Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi setelah usia kehamilan 20 minggu. Hingga kini, penyebab pasti preeklamsia masih belum diketahui. Namun, dilansir dari Kementerian Kesehatan, kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan pada perkembangan plasenta selama kehamilan yang kemudian memengaruhi aliran darah dalam tubuh ibu.
6 Fakta tentang Preeklamsia yang Belum Diketahui Banyak Orang

Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan dengan tekanan darah tinggi setelah 20 minggu.
Risiko preeklamsia lebih tinggi pada kehamilan pertama karena tubuh ibu masih beradaptasi terhadap pembentukan plasenta.
Pencegahan paling efektif dilakukan dengan aspirin dosis rendah bagi ibu berisiko tinggi serta skrining rutin sejak trimester pertama.
Berdasarkan data yang dikutip dari Healthline, menyebutkan bahwa sekitar 5–10 persen ibu hamil mengalami preeklamsia. Dalam beberapa kasus, komplikasi ini bahkan bisa berujung pada kematian apabila tidak segera ditangani. Karena itu, penting bagi Mama untuk mengenali preeklamsia sejak dini.
Berikut Popmama.com rangkum fakta tentang preeklamsia yang belum diketahui banyak orang.
Table of Content
1. Risiko preeklamsia paling tinggi pada kehamilan pertama

dr. Yusfa Rasyid, Sp.OG melalui konten edukasi di akun Instagram pribadinya (@yusdarasyid), menjelaskan bahwa risiko preeklamsia lebih tinggi terjadi pada kehamilan pertama dibandingkan kehamilan berikutnya.
Data populasi, risiko preeklamsia pada kehamilan pertama diperkirakan sekitar ±5 persen, sedangkan pada kehamilan berikutnya menurun menjadi sekitar ±2 persen. Hal ini karena pada kehamilan pertama, tubuh ibu masih melakukan proses adaptasi terhadap pembentukan plasenta.
Proses ini melibatkan berbagai sistem dalam tubuh, termasuk sistem imun, pembuluh darah, faktor genetik, serta kondisi kesehatan ibu secara keseluruhan. Karena banyaknya faktor yang terlibat, penyebab preeklamsia pun bersifat multifaktorial (dipengaruhi oleh banyak faktor.)
2. Penurunan risiko preeklamsia di kehamilan berikutnya

Penyebab preeklamsia diduga kuat berkaitan dengan gangguan perkembangan plasenta. Pada kehamilan pertama, sistem imun ibu masih beradaptasi dengan keberadaan plasenta. Sementara itu, pada kehamilan berikutnya, proses adaptasi sistem imun ibu terhadap keberadaan plasenta umumnya sudah lebih “terbiasa”.
Artinya, respons imun terhadap jaringan janin tidak lagi seintens pada kehamilan pertama. Hal ini membuat proses implantasi dan pembentukan pembuluh darah di plasenta dapat berlangsung lebih stabil dan efisien, sehingga aliran darah antara ibu dan janin menjadi lebih optimal. Kondisi inilah yang pada akhirnya berkontribusi pada penurunan risiko preeklamsia dibandingkan dengan kehamilan pertama.
3. Kehamilan berikutnya tetap bisa berisiko bila ada kondisi medis tertentu

