Perlukah Menggunting Vagina (Episiotomi) saat Melahirkan?

Episiotomi hanya dilakukan saat proses persalinan normal melalui vagina

12 Februari 2019

Perlukah Menggunting Vagina (Episiotomi) saat Melahirkan
Unsplash/Patricia Prudente

Setiap persalinan tentu memiliki cerita tersendiri, tak jarang ada yang merasa kesulitan dan proses persalinan menjadi lama karena jalan lahir bayi tidak terbuka lebar. Untuk mengatasi masalah ini, episiotomi perlu dilakukan agar mampu membantu proses persalinan. 

Episiotomi adalah pembedahan di daerah otot antara vagina dan anus (perineum) berguna dalam memperbesar lubang vagina, sehingga jalannya lahir bayi menjadi lebih terbuka pada saat proses persalinan secara normal berlangsung. Tindakan medis yang dilakukan dokter atau bidan ini tentunya dapat membantu proses persalinan berjalan dengan lancar. 

Saat episiotomi dilakukan, dokter akan memberikan suntikan bius lokal agar membuat bagian yang disuntik bisa mati rasa. Tak jarang tindakan episiotomi dapat membantu mencegah vagina robek lebih besar saat proses persalinan terjadi.  

Episiotomi sendiri perlu sekali melakukan prosedur yang benar karena tindakan ini hanya dilakukan saat proses persalinan normal melalui vagina. Itu berarti, bila melakukan proses persalinan secara caesar tidak memerlukan tindakan episiotomi. 

Untuk Mama yang ingin mengetahui informasi lebih mengenai episiotomi selama proses persalinan normal. Yuk Ma, baca beberapa penjelasan dari Popmama.com mengenai episiotomi kali ini! 

1. Kondisi kehamilan yang membutuhkan bantuan episiotomi

1. Kondisi kehamilan membutuhkan bantuan episiotomi
Unsplash/Devon Divine

Mungkin Mama setuju dengan beberapa pendapat dari ibu hamil lainnya kalau ingin mengalami vagina robek secara alami, namun ada juga kondisi persalinan yang menyulitkan.

Hal inilah yang membuat proses persalinan perlu dibantu dengan episiotomi untuk memperluas pembukaan vagina, sehingga kepala bayi lebih mudah keluar. Beberapa kondisi yang perlu didorong serta dibantu penuh untuk melakukan episiotomi agar tetap dapat melahirkan secara normal, seperti:

  • Bayi mengalami posisi sungsang 

Penyebab posisi bayi mengalami sungsang dikarenakan oleh beberapa kondisi seperti bentuk rahim yang kurang sempurna, volume air ketuban yang terlalu sedikit, ukuran panggul yang terlalu sempit hingga sedang mengandung anak kembar. Tanpa disadari, kondisi-kondisi yang terjadi di dalam perut dapat membuat posisi bayi mengalami perubahan atau sungsang.

  • Mengalami kesulitan saat proses persalinan 

Setiap calon Mama tentu memiliki momen persalinan yang berbeda-beda. Tak jarang ada juga yang mengalami kesulitan, sehingga membutuhkan proses persalinan dengan durasi cukup lama. Untuk mempermudah proses persalinan, vagina akan diperluas agar jalan keluarnya bayi bisa terbuka lebih lebar dengan bantuan episiotomi. 

  • Waktu lahir yang sudah dekat, namun perineum belum terbuka

Perineum adalah area kulit antara vagina dengan anus yang dapat robek secara alami ketika melahirkan atau secara segaja digunting untuk membantu melebarkan jalan keluar bayi. Bila ibu hamil memiliki masalah kesehatan serius seperti penyakit jantung, ada baiknya untuk secepat mungkin melakukan persalinan. Tujuanya agar terhindari dari berbagai risiko kesehatan yang lebih serius. 

  • Bayi sangat besar melebihi ukuran normal

Bayi dengan kondisi berat badan sangat besar berisiko menimbulkan proses persalinan yang cukup lama. Padahal perlu sekali segera dilahirkan secepat mungkin bila sudah waktunya. Kondisi ini dapat menyebabkan gawat janin yang memicu denyut jantung bayi tidak stabil. Untuk itu, bayi perlu dilahirkan secepat mungkin agar dirinya tetap bisa diselamatkan. 

