“Faktanya, sebagian perempuan itu mengalaminya jauh lebih muda. Kondisi ini kita sebutnya adalah Premature Ovarian Insufficiency atau POI. Jadi POI itu bukan cuma sekedar telat haid doang nih, ini adalah kondisi ketika fungsi ovarium turun sebelum umur 40,” kata dr. Amir Fahad, Sp.OG selaku Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi melansir dari penjelasan videonya di akun Instagram @amirfahad.spog.
Apa Itu Premature Ovarian Insufficiency yang Terjadi pada Perempuan?

- Premature Ovarian Insufficiency (POI) adalah penurunan fungsi ovarium sebelum usia 40 tahun, yang mengurangi estrogen, mengganggu ovulasi, dan dapat menurunkan kesuburan.
- Gejalanya meliputi haid jarang atau berhenti, sulit hamil, hot flush, keringat malam, gangguan tidur, perubahan mood, vagina kering, dan libido menurun; sebagian perempuan nyaris tanpa gejala.
- Penyebab POI dapat berupa faktor genetik, autoimun, kemoterapi, radioterapi, atau operasi ovarium. Diagnosis memerlukan evaluasi gejala dan hormon; ovulasi spontan serta kehamilan masih mungkin terjadi.
Ketika menstruasi berhenti atau datang tidak teratur, sebagian perempuan mungkin langsung mengaitkannya dengan kehamilan atau menopause.
Padahal, jika kondisi tersebut terjadi sebelum usia 40 tahun, ada kemungkinan hal itu berkaitan dengan kondisi medis tertentu, salah satunya Premature Ovarian Insufficiency (POI).
Lantas, apa saja yang perlu diketahui mengenai POI? Simak pembahasannya telah Popmama.com siapkan.
Table of Content
1. Apa itu POI?
POI merupakan kondisi ketika fungsi ovarium mengalami penurunan lebih awal dari seharusnya. Kondisi ini bukan sekadar masalah telat haid, karena dapat memengaruhi produksi hormon, ovulasi, kesuburan, hingga kesehatan perempuan dalam jangka panjang.
Premature Ovarian Insufficiency atau POI terjadi ketika fungsi ovarium mulai menurun sebelum seorang perempuan memasuki usia 40 tahun.
Kondisi ini membuat ovarium tidak lagi bekerja secara optimal, termasuk dalam menghasilkan hormon estrogen dan melepaskan sel telur secara teratur.
“POI terjadi ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun. Gejalanya bisa berupa haid yang semakin jarang, berhenti berbulan-bulan, sulit hamil, hot flush, hingga vagina kering. Namun, sebagian wanita hampir tidak memiliki gejala sehingga diagnosis sering terlambat,” ujar dr. Amir Fahad, Sp.OG.
Ketika produksi estrogen berkurang dan ovulasi menjadi tidak teratur, kesuburan perempuan juga dapat mengalami penurunan. Dalam jangka panjang, POI juga dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti osteoporosis dan penyakit jantung.
“Artinya apa? Ovarium menghasilkan estrogen lebih sedikit, ovulasi menjadi nggak teratur, bahkan bisa berhenti. Akibatnya kesuburan turun, resiko osteoporosis naik, resiko penyakit jantung juga nambah dalam jangka panjang,” lanjutnya.
2. Gejala Premature Ovarian Insufficiency (POI)

Pexels/Kwangmozza Gejala POI tidak selalu sama pada setiap perempuan. Beberapa perempuan mungkin mengalami perubahan menstruasi yang cukup jelas, sementara lainnya hanya merasakan gejala ringan atau bahkan hampir tidak memiliki keluhan.
Beberapa gejala yang dapat muncul, antara lain:
- Haid semakin jarang, tidak teratur, atau bahkan berhenti selama beberapa bulan.
- Sulit hamil karena ovulasi menjadi tidak teratur.
- Hot flush, yaitu sensasi panas yang muncul secara tiba-tiba.
- Keringat berlebih di malam hari yang dapat mengganggu kenyamanan saat tidur.
- Sulit tidur atau mengalami perubahan pola tidur.
- Mood mudah berubah atau mengalami perubahan suasana hati.
- Vagina terasa kering akibat menurunnya kadar estrogen.
- Libido menurun atau berkurangnya gairah seksual.
3. Penyebab POI bisa beragam dan terkadang tidak diketahui

