Mama mungkin pernah mendengar anggapan bahwa jenis kelamin bayi bisa ditebak dari perubahan penampilan, perilaku, atau kebiasaan ngidam selama hamil. Berbagai anggapan tersebut sebenarnya hanyalah mitos yang belum memiliki dasar ilmiah dan tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan jenis kelamin bayi.
Perbedaan Hamil Anak Perempuan dan Laki-Laki, Benarkah Ada Tandanya?

Ada perbedaan sistem imun, hormon, dan fungsi plasenta pada ibu hamil berdasarkan jenis kelamin janin.
Kehamilan bayi laki-laki cenderung risiko persalinan prematur, sedangkan bayi perempuan terkait risiko preeklampsia sedikit lebih tinggi.
Penentuan jenis kelamin janin yang akurat hanya bisa dilakukan melalui pemeriksaan medis seperti USG, NIPT, CVS, atau amniosentesis.
Meski begitu, mengutip konten edukasi Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Yusfa Rasyid Sp.OG, di Instagram pribadinya @yusdarasyid pada 12 Agustus 2025, beberapa penelitian medis menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata di dalam tubuh ibu hamil yang berkaitan dengan jenis kelamin janin. Penasaran?
Berikut Popmama.com siapkan rangkuman perbedaan hamil anak perempuan dan hamil anak laki-laki.
Table of Content
1. Sistem imun berbeda

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI Pada kehamilan bayi laki-laki (kromosom XY), janin menghasilkan protein tertentu yang tidak dimiliki tubuh ibu. Perbedaan ini membuat sistem imun ibu cenderung merespons lebih aktif atau “siaga”.
Sementara itu, pada kehamilan bayi perempuan (kromosom XX), sistem imun ibu cenderung lebih mudah beradaptasi. Respons imun digambarkan lebih stabil atau “tenang” karena tubuh tidak menunjukkan reaksi yang terlalu aktif terhadap janin.
2. Hormon bervariasi

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI Pada kehamilan bayi perempuan, kadar hormon hCG (human chorionic gonadotropin) pada beberapa penelitian cenderung sedikit lebih tinggi. Hormon ini dihasilkan oleh plasenta sejak awal kehamilan untuk membantu mempertahankan kehamilan.
Kadar hCG yang lebih tinggi ini diduga dapat membuat sebagian ibu hamil mengalami mual yang lebih berat. Namun, hal ini tidak selalu sama karena setiap kehamilan memiliki kondisi hormon dan respons tubuh yang berbeda-beda.
3. Plasenta bekerja berbeda

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI Plasenta berfungsi sebagai penghubung antara ibu dan janin untuk menyalurkan oksigen serta nutrisi. Pada kehamilan bayi laki-laki, plasenta cenderung lebih fokus mendukung pertumbuhan janin yang lebih cepat.
Sementara pada kehamilan bayi perempuan, plasenta lebih menekankan pada keseimbangan antara kebutuhan janin dan respons imun ibu, sehingga cenderung lebih stabil dan “tahan” terhadap beberapa gangguan selama kehamilan.
4. Kesehatan mental

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI Mama yang akan melahirkan bayi laki-laki dalam beberapa penelitian disebut memiliki risiko sedikit lebih tinggi mengalami depresi pasca persalinan.
Hal ini diduga berkaitan dengan pengaruh perubahan hormon kehamilan dan respons sistem imun selama kehamilan yang dapat memengaruhi kestabilan suasana hati.
5. Risiko komplikasi kehamilan berdasarkan jenis kelamin bayi

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI British Medical Journal (BMJ) menunjukkan bahwa jenis kelamin bayi dapat berkaitan dengan perbedaan risiko komplikasi kehamilan. Pada kehamilan bayi laki-laki, beberapa penelitian menemukan risiko yang sedikit lebih tinggi terhadap diabetes gestasional, persalinan prematur, serta solusio plasenta atau kondisi lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum waktunya.
Hal ini diduga berkaitan dengan perbedaan respons imun Mama, serta proses pembentukan plasenta. Sementara itu, pada kehamilan bayi perempuan risiko preeklampsia sedikit lebih tinggi.
Meski demikian, faktor utama komplikasi kehamilan tetap sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kondisi kesehatan ibu, usia, riwayat kehamilan, serta kualitas plasenta, sehingga jenis kelamin bayi bukan penentu pasti terjadinya komplikasi.
Benarkah Perubahan Warna Kulit pada Ibu Hamil Tergantung Jenis Kelamin?

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI Mungkin Mama pernah mendengar anggapan bahwa kehamilan bayi laki-laki dapat menyebabkan penggelapan pada area tertentu seperti areola (sekitar puting), ketiak, dan leher. Namun, secara ilmiah belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa perubahan warna kulit tersebut berkaitan langsung dengan jenis kelamin bayi.
Perubahan ini lebih dipengaruhi oleh faktor hormonal selama kehamilan, terutama peningkatan hormon yang memicu produksi melanin, serta dipengaruhi oleh faktor genetik, sensitivitas kulit, dan paparan sinar matahari. Karena itu, setiap ibu hamil bisa mengalami tingkat perubahan yang berbeda.
Cara Mengetahui Perbedaan Hamil Anak Laki-Laki dan Perempuan dengan Akurat

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI Untuk mengetahui perbedaan hamil anak laki-laki dan perempuan secara akurat, hanya pemeriksaan medis yang dapat diandalkan. Berikut beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan:
Pemeriksaan USG pada trimester kedua
Pemeriksaan USG biasanya dilakukan pada usia kehamilan 18–22 minggu. Metode ini cukup akurat untuk menentukan jenis kelamin janin, terutama jika posisi bayi memungkinkan untuk terlihat dengan jelas.Tes darah NIPT (Non-Invasive Prenatal Testing)
NIPT dapat dilakukan sejak usia kehamilan sekitar 10 minggu dengan mendeteksi DNA janin yang terdapat dalam darah ibu. Pemeriksaan ini memiliki tingkat akurasi yang tinggi, baik untuk mengetahui jenis kelamin maupun mendeteksi risiko kelainan kromosom.Chorionic Villus Sampling (CVS)
CVS adalah pemeriksaan dengan mengambil sampel jaringan plasenta pada trimester pertama. Selain menentukan jenis kelamin, metode ini juga digunakan untuk skrining kelainan kromosom sejak dini.Amniosentesis
Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sampel air ketuban untuk menganalisis kromosom janin. Selain mengetahui jenis kelamin, pemeriksaan ini juga dapat membantu mendeteksi kelainan genetik.
Nah, itu dia perbedaan hamil anak perempuan dan hamil anak laki-laki. Semoga infomarsi ini bisa jadi wawasan baru untuk Mama.





