Baca juga: Fakta Menarik Tentang Bayi Sungsang Saat Hamil Tua

Editors' Picks

2. Efek samping persalinan dibantu dengan tindakan episiotomi

2. Efek samping persalinan dibantu tindakan episiotomi
Unsplash/rawpixel

Tindakan episiotomi sebenarnya tidak wajib dilakukan saat proses persalinan, ada baiknya robekan terjadi secara spontan, alami dan tentunya ringan.

Robekan akibat tindakan episiotomi yang cukup besar dapat membuat proses penyembuhannya lebih lama. Selain itu, Mama juga perlu diketahui kalau episiotomi bisa memicu terjadi komplikasi, seperti: 

  • Meningkatkan resiko terjadinya infeksi.
  • Terjadi inkontinensia anus, sehingga tidak mampu mengontrol keluarnya feses. 
  • Proses penyembuhan biasanya lebih terasa nyeri dan lama dibandingkan robekan secara alami tanpa tindakan episiotomi. 
  • Merasa nyeri saat berhubungan seksual selama beberapa bulan setelah melahirkan dengan bantuan tindakan episiotomi.  
  • Bila sudah melakukan tindakan episiotomi sebelumnya, maka ada kemungkinan robekan berikutnya lebih besar dan membutuhkan waktu yang lama ketika melalui proses pemulihan. 

Untuk mengurangi komplikasi yang terjadi akibat tindakan episiotomi, Mama perlu mengetahui cara tepat untuk mempercepat proses penyembuhannya.

Jangan sampai terlalu lama menunda pemulihan luka usai tindakan episiotomi karena dapat mengganggu rutinitas keseharian menjadi tidak nyaman. 

3. Proses pemulihan pasca episiotomi

3. Proses pemulihan pasca episiotomi
Freepik/bearfotos

Saat menjalani persalinan dengan proses episiotomi atau mengalami vagina robek secara alami, Mama tentu akan membutuhkan beberapa waktu untuk istirahat untuk proses pemulihan. 

Episiotomi umumnya meninggalkan rasa sakit selama beberapa minggu. Apalagi bila luka sayatan atau robek pasca episiotomi sangat panjang, butuh beberapa minggu untuk melakukan pemulihan. 

Tak jarang rasa sakit ini akan muncul ketika sedang berjalan, duduk atau buang air kecil. Untuk itu, perlu sekali mengurangi rutinitas keseharian agar mampu memperlancar proses penyembuhan pasca episiotomi. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meredakan nyeri atau mempercepat proses pemulihan, seperti:

  • Meringankan rasa nyeri sekaligus mencegah pembengkakan dengan menerapkan kompres es pada luka. 
  • Berhati-hatilah saat duduk. Bila masih terasa sakit, usahakanlah untuk duduk di atas bantal atau tempat yang empuk. 
  • Konsumsi obat sesuai resep dokter yang membantu dalam meredakan rasa nyeri dan mampu melunakkan feses, sehingga tidak memberikan rasa sakit saat buang air besar. 
  • Selalu rutin membilas kemaluan dengan air hangat setelah buang air kecil. Lalu keringkan dengan cara menepuknya secara perlahan dengan handuk kering. 
  • Biarkan bekas jahitan terpapar udara. Sesekali lepaskan celana dalam dan tengkuraplah di atas tempat tidur. Lakukan ini setidaknya 10 menit, satu atau dua kali sehari. 
  • Pasca episiotomi umumnya dibutuhkan waktu sekitar 4-6 minggu sebagai fase pemulihan. Pastikan untuk benar-benar sembuh, baru bisa berhubungan seksual dengan pasangan. 
  • Melakukan gerakan ringan dengan latihan panggul. Latihan ini dapat membantu dalam menguatkan otot-otot di sekitar vagina. Namun, tetaplah berhati-hati agar luka pasca episiotomi tidak mengalami infeksi. 

Bila rasa nyeri tidak kunjung hilang pada luka apalagi disertai dengan demam atau luka mengeluarkan nanah, ada baiknya untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Lakukan ini segera mungkin untuk meminimalisir terjadinya tanda-tanda infeksi. 

Itulah beberapa informasi mengenai episiotomi, menggunting vagina pada saat persalinan normal. Semoga informasi ini bisa bermanfaat ya, Ma!

Baca juga: Cara Menghindari Robekan pada Vagina Saat Melahirkan

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!