Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengapa Rahim Harus Kontraksi Pasca-Melahirkan? Bahaya Atonia Uteri!

Mengapa Rahim Harus Kontraksi Pasca-Melahirkan? Bahaya Atonia Uteri!
Popmama.com/Erica Santoso/AI
Intinya Sih
  • Kontraksi rahim pasca-melahirkan penting untuk menjepit pembuluh darah terbuka dan mencegah perdarahan hebat yang bisa mengancam nyawa ibu.
  • Atonia uteri terjadi saat rahim gagal berkontraksi, menyebabkan perdarahan postpartum berat yang memerlukan penanganan cepat melalui pijatan rahim dan obat pemicu kontraksi.
  • Jika obat tidak efektif, prosedur B-Lynch dilakukan dengan menjahit dan menekan rahim guna menghentikan perdarahan serta menghindari pengangkatan rahim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Proses melahirkan adalah momen yang luar biasa sekaligus penuh perjuangan ya, Ma. Setelah perjuangan panjang mengejan dan si Kecil berhasil lahir ke dunia, perhatian kita biasanya langsung terfokus pada sang buah hati. Namun, tahukah Mama bahwa perjuangan tubuh seorang ibu sebenarnya belum benar-benar selesai tepat setelah bayi lahir?

Ada satu tugas penting yang harus diselesaikan oleh tubuh Mama secara alami, yaitu rahim yang wajib tetap berkontraksi dengan kuat. Banyak Mama baru yang mengira kontraksi hanya terjadi sebelum melahirkan untuk mendorong bayi keluar. Padahal, kontraksi pasca-persalinan justru memegang peranan hidup dan mati yang sangat krusial bagi keselamatan diri Mama sendiri.

Melansir melalui instagram pribadinya @amirfahad.spog, kondisi rahim yang gagal berkontraksi atau mendadak lemas pasca-persalinan dikenal dalam dunia medis dengan istilah atonia uteri. Ketika atonia uteri terjadi, rahim akan terasa lembek seperti balon yang kempes dan kehilangan kekuatannya untuk meremas. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena menjadi salah satu pemicu utama terjadinya perdarahan hebat pasca-salin yang bisa membahayakan nyawa.

Agar Mama lebih paham mengapa rahim harus tetap kontraksi setelah melahirkan, kali ini Popmama.com rangkum bahaya atonia uteri yang wajib diwaspadai khusus buat Mama!

Table of Content

1. Kontraksi rahim berfungsi alami menjepit pembuluh darah terbuka

1. Kontraksi rahim berfungsi alami menjepit pembuluh darah terbuka

IMG_2947.png
Popmama.com/Erica Santoso/AI

Setelah plasenta atau ari-ari terlepas dari dinding rahim, area bekas melekatnya plasenta tersebut akan meninggalkan banyak pembuluh darah dalam keadaan terbuka lebar. Jika dibiarkan begitu saja, darah akan terus mengalir keluar dalam jumlah yang sangat masif. Di sinilah tubuh Mama membutuhkan keajaiban dari sebuah kontraksi.

Tugas utama rahim melakukan gerakan meremas setelah persalinan adalah untuk menjepit pembuluh-pembuluh darah yang terbuka di antara otot-otot rahim tersebut. Tekanan kuat dari otot rahim yang mengeras secara alami akan menghentikan aliran darah secara mandiri. Mekanisme ini adalah cara tercanggih tubuh manusia dalam melakukan pertolongan pertama pasca-melahirkan.

Namun, jika rahim justru kehilangan kemampuannya untuk mengencang, pembuluh darah akan tetap menganga lebar tanpa ada yang menahan. Darah segar pun akan terus mengalir deras keluar dari dalam tubuh. Kondisi kritis inilah yang memicu terjadinya kegawatdaruratan akibat kehilangan terlalu banyak volume darah dalam waktu singkat.

2. Rahim yang lemas memicu perdarahan hebat pasca-salin

IMG_2948.png
Popmama.com/Erica Santoso/AI

Kondisi atonia uteri atau melempemnya otot rahim pasca-melahirkan merupakan penyebab paling sering dari kasus Hemorrhagic Postpartum (HPP). HPP sendiri merupakan istilah medis untuk perdarahan pasca-salin yang jumlahnya sudah melebihi batas aman dan tidak bisa dianggap remeh sama sekali. Perdarahan ini bisa terjadi secara mendadak dan berlangsung sangat cepat setelah plasenta lahir.

Saat rahim berubah menjadi lembek dan tidak berdaya, darah yang keluar bukan lagi berupa flek biasa, melainkan aliran deras yang mengkhawatirkan. Tanpa adanya tindakan pencegahan atau penanganan yang cepat dari tim medis, seorang ibu bisa kehilangan kesadaran akibat kekurangan darah yang drastis. Nyawa Mama bisa terancam dalam hitungan menit jika situasi ini tidak segera dikendalikan.

