Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Penyebab Bloating saat Program Hamil, Kenali Pemicunya
Freepik/wayhomestudio
  • Bloating saat program hamil disebabkan oleh perubahan hormon, terutama peningkatan progesteron yang memperlambat pencernaan dan menahan gas serta cairan di perut.
  • Penggunaan obat pemicu ovulasi, perubahan pola makan tinggi serat, serta konsumsi suplemen zat besi dapat memicu penumpukan gas dan cairan yang membuat perut terasa penuh.
  • Faktor gaya hidup seperti stres, kurang aktivitas fisik, kebiasaan menelan udara berlebih, dan konsumsi pemanis buatan turut memperparah rasa kembung selama menjalani promil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Memulai langkah untuk mendapatkan anak memang dipenuhi dengan berbagai dinamika, bukan? Selain semangat dan perasaan haru, Mama mungkin mulai merasakan perubahan fisik yang kadang-kadang membuat tidak nyaman. Salah satu keluhan yang kerap terjadi namun jarang dibahas secara detail adalah kondisi perut yang terasa kencang, penuh, atau bloating.

Kondisi bloating selama menjalani program kehamilan sering kali membuat Mama merasa khawatir atau merasa kurang percaya diri dengan penampilan. Ketidaknyamanan ini biasanya muncul pada waktu-waktu tertentu dan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari pola makan hingga reaksi tubuh terhadap hormonal. Memahami penyebabnya adalah langkah awal agar Mama dapat menjalani program kehamilan dengan lebih tenang dan nyaman.

Penting bagi Mama untuk menyadari bahwa tubuh sedang melakukan sejumlah penyesuaian besar saat bersiap untuk hamil. Perubahan biokimia di dalam tubuh tidak hanya berpengaruh pada sistem reproduksi , tetapi juga memengaruhi sistem pencernaan, lho, Ma. Inilah mengapa keluhan perut kembung sering kali muncul bersamaan dengan usaha Mama untuk mengoptimalkan masa subur.

Jadi, Mama jangan terlalu cepat merasa cemas jika celana mulai terasa ketat di bagian pinggang. Dengan edukasi yang tepat, Mama bisa mengidentifikasi apakah kembung tersebut merupakan hal yang wajar atau memerlukan penyesuaian gaya hidup tertentu. Yuk, kita gali lebih dalam mengenai faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kondisi bloating agar perjalanan promil Mama tetap terasa menyenangkan!

Berikut Popmama.com telah dirangkum poin-poin penyebab bloating saat program hamil di bawah ini!

1. Lonjakan hormon progesteron dalam tubuh

Freepik/benzoix

Salah satu faktor utama yang menyebabkan bloating selama masa promil adalah peningkatan alami hormon progesteron setelah ovulasi. Hormon ini memiliki fungsi penting dalam memperkuat dinding rahim sebagai persiapan untuk menyambut janin, Ma. Namun, efek samping dari hormon ini adalah relaksasi otot-otot halus dalam tubuh, termasuk di sistem pencernaan, yang mengakibatkan proses kerjanya menjadi lebih lambat.

Dengan melambatnya sistem pencernaan, gas pun cenderung terakumulasi lebih lama di dalam usus, sehingga menimbulkan sensasi perut yang buncit dan tidak nyaman. Hal Ini sejalan dengan penjelasan medis yang menunjukkan bahwa perubahan hormon dapat mempengaruhi secara langsung ritme metabolisme pada wanita. Mama mungkin akan merasakan gejala ini semakin parah mendekati akhir siklus menstruasi.

Menurut laporan dari Office on Women's Health (OASH), perubahan hormon selama siklus reproduksi dapat mengakibatkan penahanan cairan dan gas. Ketika kadar hormon mengalami perubahan, tubuh cenderung menahan lebih banyak cairan, yang dapat terlihat secara visual sebagai pembengkakan di perut. Kondisi ini biasanya bersifat sementara namun cukup dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Nah, untuk mengurangi efek ini, Mama disarankan untuk tetap bergerak aktif meskipun merasa begah. Aktivitas fisik sederhana seperti berjalan santai bisa membantu mengaktifkan otot-otot usus untuk mendorong gas keluar. Dengan menjaga sirkulasi tubuh tetap baik, dampak dari peningkatan progesteron ini dapat lebih terkontrol sehingga Mama tetap bugar selama menjalani promil.

