Tidak banyak yang memerhatikan masalah menyusui sebelum melahirkan. Padahal, mengetahui ilmu tentang menyusui saat hamil dan setelah melahirkan bisa melancarkan proses menyusui jadi lebih mulus.
Kebanyakan orang sibuk fokus pada persalinan dan baru mencari tahu tentang menyusui setelah melahirkan. Padahal, dibutuhkan persiapan yang matang untuk menghadapi fase yang baru.
Konseling menyusui biasa dilakukan sesaat setelah melahirkan. Sedangkan, prosesnya sebaiknya dilakukan sebelum melahirkan, dan setelah melahirkan, bahkan sampai seminggu atau sebulan setelah melahirkan, jika diperlukan.
Faktanya, konseling menyusui saat hamil dan setelah melahirkan bisa meningkatkan angka keberhasilan ASI eksklusif hingga 50%, lho. Seperti apa faktanya? Popmama.com akan merangkumkannya untuk Mama.
Konseling Menyusui Meningkatkan Angka ASI Eksklusif Sebesar 50%

1. Keberhasilan ASI eksklusif dari konseling laktasi
Menurut data dari IDAI, keberhasilan ASI eksklusif memiliki banyak faktor. Pertama, dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah. Lalu, ilmu yang mumpuni untuk menyusui secara tepat dan nyaman, dari awal mulai menyusui.
Untuk mendapatkan ilmu tersebut, para Mama bisa mendapatkannya dari banyak sumber, mulai dari sosial media hingga tenaga profesional. Faktanya, konseling laktasi menyumbang angka keberhasilan ASI eksklusif, lho.
"Konseling laktasi pada prenatal dan postnatal menaikkan angka keberhasilan ASI eksklusif sebesar 50%," ungkap Ketua Satgas ASI IDAI Dr. dr. Naomi Esthernita F.D., Sp.A, Subsp.Neo.(K), dalam acara Puncak Perayaan Pekan ASI Sedunia 2026 di RSUI, Depok, Sabtu (8/8/2026).
2. Siapa saja yang butuh konseling laktasi?
Konseling laktasi prenatal bisa dilakukan oleh para bidan dan obgyn untuk persiapan yang matang.
"Jadi dokter kandungan juga bisa memberikan informasi yang berguna untuk calon ibu menyusui," kata dr Naomi.
Selama ini, konseling laktasi hanya difokuskan untuk para ibu saja. Padahal, semua orang juga memiliki kebutuhan yang sama untuk mendapatkan ilmu tentang menyusui.
"Siapa saja yang perlu mendapatkan ilmu ini? Pasangan, orangtua, dan mereka yang akan membantu sang ibu," lanjut dr Naomi.
3. Pengetahuan konseling yang melancarkan ASI eksklusif
Jika hanya sang ibu yang mendapatkan konseling, maka sulit mewujudkan keberhasilan ASI ekslusif, terlebih di awal kehidupan bayi. Hal ini disebabkan karena ia tidak mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk melakukan proses ASI eksklusif.
"Maka dari itu, suaminya, ibunya, mertuanya juga harus tahu kalau ASI tidak langsung mancur setelah melahirkan, butuh waktu dulu, dibutuhkan pelekatan yang tepat dan itu butuh waktu juga, kalau tahu ilmunya, maka tidak mudah menyuruh memberikan sufor," lanjut dr Naomi.
Dengan ilmu yang didapatkan, pasangan dan orang tua bisa memahami apa yang sedang terjadi dan tidak menyudutkan ibu yang baru bersalin.
4. Faktor keberhasilan lainnya
Selain konseling laktasi, keberhasilan pemberian ASI eksklusif juga didapatkan dari faktor lain. Seperti contoh, cuti melahirkan mampu menaikkan tingkat keberhasilan hingga 52%.
"Cuti internal berbayar meningkatkan angka keberhasilan ASI eksklusif juga," ujar dr Naomi.
Selain itu, kebijakan dari pemerintah seperti kewajiban menyusui eksklusif selama 6 bulan juga memengaruhi.
"Kebijakan dari pemerintah dan gaungan dari media mampu meningkatkan angka keberhasilan ASI eksklusif sebesar 17%," lanjutnya.
5. Kebutuhan konseling laktasi masuk dalam fasilitas kesehatan
Sampai saat ini, konseling laktasi masih belum masuk dalam fasilitas kesehatan yang dicover BPJS. Sehingga, para ibu yang butuh dengan konseling tersebut harus menyisihkan dana khusus.
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menilai, dukungan untuk konseling laktasi seharusnya dapat diakses secara lebih mudah, termasuk oleh ibu yang memiliki keterbatasan biaya.
"Bagaimana konseling menyusui dan perawatan laktasi ini bisa masuk ke dalam BPJS," kata Divisi Advokasi AIMI Pusat, Gina Sabrina dalam konferensi pers AIMI dalam rangka Pekan Menyusui Dunia 2026 secara daring beberapa waktu lalu.
Apakah konseling laktasi ini bisa masuk dalam fasilitas BPJS? Dengan usaha yang tepat, kemungkinan itu bisa terjadi.
"BPJS saat ini kan berfokus pada penyakit. Tapi hamil dan melahirkan kan bukan penyakit. Dan itu bisa (masuk dalam cover BPJS). Bagaimana dengan konseling laktasi? Tentu kita harus mendorong bahwa ASI itu sebuah kebutuhan, bahwa ASI itu kewajiban yang harus diberikan ke bayi," ujar Direktur RSUI, dr. Ari Kusuma Januarto, Sp.OG., Subsp.Obginsos dalam acara Puncak Perayaan Pekan ASI Sedunia 2026 di RSUI, Depok.
Jadi, semua masih bisa diusahakan, ya!
Curated For You
- Demi Kesejahteraan Ibu, AIMI Harap Konseling Menyusui ditanggung BPJS01 Agu 2026, 06:00 WIB
- Arus Balik Jadi Nyaman, Kemendukbangga Sediakan Ruang Laktasi & Konseling25 Mar 2026, 07:02 WIB
- Komunitas Konseling Menyusui Gelar Memberikan ASI Bersama-sama07 Agu 2019, 10:00 WIB