Meskipun secara umum risiko preeklamsia cenderung lebih rendah pada kehamilan kedua dan seterusnya, kondisi ini tidak bisa dianggap sepenuhnya aman.
Ada beberapa faktor medis tertentu yang justru dapat meningkatkan kembali risiko preeklamsia pada kehamilan berikutnya.
Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
Ibu yang pernah mengalami preeklamsia memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya kembali. Apalagi jika preeklamsia sebelumnya terjadi cukup berat atau muncul pada usia kehamilan yang lebih dini, risiko kekambuhan pada kehamilan berikutnya akan semakin besar.Adanya penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, ginjal, atau autoimun
Kondisi kesehatan ibu sebelum atau selama kehamilan sangat berpengaruh. Hipertensi kronis, diabetes melitus, penyakit ginjal, serta gangguan autoimun (misalnya lupus) dapat mengganggu fungsi pembuluh darah dan plasenta, sehingga meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia meskipun pada kehamilan kedua atau seterusnya.Kehamilan kembar (multiple pregnancy)
Kehamilan dengan lebih dari satu janin memberikan beban yang lebih besar pada tubuh ibu dan plasenta. Hal ini dapat meningkatkan tekanan pada sistem pembuluh darah ibu, sehingga risiko preeklamsia menjadi lebih tinggi dibandingkan kehamilan tunggal.Jarak kehamilan yang terlalu jauh (lebih dari 10 tahun)
Jika jarak antara kehamilan pertama dan berikutnya terlalu lama, tubuh ibu dapat “kehilangan” sebagian adaptasi imunologis yang sudah terbentuk sebelumnya. Akibatnya, kehamilan berikutnya bisa dianggap lebih “mirip” dengan kehamilan pertama dari sisi risiko, sehingga peluang terjadinya preeklamsia kembali meningkat.
4. Pencegahan paling terbukti dengan aspirin dosis rendah

Intervensi pencegahan preeklamsia yang paling kuat secara ilmiah hingga saat ini adalah penggunaan aspirin dosis rendah (low-dose aspirin) pada ibu hamil yang memiliki faktor risiko tinggi. Aspirin (asam asetilsalisilat) adalah obat golongan Anti-Inflamasi Non-Steroid (NSAID) yang berfungsi meredakan nyeri ringan hingga sedang, menurunkan demam, dan mengurangi peradangan.
Aspirin diberikan dalam dosis sekitar 75–150 mg per hari, dan biasanya mulai dikonsumsi sejak usia kehamilan ≥12 minggu. Pemberian aspirin ini bekerja dengan cara membantu memperbaiki aliran darah di plasenta. Sejumlah studi besar menunjukkan bahwa pada kelompok ibu berisiko tinggi, penggunaan aspirin dosis rendah dapat menurunkan risiko preeklamsia dini hingga sekitar 60%.
5. Pola hidup sehat tidak menggantikan skrining

Menjaga berat badan ideal, mencukupi asupan kalsium, serta melakukan aktivitas fisik ringan dapat membantu menurunkan risiko dasar preeklamsia. Namun, langkah-langkah tersebut tidak cukup untuk mencegah preeklamsia pada ibu yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi tanpa pemantauan medis.
Karena preeklamsia sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas, skrining risiko perlu dilakukan sejak trimester pertama, bukan menunggu keluhan muncul. Skrining dini preeklamsia dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu pengukuran tekanan darah secara rutin, penilaian faktor risiko seperti riwayat hipertensi, diabetes, obesitas, kehamilan pertama, dan kehamilan kembar, serta pemeriksaan urin bila diperlukan.
Pada ibu dengan risiko tinggi, dokter juga dapat mempertimbangkan pemberian terapi pencegahan seperti aspirin dosis rendah sejak usia kehamilan 12 minggu lebih.
6. Preeklamsia bisa muncul tiba-tiba

Preeklamsia dapat berkembang secara mendadak, bahkan pada ibu hamil yang sebelumnya tidak menunjukkan keluhan apa pun. Karena itu, Mama perlu mengenali tanda-tanda preeklampsi, berikut ini :
Tekanan darah meningkat secara tiba-tiba
sakit kepala hebat
pandangan kabur
nyeri ulu hati
bengkak mendadak pada wajah dan tangan
mual dan muntah berat
Nah, itu dia fakta tentang preeklamsia yang belum diketahui banyak orang. Semoga informasi ini bisa jadi wawasan baru untuk Mama!





-sIvplQDNrk4jr2cBBYoFzPEjJidBueDs.jpg)