2. Pengaruh obat-obatan pemicu ovulasi

Freepik/jcomp

Bagi Mama yang sedang mengikuti program hamil dengan dukungan medis, penggunaan obat perangsang ovulasi atau hormon tambahan sering kali menjadi langkah yang umum dilakukan. Obat-obatan ini ditujukan untuk memicu ovarium agar menghasilkan sel telur berkualitas tinggi. Tetapi, stimulasi ovarium ini seringkali dapat memunculkan efek samping, seperti penumpukan cairan di area panggul dan perut, Ma.

Peningkatan efek stimulasi ovarium dapat menyebabkan ukuran indung telur sedikit lebih besar dari biasanya, yang secara fisik memberikan tekanan pada rongga perut. Situasi ini menciptakan sensasi kembung yang cukup terasa dibandingkan dengan siklus alami. Mama mungkin akan merasakan perut yang lebih sensitif saat disentuh atau merasa penuh meskipun tidak mengonsumsi banyak makanan.

World Health Organization (WHO) dalam beberapa panduan tentang kesehatan reproduksi juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap reaksi tubuh selama proses stimulasi ovarium. Meskipun bloating merupakan efek samping yang umum terjadi, monitoring tetap diperlukan untuk memastikan reaksi tubuh berada dalam batas wajar. Penumpukan cairan ini adalah mekanisme sistemik yang merespons zat aktif dalam obat untuk kehamilan.

Mama tidak perlu terlalu khawatir dengan kondisi tersebut asalkan terus berkonsultasi mengenai keluhan yang dirasakan. Mengurangi konsumsi garam dalam pola makan sehari-hari juga dapat membantu menurunkan tingkat retensi cairan yang disebabkan oleh obat-obatan tersebut. Jadi, pastikan Mama tetap terhidrasi dengan air putih agar sistem metabolisme berjalan lancar tanpa menambah beban pada pencernaan.

3. Perubahan pola makan dan asupan suplemen

Freepik/benzoix

Saat menjalani program kehamilan, banyak Mama yang mulai mengubah kebiasaan makan menjadi lebih sehat dengan meningkatkan konsumsi serat melalui sayuran hijau dan biji-bijian. Meskipun ini sangat baik untuk kesuburan, peningkatan serat yang tiba-tiba tanpa cukup asupan air dapat menyebabkan gas berlebih. Hal ini membuat usus Mama memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan jenis makanan baru yang lebih berat.

Selain itu, mengonsumsi suplemen prenatal yang kaya akan zat besi kadang-kadang bisa menimbulkan efek samping pada sistem pencernaan, seperti sembelit atau kembung, Ma. Zat besi memang vital untuk mencegah anemia serta mempersiapkan tubuh untuk kehamilan, tetapi sulitnya penyerapannya dapat menyebabkan kondisi usus menjadi lebih berat. Ini biasanya sering menjadi "tantangan" bagi Mama yang baru mulai rutin mengkonsumsi suplemen.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition menyatakan bahwa interaksi antara beberapa mikronutrien dan bakteri usus dapat mempengaruhi produksi gas di perut. Jika keseimbangan bakteri terganggu akibat perubahan pola makan yang tiba-tiba, maka gejala kembung bisa lebih gampang muncul. Oleh sebab itu, konsistensi serta transisi pola makan secara bertahap sangat dianjurkan untuk calon ibu.

Mama dapat mengatasi masalah ini dengan cara membagi porsi makan menjadi lebih kecil namun lebih sering untuk mengurangi beban kerja lambung. Pastikan juga untuk mengunyah makanan hingga halus agar enzim pencernaan bisa berfungsi secara optimal. Menambahkan sumber probiotik alami seperti yogurt juga dapat membantu menyeimbangkan kondisi bakteri dalam usus Mama.