Pexels/Polina Zimmerman POI dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah faktor genetik, kondisi autoimun, hingga riwayat pengobatan tertentu seperti kemoterapi dan radioterapi. Tindakan medis pada ovarium, termasuk operasi, juga dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan penurunan fungsi ovarium.
Meski begitu, tidak semua kasus POI memiliki penyebab yang jelas. Pada sebagian perempuan, dokter mungkin tidak dapat menemukan faktor spesifik yang menyebabkan fungsi ovarium menurun lebih awal
“Karena itu ya, POI sering terlambat dikenali. Penyebabnya macam-macam nih ya, bisa faktor genetik, autoimun, riwayat kemoterapi, radioterapi, operasi ovarium atau nggak tahu apa penyebabnya,” jelas dr. Amir Fahad, Sp.OG.
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami POI, pemeriksaan juga tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis tes. Dokter akan melihat kondisi secara menyeluruh, mulai dari gejala yang dialami hingga hasil pemeriksaan hormon dan evaluasi penyebab lainnya.
“Diagnosisnya nggak cukup, cuma dari AMH aja. Dokter juga akan mempertimbangkan gejalanya, pemeriksaan FSH, estradiol, dan evaluasi penyebab lainnya apa. Nih harus tahu mitos faktanya nih ya,” ungkapnya.
4. Perempuan dengan POI masih memiliki kemungkinan untuk hamil

Pexels/benzoix POI tidak selalu berarti seorang perempuan sama sekali tidak bisa hamil. Meskipun peluangnya dapat menurun, sebagian perempuan dengan kondisi ini masih mungkin mengalami ovulasi secara spontan.
Karena itu, perempuan yang mengalami perubahan siklus menstruasi sebelum usia 40 tahun sebaiknya tidak langsung menganggap dirinya sudah memasuki menopause.
Pemeriksaan lebih awal dapat membantu mengetahui kondisi ovarium sekaligus menentukan pilihan yang sesuai, terutama bagi perempuan yang masih memiliki rencana untuk memiliki anak.
“POI berarti tidak mungkin hamil? No, faktanya nggak selalu ya. Sebagian perempuan dengan POI itu masih bisa dapet ovulasi spontan meski peluangnya kecil. Karena itu evaluasi sejak awal itu sangat penting,” ujar dr. Amir Fahad, Sp.OG.
“Terus akhirnya banyak perempuan yang menyalahkan stres atau kelelahan, padahal tubuhnya sedang kasih sinyal. Nah semakin cepat diketahui, semakin cepat juga kualitas hidup dan rencana kehamilan bisa dibahas,” lanjutnya.
5. Jangan abaikan perubahan haid sebelum usia 40 tahun

Pexels/Sora Shimazaki Jika perempuan berusia di bawah 40 tahun tiba-tiba mengalami perubahan siklus menstruasi yang signifikan, sebaiknya kondisi tersebut tidak dianggap sepele.
Terlebih jika haid menjadi semakin jarang, berhenti selama beberapa bulan, atau disertai gejala seperti hot flush, vagina kering, maupun kesulitan untuk hamil.
Memeriksakan diri ke dokter kandungan dapat membantu mengetahui penyebab di balik perubahan tersebut. Diagnosis yang dilakukan lebih awal juga dapat membantu perempuan memahami kondisi tubuhnya dan mendiskusikan langkah yang tepat.
“Kalau emang usia sebelum 40 tahun terus haidnya tiba-tiba nggak teratur atau bahkan langsung berhenti, jangan anggap enteng. Periksakan ke dokter kandungan. Karena waktu itu sangat berharga, terutama bagi fungsi ovarium,” pungkasnya.
Demikian pembahasan mengenai apa itu Premature Ovarian Insufficiency yang terjadi pada perempuan. Intinya, jangan ragu untuk segera memeriksakan kondisi tubuh jika mengalami beberapa gejala yang sudah disebutkan.





















