Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Angka Kelahiran Turun, Faktor Ekonomi dan Mental Pemicunya?
Popmama.com/Erica Santoso/AI
  • Penurunan angka kelahiran di Indonesia dipengaruhi edukasi dan keterbukaan informasi, sehingga pasangan lebih mempertimbangkan keputusan memiliki anak dan cenderung memilih keluarga kecil atau menunda.
  • Biaya hidup, inflasi, pendidikan, kesehatan, dan gizi anak menjadi pertimbangan ekonomi utama bagi pasangan dalam membatasi jumlah anak.
  • Kesadaran kesehatan mental, kekhawatiran mewariskan trauma, serta fokus pada kualitas pengasuhan, karier, dan pengembangan diri turut memengaruhi keputusan pasangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Fenomena penurunan angka kelahiran di Indonesia belakangan ini sukses menyita perhatian publik. Merujuk pada beberapa data statistik terbaru, pasangan suami istri di era sekarang cenderung memiliki keluarga kecil dengan satu atau dua anak saja, bahkan ada pula yang mantap menunda kehadiran buah hati.

Melansir dari penjelasan Psikolog Wendy Said, M.Psi., C.Ht., pergeseran ukuran keluarga ini sangat dipengaruhi oleh tingkat edukasi serta keterbukaan informasi di masyarakat. Menurunnya angka kelahiran bukan semata-mata karena pasangan tidak bisa memiliki anak, melainkan akibat banyaknya pertimbangan krusial sebelum memutuskan menjadi orangtua.

Berikut Popmama.com bagikan alasan mengapa angka kelahiran turun beserta pemicunya.

1. Perubahan budaya dari tuntutan sosial menjadi pilihan hidup

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Zaman dahulu, memiliki banyak anak kerap dianggap sebagai sebuah pencapaian sekaligus tuntutan sosial yang harus segera dipenuhi setelah menikah. Ungkapan lawas "banyak anak banyak rezeki" membuat generasi terdahulu terbiasa membangun keluarga besar tanpa berpikir panjang.

Kini, akses internet dan luasnya wawasan perlahan menggeser pola pikir tradisional tersebut. Banyak pasangan muda menyadari bahwa memiliki keturunan adalah komitmen seumur hidup yang keputusannya ada di tangan mereka sendiri, bukan sekadar menuruti ekspektasi lingkungan sekitar.

2. Pertimbangan ekonomi dan biaya hidup yang semakin tinggi

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Kondisi finansial menjadi salah satu fondasi paling rasional yang membuat pasangan masa kini lebih membatasi jumlah keturunan. Membesarkan anak di era modern tentu membutuhkan rancangan anggaran yang tidak main-main, apalagi dengan harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik dari waktu ke waktu.

Orangtua masa kini memiliki standar yang lebih tinggi dalam memenuhi kelayakan hidup anak-anaknya. Mulai dari menyiapkan dana pendidikan yang berkualitas, jaminan kesehatan, hingga memastikan kebutuhan gizi harian tercukupi dengan baik demi tumbuh kembang buah hati yang optimal.

"Faktor ekonomi pun inflasi kan sekarang sudah naik. Jadi dari aspek ekonomi, memberikan edukasi yang baik untuk anak, memberikan pemenuhan pokok pangan yang memadai, pertimbangannya itu banyak," ungkap Psikolog Wendy.

3. Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Berbeda dengan zaman dulu di mana isu psikologis sering diabaikan, generasi sekarang menaruh perhatian sangat besar pada kesehatan mental. Mereka paham betul bahwa kelelahan emosional yang tidak terkelola dengan baik bisa berdampak buruk pada keharmonisan rumah tangga.

Membesarkan anak membutuhkan tingkat kesabaran, kestabilan emosi, dan energi yang luar biasa setiap harinya. Calon orangtua masa kini tidak ingin memaksakan diri menambah momongan jika mereka merasa kapasitas mentalnya belum benar-benar siap menghadapi tekanan tersebut.

"Terutama dengan meningkatnya kesadaran kita terhadap kesehatan, mental health. Tanggung jawab seorang orang tua itu juga enggak mudah ya, cukup berat jadi orang tua," tambah Psikolog Wendy.

4. Keengganan untuk mewariskan trauma masa lalu

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Maraknya diskusi terbuka tentang luka batin masa kecil atau generational trauma membuat banyak orang dewasa muda melakukan introspeksi diri. Beberapa dari mereka mungkin pernah mengalami pola asuh yang keras atau kurang menyenangkan dari orangtua terdahulu.

Rasa takut akan mengulangi kesalahan yang sama membuat mereka memilih untuk mengerem keinginan punya anak sebelum benar-benar sembuh. Pasangan suami istri ingin memastikan bahwa mereka sudah memiliki kecerdasan emosional yang baik sebelum membesarkan seorang manusia.

5. Mengutamakan kualitas pengasuhan dan pengembangan diri

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Berkurangnya jumlah anak dalam satu keluarga juga didorong oleh keinginan pasangan untuk lebih fokus pada kualitas dibandingkan kuantitas. Dengan jumlah anak yang lebih sedikit, perhatian, waktu, dan kasih sayang yang diberikan tentu akan jauh lebih maksimal dan tidak terbagi-bagi.

Selain itu, gaya parenting saat ini sudah banyak berubah, di mana peran ayah dan ibu dituntut harus seimbang di dalam rumah. Sembari mengasuh anak dengan baik, banyak pasangan yang juga masih ingin mengejar impian pribadi mereka, seperti pendidikan lanjutan maupun pencapaian karier.

"Mereka fokusnya mengarah ke prioritas di karier atau di pengembangan diri. Dan parenting-nya sudah bergeser, kalau dulunya cuma mamanya doang, sekarang papahnya juga ikut belajar parenting," tutup Psikolog Wendy.

Keputusan memiliki anak memang sangat personal dan unik bagi setiap keluarga ya, Ma. Selalu dukung dan hargai pilihan setiap pasangan di sekitar kita!

Curated For You

Editorial Team

Related Article