Oleh karena itu, sesaat setelah melahirkan, dokter atau bidan biasanya akan terus meraba bagian perut bawah Mama. Tim medis ingin memastikan bahwa tekstur rahim Mama terasa keras seperti batu, bukan lembek seperti spons, demi memastikan kondisi Mama benar-benar aman dari risiko HPP.

3. Peregangan rahim yang berlebih menjadi salah satu pemicu utama

IMG_2949.png
Popmama.com/Erica Santoso/AI

Atonia uteri merupakan salah satu komplikasi persalinan yang sebenarnya tidak bisa diprediksi secara pasti kapan akan terjadi. Namun, ada beberapa faktor risiko kuat yang bisa membuat otot rahim menjadi terlalu lelah dan kehilangan daya kontraksinya. Salah satu pemicu utamanya adalah ketika rahim terregang terlalu kuat selama masa kehamilan.

Kondisi rahim yang meregang ekstrem ini biasanya terjadi pada Mama yang mengandung bayi kembar atau memiliki jumlah air ketuban yang terlalu banyak (polihidramnion). Selain itu, proses persalinan yang berlangsung terlalu lama hingga membuat otot rahim kelelahan, atau sebaliknya persalinan yang terlalu cepat, juga bisa menjadi penyebabnya. Faktor lain seperti infeksi dalam rahim serta penggunaan obat-obatan tertentu ikut meningkatkan risiko ini.

Mengetahui faktor risiko ini sangat penting agar tim medis bisa melakukan antisipasi lebih awal sejak masa persalinan dimulai. Jika Mama memiliki riwayat mengalami atonia uteri pada persalinan sebelumnya, sangat penting untuk menginfokannya kepada dokter kandungan sejak awal.

4. Pijatan rahim dan obat-obatan menjadi langkah awal penanganan

IMG_2950.png
Popmama.com/Erica Santoso/AI

Ketika tim medis mendeteksi bahwa rahim Mama mulai terasa lembek pasca-melahirkan, mereka akan langsung bergerak cepat melakukan tindakan penyelamatan. Langkah awal yang paling mendasar adalah dengan memberikan pijatan khusus pada dinding rahim dari luar perut Mama secara ritmis. Pijatan ini bertujuan untuk merangsang otot rahim agar mau terbangun dan mulai mengeras kembali.

Sembari melakukan pijatan manual, dokter juga akan segera menyuntikkan obat-obatan khusus ke dalam tubuh Mama. Obat-obatan medis ini bekerja aktif dari dalam untuk memicu timbulnya kontraksi rahim buatan yang kuat. Kerja sama antara stimulasi fisik dari luar dan obat-obatan dari dalam biasanya cukup efektif mengatasi rahim yang lemas pada sebagian besar kasus.

Penanganan awal yang super cepat ini sangat krusial untuk memotong waktu perdarahan agar tidak semakin parah. Kerja cepat dari tim medis di ruang bersalin pada menit-menit awal ini sering kali menjadi kunci keberhasilan dalam menyelamatkan Mama dari komplikasi yang lebih berat.

5. Prosedur B-Lynch hadir sebagai teknik jahitan penyelamat nyawa

IMG_2951.png
Popmama.com/Erica Santoso/AI

Bagaimana jika rahim tetap membandel, tidak mau berkontraksi, dan perdarahan masih terus mengalir deras setelah diberi obat? Di sinilah tindakan pembedahan darurat harus segera dilakukan demi menyelamatkan nyawa sang ibu. Salah satu prosedur canggih yang sering menjadi penyelamat adalah teknik pengikatan rahim atau yang disebut B-Lynch procedure.

Dalam kondisi darurat yang sangat berat, rahim yang lembek tersebut akan ditekuk sedemikian rupa oleh dokter, lalu langsung diikat kuat menggunakan benang jahit khusus yang bisa diserap oleh tubuh (absorbable). Tindakan mengikat rahim ini bukan sekadar jahitan biasa, melainkan upaya mekanis untuk menekan pembuluh darah agar perdarahan bisa langsung mampet saat itu juga.

Tujuan utama dari prosedur B-Lynch ini adalah menghentikan perdarahan hebat secepat mungkin demi mempertahankan rahim agar tidak perlu diangkat. Sebab, pada kasus darurat yang sudah sangat ekstrem di mana perdarahan sama sekali tidak bisa dihentikan, pengangkatan rahim (histerektomi) terpaksa menjadi jalan terakhir demi menyelamatkan nyawa ibu. Lewat teknik jahit B-Lynch, tim medis berjuang sekuat tenaga untuk menghindari opsi angkat kandungan tersebut.

Mengetahui berbagai risiko persalinan seperti atonia uteri bukan untuk membuat Mama menjadi takut, melainkan agar Mama bisa lebih waspada dan selektif dalam memilih tempat bersalin dengan fasilitas serta tim medis yang sigap. Tetap semangat mempersiapkan persalinan ya Mama, percayalah bahwa tubuh wanita didesain luar biasa kuat dan dengan penanganan medis yang tepat, momen menyambut si Kecil akan berjalan dengan aman serta penuh kebahagiaan!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Onic Metheany
EditorOnic Metheany

Related Articles

See More