- ada yang tetap sehat karena sistem imunnya mampu mengendalikan bakteri,
- ada yang mengalami infeksi tuberkulosis laten (TB laten),
- ada yang berkembang menjadi sakit TBC aktif.
Anak Tak Bergejala Bukan Berarti Aman dari TBC, Ini Penjelasan Dokter

- Anak yang tinggal serumah dengan penderita TBC tetap berisiko terinfeksi meski tampak sehat, karena bakteri bisa masuk tanpa menimbulkan gejala awal.
- Setelah terpapar TBC, anak bisa tetap sehat, mengalami infeksi laten tanpa gejala, atau berkembang menjadi TBC aktif yang memerlukan pengobatan segera.
- Pemeriksaan dini dan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) penting dilakukan pada anak yang kontak erat agar infeksi tidak berkembang menjadi penyakit aktif.
Ketika ada anggota keluarga yang didiagnosis tuberkulosis (TBC), banyak yang langsung fokus pada pengobatan pasien. Padahal, ada satu hal penting yang sering terlewat, yaitu kondisi anak-anak yang tinggal serumah.
Tidak sedikit orangtua merasa tenang karena Si Kecil terlihat sehat, aktif bermain, dan tidak mengalami batuk berkepanjangan.
Sayangnya, kondisi tersebut belum tentu menandakan anak benar-benar bebas dari infeksi TBC.
Menurut dokter spesialis anak, dr. Nunki Andria, Sp.A, melalui edukasi di akun Instagram @dr.nunki, anak yang tinggal satu rumah dengan penderita TBC memiliki risiko tertular bakteri penyebab penyakit tersebut, meskipun belum menunjukkan gejala apa pun.
Bahkan, ada kondisi yang disebut infeksi tuberkulosis laten (TB laten), yaitu ketika bakteri sudah masuk ke dalam tubuh, tetapi belum menyebabkan sakit.
Kondisi ini justru perlu dikenali sejak dini agar tidak berkembang menjadi TBC aktif di kemudian hari. Berikut penjelasannya telah Popmama.com rangkum. Yuk, simak!
1. Anak yang tinggal serumah dengan penderita TBC belum tentu langsung sakit

Ketika ada anggota keluarga yang didiagnosis menderita tuberkulosis (TBC), tidak semua orang yang tinggal serumah akan langsung mengalami penyakit yang sama.
Menurut dr. Nunki Andria, Sp.A, bakteri TBC menyebar melalui droplet yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.
Droplet tersebut kemudian dapat terhirup oleh orang-orang yang berada di sekitarnya, terutama mereka yang tinggal dalam satu rumah karena intensitas paparannya lebih lama.
Meski demikian, setelah terpapar bakteri TBC, kondisi setiap orang bisa berbeda-beda:
Perbedaan ini dipengaruhi oleh daya tahan tubuh, usia, status gizi, hingga seberapa lama seseorang terpapar bakteri.
Inilah alasan mengapa anak yang tinggal serumah dengan penderita TBC tetap perlu menjalani pemeriksaan, meskipun terlihat sehat.
Mama sebaiknya jangan menunggu sampai muncul gejala karena proses infeksi bisa berlangsung tanpa disadari. Semakin cepat anak diperiksa, semakin besar peluang untuk mencegah penyakit berkembang menjadi TBC aktif.
2. Setelah terpapar TBC, ada tiga kemungkinan yang dapat terjadi pada anak

Menurut penjelasan dr. Nunki Andria, Sp.A, ada tiga kondisi yang mungkin terjadi setelah seseorang menghirup bakteri tuberkulosis dari penderita TBC aktif.
Kemungkinan pertama adalah anak tetap sehat. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh berhasil melawan bakteri sehingga infeksi tidak terjadi.
Anak tidak membutuhkan pengobatan khusus, tetapi tetap perlu dipantau apabila masih tinggal bersama penderita yang belum menjalani pengobatan hingga tuntas.
Kemungkinan kedua adalah anak mengalami TB laten atau infeksi tuberkulosis.
Pada tahap ini, bakteri TBC sudah masuk ke dalam tubuh, tetapi masih berada dalam kondisi tidur. Anak tidak mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, atau berat badan turun.
Hasil pemeriksaan Mantoux Test atau IGRA biasanya menunjukkan hasil positif, tetapi anak tidak menularkan penyakit kepada orang lain karena bakterinya belum aktif.
Kemungkinan ketiga adalah anak mengalami sakit TBC aktif.
Artinya, bakteri sudah berkembang biak dan menyebabkan gangguan pada tubuh. Anak bisa mengalami batuk lebih dari dua minggu, demam yang berlangsung lama, berat badan sulit naik atau justru menurun, nafsu makan berkurang, serta tampak lemas.
Kondisi inilah yang perlu segera mendapatkan pengobatan agar tidak menimbulkan komplikasi maupun menularkan penyakit kepada orang lain.
3. Balita sering kali tidak menunjukkan gejala meski sudah terinfeksi

Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi TBC pada anak adalah gejalanya yang sering kali tidak terlihat.
Bahkan, menurut dr. Nunki Andria, banyak balita yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sakit meskipun sudah terinfeksi bakteri TBC. Hal ini membuat orangtua merasa anak baik-baik saja karena masih aktif bermain, makan seperti biasa, dan tidak batuk.
Padahal, bakteri bisa saja sudah berada di dalam tubuh. Jika tidak diketahui sejak dini, bakteri tersebut berisiko berkembang menjadi penyakit TBC aktif ketika daya tahan tubuh anak menurun.
Karena itu, riwayat kontak erat jauh lebih penting daripada menunggu gejala muncul.
Anak yang tinggal serumah dengan penderita TBC aktif sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan evaluasi sesuai usia dan kondisinya.
Dokter akan menentukan apakah anak memerlukan pemeriksaan lanjutan, seperti Mantoux Test atau IGRA, maupun pemeriksaan lainnya untuk memastikan apakah sudah terjadi infeksi atau belum.
Deteksi dini menjadi langkah penting agar anak memperoleh penanganan yang tepat sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.
4. Anak yang tidak bergejala bisa memerlukan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT)

Anak yang belum menunjukkan gejala pun bisa memerlukan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) agar infeksi tidak berkembang menjadi penyakit TBC aktif.
TPT diberikan kepada kelompok anak yang berisiko tinggi setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter.
Misalnya, seluruh balita yang memiliki riwayat kontak serumah dengan penderita TBC aktif meskipun tidak bergejala.
Selain itu, anak berusia di atas 5 tahun yang hasil Mantoux Test atau IGRA menunjukkan positif tetapi tidak memiliki gejala TBC juga dapat menjadi kandidat untuk mendapatkan terapi ini.
Tujuan TPT adalah membunuh bakteri TBC yang masih berada dalam fase tidak aktif sehingga tidak berkembang menjadi penyakit di kemudian hari.
Dengan kata lain, terapi ini merupakan langkah pencegahan, bukan pengobatan untuk TBC aktif. Melalui TPT, risiko anak mengalami TBC di masa mendatang dapat berkurang secara signifikan.
Biasanya, orangtua yang baru membawa anak ke dokter ketika sudah muncul batuk berkepanjangan, demam, atau berat badan menurun.
Padahal, saat gejala tersebut muncul, bisa jadi infeksi sudah berkembang menjadi penyakit TBC aktif. Karena itu, pemeriksaan setelah kontak erat menjadi langkah yang tidak boleh dilewatkan, meskipun anak tampak sehat.
5. Segera periksakan anak setelah kontak erat dengan penderita TBC

Apabila ada anggota keluarga yang didiagnosis menderita TBC aktif, jangan menunggu hingga anak mulai batuk atau mengalami keluhan lain.
Langkah terbaik adalah segera membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk menjalani skrining sesuai anjuran tenaga medis.
Dokter akan melakukan penilaian berdasarkan usia anak, lama kontak dengan penderita, kondisi kesehatan, serta hasil pemeriksaan yang diperlukan.
Pada sebagian anak, dokter mungkin akan menyarankan Mantoux Test atau IGRA untuk melihat apakah sudah terjadi infeksi tuberkulosis.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan anak mengalami TB laten atau termasuk kelompok yang memerlukan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), pengobatan sebaiknya dijalani hingga tuntas sesuai anjuran dokter.
Itulah sebabnya, anak yang tinggal serumah dengan penderita TBC tidak boleh hanya dinilai dari ada atau tidaknya gejala.
Pemeriksaan setelah kontak erat dan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bila diperlukan merupakan langkah penting untuk melindungi anak dari penyakit TBC yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini.
Itulah penjelasan mengenai risiko yang bisa terjadi ketika anak tinggal serumah dengan penderita TBC. Meski Si Kecil terlihat aktif, ceria, dan tidak menunjukkan gejala apa pun, bukan berarti ia terbebas dari infeksi tuberkulosis ya, Ma!

