4. Tingkat stres dan kecemasan selama promil

Freepik/stockking

Tidak dapat dipungkiri bahwa mengikuti program untuk hamil kadangkala menimbulkan tekanan mental tersendiri bagi Mama dan Papa. Kekhawatiran menunggu hasil atau beban ekspektasi dapat memicu reaksi stres dalam tubuh. Secara fisiologis, stres dapat menganggu koneksi antara otak dan usus, yang sering kali berdampak pada gangguan pencernaan termasuk bloating.

Ketika mengalami stres, tubuh Mama akan mengeluarkan hormon kortisol yang dapat mempengaruhi cara kerja sistem pencernaan. Pada sebagian wanita, hal ini menyebabkan peningkatan penyerapan udara tanpa disadari (aerophagia) atau ketegangan pada otot perut. Sensasi "kupu-kupu di perut" saat cemas dapat berubah menjadi rasa begah yang menetap jika stres tidak dikelola dengan baik.

Menurut data dari American Psychological Association (APA), stres mempunyai dampak signifikan pada kesehatan fisik, termasuk fungsi pencernaan. Ketegangan mental bisa memperlambat gerakan usus sehingga gas terperangkap di dalam. Maka itu, kesehatan mental memiliki peran yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik dalam keberhasilan program kehamilan, ya, Ma.

Menerapkan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga untuk ibu hamil, atau sekadar menjalani hobi yang menyenangkan dapat menjadi langkah yang efektif, Ma. Ketika pikiran lebih tenang, saraf di sistem pencernaan juga akan lebih santai sehingga gejala kembung bisa berkurang dengan cukup drastis. Ingat juga, ya, Ma, kebahagiaan adalah kunci utama dalam menyambut kehadiran buah hati.

5. Konsumsi pemanis buatan dalam produk diet

Freepik/benzoix

Banyak Mama yang ketika menjalani program hamil berusaha mempertahankan berat badan yang ideal dengan beralih ke produk yang diklaim "bebas gula" atau minuman diet. Sayangnya, pemanis buatan seperti sorbitol seringkali tidak dapat dicerna sepenuhnya oleh usus kecil. Ketika pemanis ini mencapai usus besar, bakteri akan memprosesnya dan menghasilkan gas yang berlebihan, yang dapat menyebabkan perut kembung secara mendadak, lho, Ma.

Keadaan ini biasanya tidak disadari karena adanya label "sehat" pada produk tersebut. Sementara itu, sistem pencernaan Mama yang sensitif akibat perubahan hormon saat program hamil bisa bereaksi lebih reaktif terhadap bahan kimia tambahan. Rasa begah umumnya muncul segera setelah Mama mengonsumsi minuman atau camilan diet tersebut.

Berdasarkan panduan dari National Institutes of Health (NIH), beberapa zat aditif yang terdapat dalam produk olahan bisa menyebabkan intoleransi pencernaan yang bersifat sementara. Gas yang dihasilkan dari fermentasi pemanis buatan ini cenderung membuat perut terasa "penuh" dan ketat dalam jangka waktu yang lama. Hal ini tentunya menjadikan Mama merasa tidak nyaman saat beraktivitas.

Sebagai opsi, Mama dapat memilih pemanis alami dalam jumlah yang wajar, atau lebih baik lagi, mengonsumsi buah-buahan segar. Selain lebih aman untuk pencernaan, buah juga kaya akan antioksidan alami yang dapat meningkatkan kualitas sel telur. Dengan begitu, perut tetap nyaman dan program kehamilan dapat berjalan lebih optimal tanpa gangguan gas berlebihan.

6. Kebiasaan aerophagia atau menelan udara berlebih

Freepik/freepik

Mungkin terlihat sepele, namun kebiasaan mengonsumsi makanan dengan cepat atau berbicara saat makan dapat menyebabkan Mama menelan banyak udara (aerophagia). Udara yang tertelan ini akan terperangkap di dalam saluran pencernaan, mengakibatkan rasa kembung yang sering kali menyebabkan Mama bersendawa. Jika udara ini tidak segera dikeluarkan, ia akan bergerak ke usus bagian bawah dan menyebabkan perut terasa kaku.

