- Efek kumulatif: Semakin sering operasi caesar dilakukan (terutama 3 kali atau lebih), area bekas luka tersebut akan semakin menipis karena jaringan otot sehat digantikan oleh jaringan ikat.
- Jarak kehamilan: Banyak jurnal kesehatan menyarankan jarak ideal antar kehamilan pasca-caesar adalah 18–24 bulan. Jarak yang terlalu dekat (<6-12 bulan) membuat jaringan parut belum pulih sempurna dan belum cukup kuat untuk menahan beban regangan pada kehamilan berikutnya.
Risiko Melahirkan Jarak Dekat seperti Lesti Kejora, Rahim Bisa Robek

- Lesti Kejora melahirkan anak ketiganya lewat operasi caesar, dan dokter memperingatkan agar tidak hamil lagi karena rahimnya sudah menipis akibat prosedur berulang.
- Penipisan rahim meningkatkan risiko serius seperti ruptur uteri atau robeknya rahim, yang dapat menyebabkan perdarahan hebat dan bahaya bagi ibu serta bayi.
- Operasi caesar berulang juga memicu komplikasi lain seperti plasenta previa, plasenta akreta, dan adhesi yang membuat operasi berikutnya lebih sulit dan berisiko tinggi.
Lesti Kejora baru saja melahirkan anak ketiganya pada Senin, 23 Februari 2026. Di vlog melahirkan itu, dokter yang menangani persalinan Lesti Kejora memperingatkan agar ia tidak hamil lagi alias cukup di tiga anak saja.
Alasannya bukan hanya soal psikologis, karena dokter menyebut kalau rahim Lesti Kejora sudah tipis. Sebagai informasi, Lesti melahirkan semua anaknya melalui operasi caesar.
Namun, di persalinan ketiganya ini mendapatkan peringatan dari dokter karena kondisi rahim yang menipis memang menjadi perhatian medis yang serius. Secara klinis, kondisi ini dikenal dalam literatur kesehatan sebagai thinning of the uterine scar atau penipisan jaringan parut rahim.
Berikut Popmama.com rangkum penjelasan jurnal kesehatan dan medis mengenai risiko melahirkan jarak dekat seperti Lesti Kejora.
1. Mengapa rahim bisa menipis?

Dokter yang menangani Lesti Kejora memperingatkan agar penyanyi kelahiran xx itu tidak lagi hamil dan melahirkan. Ia menyebut jika kondisi rahim Lesti sudah menipis sehingga meningkatkan risiko medis yang lebih besar.
Sebagai informasi, setiap kali operasi caesar dilakukan, dokter membuat sayatan pada otot rahim (myometrium). Luka ini akan sembuh dan membentuk jaringan parut (scar tissue). Berbeda dengan otot rahim asli yang elastis, jaringan parut ini lebih kaku dan cenderung lebih tipis. Adapun risikonya:
2. Risiko utama: Ruptur uteri (robeknya rahim)

Ini adalah risiko yang paling dikhawatirkan oleh dokter kandungan. Ketika dinding rahim sudah sangat tipis maka rahim berisiko robek secara spontan. Dikutip dari Healthline, rahim robek adalah komplikasi persalinan yang jarang terjadi namun sangat serius, yang dapat terjadi selama proses melahirkan terutama pervaginam.
Kondisi ini menyebabkan rahim ibu robek sehingga bayinya tergelincir ke dalam rongga perut. Hal ini dapat memicu perdarahan hebat pada ibu dan dapat menyebabkan bayi kekurangan oksigen (mati lemas).
Hal ini dialami oleh kurang dari 1% ibu hamil di Amerika Serikat. Ruptur uteri hampir selalu terjadi pada perempuan yang memiliki jaringan parut pada rahim akibat persalinan caesar sebelumnya atau operasi rahim lainnya. Risiko seorang ibu hamil terkena ruptur uteri akan meningkat pada setiap prosedur operasi caesar yang dijalani.
3. Komplikasi plasenta previa

Dikutip dari Healthline, kondisi plasenta previa terjadi ketika plasenta menempel di bagian terendah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh leher rahim (serviks). Salah satu faktor risiko utama adalah adanya jaringan parut (scar) pada rahim akibat operasi caesar sebelumnya atau prosedur bedah rahim lainnya.
Apa hubungannya dengan rahim tipis? Area rahim yang memiliki jaringan parut tidak memiliki suplai darah yang sebaik otot rahim yang sehat. Akibatnya, plasenta mungkin menempel di area yang lebih rendah (area serviks) untuk mencari nutrisi, atau justru menempel tepat di atas jaringan parut yang tipis tersebut.
Gejala utamanya adalah perdarahan vagina tanpa rasa sakit pada trimester kedua atau ketiga. Jika tidak ditangani, dapat menyebabkan perdarahan hebat saat persalinan karena plasenta menghalangi jalan lahir.
4. Placenta akreta (plasenta menempel terlalu dalam)

Ini adalah kondisi yang lebih berbahaya dan sering dikaitkan dengan rahim yang menipis akibat operasi caesar berkali-kali. Menurut Healthline, plasenta akreta terjadi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam ke dalam dinding rahim. Normalnya, plasenta akan terlepas dengan mudah setelah bayi lahir, namun pada kondisi ini, plasenta tetap menempel kuat.
Pada ibu hamil dengan riwayat caesar berkali-kali, lapisan rahim (endometrium) di area bekas luka menjadi sangat tipis atau bahkan hilang. Tanpa lapisan pelindung yang cukup, plasenta dapat menembus langsung ke dalam otot rahim (myometrium).
Tingkatan keparahan:
- Akreta: Menempel pada otot rahim.
- Inkreta: Masuk lebih dalam ke dalam otot rahim.
- Perkreta: Menembus seluruh dinding rahim hingga bisa menempel ke organ lain seperti kandung kemih.
5. Tantangan saat operasi (adhesi)

Tantangan operasi akibat adhesi pada operasi caesar berulang meningkat drastis, dengan prevalensi mencapai 83% pada operasi keempat, yang meningkatkan risiko cedera kandung kemih dan usus.
Dikutip dari PMC, adhesi tebal juga memperpanjang waktu operasi dan meningkatkan risiko perdarahan, serta menjadi faktor risiko utama komplikasi spektrum plasenta akreta.
Itulah tadi informasi mengenai risiko melahirkan jarak dekat seperti Lesti Kejora.
Dengan memahami berbagai risiko medis tersebut, penting bagi ibu untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan mengenai jarak kehamilan dan kondisi rahim sebelum merencanakan kehamilan berikutnya.















-UnhTUP9LxVbtS8uWf13IlKfHlaOuwBOm.jpg)


