarti Mama harus langsung berhenti menyusui si Kecil. Mama tetap boleh menyusui, tetapi kondisi setiap ibu dan bayi bisa berbeda sehingga penting untuk memperhatikan risiko penularan, pengobatan yang dijalani, serta kondisi kesehatan bayi. 

Jika Mama sedang mengalami TBC dan masih ragu untuk menyusui, jangan khawatir dan konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter agar mendapat penanganan yang paling aman.

Curated For You

Editorial Team

Related Article