Ketika sedang menjalani program kehamilan dan terjebak dalam berbagai aktivitas, sering kali Mama makan dengan cepat untuk mengejar waktu. Kebiasaan mengunyah permen karet atau menggunakan sedotan saat minum juga dapat menjadi faktor masuknya udara berlebih ke dalam perut. Jika dibiarkan, udara yang terperangkap ini akan memberi tekanan pada rongga perut yang sedang menyesuaikan diri dengan perubahan hormon.

International Foundation for Gastrointestinal Disorders (IFFGD) mengungkapkan bahwa udara yang tertelan adalah salah satu penyebab utama gas di lambung yang sering diabaikan. Nah, untuk mencegah hal ini, Mama disarankan makan dalam posisi duduk yang tegak dan dalam suasana yang tenang. Ini akan membantu katup kerongkongan berfungsi lebih baik dalam menghindari masuknya udara secara berlebihan.

Jadi, coba ya, Ma, untuk mulai menerapkan mindful eating dengan mengunyah perlahan dan tidak terburu-buru. Di samping membantu mencegah kembung, makan dengan tenang juga akan membuat Mama lebih rileks dalam menyerap nutrisi. Suasana tubuh yang tenang akan membantu sistem saraf mengelola sistem pencernaan dengan lebih efisien selama menjalani program kehamilan.

7. Kurangnya aktivitas fisik yang teratur

Freepik/stockking

Memang benar bahwa ketika menjalani program kehamilan, Mama disarankan untuk menghindari aktivitas fisik yang berat atau berisiko tinggi. Namun, terlalu banyak berdiam diri atau menjalani hidup yang tidak bergerak justru dapat memperlambat pergerakan usus. Bila usus tidak berfungsi optimal, sisa-sisa makanan dan gas akan tertahan lebih lama di dalam perut, yang pada akhirnya akan menyebabkan perut terasa kembung.

Kurangnya aktivitas fisik juga berdampak pada sirkulasi darah di area panggul yang menjadi kurang baik, padahal aliran darah yang lancar sangat penting. Tanpa adanya gerakan yang memadai, metabolisme bisa melambat dan membuat perut terasa lebih "penuh" dan tidak nyaman. Minimnya aktivitas fisik sering kali menjadi penyebab yang tak terduga dari perut kembung yang terus-menerus.

Harvard Medical School menegaskan bahwa melakukan aktivitas fisik yang ringan hingga moderat adalah metode alami yang paling efisien untuk mengeluarkan gas dari sistem pencernaan. Gerakan tubuh memfasilitasi otot-otot di dalam sistem pencernaan untuk bekerja lebih baik dalam mendorong udara keluar. Disarankan untuk berjalan kaki selama 15 menit setelah makan agar fungsi usus tetap terjaga dengan baik.

Jadi, Mama tidak perlu ragu untuk tetap aktif, asalkan tidak berlebihan dan sesuai dengan saran dari para ahli. Cobalah untuk berjalan santai di pagi hari atau melakukan peregangan ringan di antara waktu kerja untuk mendukung metabolisme. Selain efektif dalam mengurangi kembung, aktivitas fisik ringan juga dapat melepaskan endorfin yang dapat membuat Mama merasa lebih bahagia saat menjalani program kehamilan.

Nah, itu dia deretan penyebab perut kembung atau bloating yang sering dialami saat menjalani program hamil. Ternyata faktornya sangat beragam ya, Ma, mulai dari pengaruh hormon alami hingga kebiasaan kecil yang sering kita abaikan. Meskipun terasa kurang nyaman, ingat, ya, bahwa ini merupakan bagian dari perjuangan luar biasa tubuh Mama dalam mempersiapkan rumah terbaik bagi si Kecil nanti.

Tetaplah mendengarkan sinyal yang diberikan oleh tubuh dan jangan ragu untuk melakukan penyesuaian gaya hidup agar Mama merasa lebih relaks. Menjalani promil memang butuh kesabaran ekstra, tapi dengan dukungan yang tepat dan edukasi yang cukup, setiap prosesnya akan terasa lebih bermakna. Jadi jangan lupa juga untuk selalu mengimbangi asupan nutrisi dengan pengelolaan stres yang baik agar kondisi fisik dan mental Mama tetap prima.

Kira-kira dari poin di atas, mana nih yang paling sering bikin Mama merasa bloating belakangan ini?

Editorial Team