- Air ketuban bisa berkurang. Dehidrasi dapat menyebabkan volume air ketuban menjadi terlalu sedikit. Jika terjadi pada awal kehamilan, kondisi ini dapat mengganggu perkembangan janin, bahkan meningkatkan risiko keguguran. Sementara pada trimester akhir, air ketuban yang sedikit dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan komplikasi saat persalinan.
- Memicu kontraksi Braxton-Hicks. Kekurangan cairan juga dapat memicu kontraksi palsu atau kontraksi Braxton-Hicks yang biasanya berlangsung sekitar 1-2 menit. Kontraksi ini umumnya terjadi pada trimester ketiga, tetapi juga bisa muncul sejak trimester kedua.
- Meningkatkan risiko komplikasi kehamilan. Dehidrasi dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan cacat bawaan, gangguan pada sistem saraf, persalinan prematur, hingga produksi ASI yang menurun setelah melahirkan.
- Berisiko menyebabkan syok hipovolemik. Pada kondisi yang berat, dehidrasi yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan syok hipovolemik yang mengancam nyawa ibu hamil maupun janin.
Jangan Anggap Sepele, Ini Risiko Dehidrasi pada Ibu Hamil

Dehidrasi saat hamil terjadi ketika cairan yang keluar melebihi asupan, dipicu antara lain puasa, diare, muntah, atau keringat berlebih, dan dapat mengganggu keseimbangan elektrolit.
Kondisi ini berisiko mengurangi air ketuban, memicu kontraksi Braxton-Hicks, meningkatkan komplikasi seperti kelahiran prematur, serta pada kasus berat menyebabkan syok hipovolemik.
Tanda dehidrasi meliputi urine gelap, haus, mulut kering, pusing, hingga jantung berdebar. Pencegahan dapat dilakukan dengan cukup minum, membatasi kafein, dan segera mencari bantuan medis bila berat.
Selama hamil, tubuh membutuhkan lebih banyak cairan untuk mendukung kesehatan mama sekaligus tumbuh kembang janin. Oleh karena itu, penting untuk memastikan cairan yang masuk ke dalam tubuh selalu seimbang dengan cairan yang keluar.
Ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang diterima, ibu hamil dapat mengalami dehidrasi. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa haus, tetapi juga dapat mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit yang berperan penting dalam menjaga fungsi organ, mengatur suhu tubuh, hingga membantu proses pembuangan zat sisa.
Dehidrasi pada ibu hamil bisa terjadi akibat kurang makan dan minum karena puasa, diare, sering muntah, atau banyak berkeringat karena sering merasa gerah. Bila tidak segera diatasi, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mama maupun janin.
Supaya Mama lebih waspada, berikut Popmama.com telah merangkum risiko dehidrasi saat hamil, tanda-tandanya, hingga cara menjaga tubuh tetap terhidrasi.
Table of Content
Risiko Dehidrasi pada Ibu Hamil

Dehidrasi selama kehamilan tidak hanya membuat tubuh terasa lemas, tetapi juga dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi. Berikut beberapa risikonya.
Kenali Tanda-Tanda Dehidrasi Sejak Dini

Salah satu cara paling mudah mengenali dehidrasi adalah dengan memperhatikan warna urine. Jika urine tampak kuning pekat atau lebih gelap dari biasanya, tubuh kemungkinan sedang kekurangan cairan. Sebaliknya, urine yang bening atau jernih umumnya menjadi tanda bahwa kebutuhan cairan tubuh telah terpenuhi.
Selain itu, Mama juga perlu mengenali gejala dehidrasi berdasarkan tingkat keparahannya.
Dehidrasi ringan hingga sedang:
- Frekuensi buang air kecil berkurang
- Mudah merasa haus
- Mengantuk
- Mulut terasa kering dan lengket
- Sakit kepala
- Pusing
- Konstipasi
Dehidrasi berat:
- Buang air kecil sangat sedikit atau tidak ada sama sekali
- Urine berwarna kuning pekat
- Tubuh terasa sangat lemas
- Rasa haus yang berlebihan
- Mata tampak cekung
- Mulut sangat kering
- Kulit menjadi sangat kering dan kurang elastis
- Mudah marah atau kebingungan
- Jantung berdebar lebih cepat disertai napas yang cepat
Dehidrasi ringan hingga sedang umumnya masih bisa diatasi dengan memperbanyak minum air putih dan beristirahat. Namun, bila gejalanya sudah mengarah pada dehidrasi berat, Mama perlu segera mendapatkan pertolongan medis.
Cara Menjaga Tubuh Tetap Terhidrasi Selama Hamil

Mencegah dehidrasi selama kehamilan sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan agar kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi.
- Penuhi kebutuhan air putih setiap hari. Ibu hamil dianjurkan minum sekitar 3 liter air putih per hari atau setara dengan 8-12 gelas. Jika Mama banyak beraktivitas atau sering berolahraga, kebutuhan cairan bisa ditambah.
- Batasi minuman berkafein. Kopi, teh, dan minuman bersoda memiliki sifat diuretik yang dapat membuat Mama lebih sering buang air kecil sehingga cairan tubuh lebih mudah berkurang.
- Coba infused water jika mual saat minum air putih. Mama dapat menambahkan kiwi, lemon, atau jeruk ke dalam air putih agar lebih mudah diminum dan membantu meredakan rasa mual.
- Pilih minuman yang mengandung gula, vitamin, dan elektrolit. Salah satu yang dapat menjadi pilihan adalah air kelapa untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
- Perbanyak buah dengan kandungan air yang tinggi. Stroberi, semangka, lemon, jambu air, dan blewah dapat menjadi pilihan untuk membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi.
- Makan dan minum ketika mual mulai mereda. Bagi Mama yang mengalami morning sickness, usahakan memanfaatkan waktu ketika mual berkurang agar kebutuhan cairan dan nutrisi tetap terpenuhi.
Itu tadi risiko dehidrasi pada ibu hamil. Apabila Mama mengalami mual dan muntah yang berat hingga sulit makan atau minum, terlebih sudah muncul tanda-tanda dehidrasi, segera periksakan diri ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.





















