Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Penyebab Hamil Anggur menurut Dokter, Simak Penjelasannya Ma!
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI
  • Hamil anggur adalah kehamilan tidak normal akibat pertumbuhan jaringan plasenta tanpa janin, dikenal sebagai mola hidatidosa yang bisa memicu komplikasi serius bila tidak segera ditangani.
  • Gejalanya meliputi perdarahan vagina, mual muntah berlebihan, serta pembesaran rahim yang tidak wajar sehingga perlu pemeriksaan USG dan pemantauan kadar hormon hCG secara berkala.
  • Penyebab utamanya berasal dari kesalahan genetik saat pembuahan, dan penanganannya dilakukan melalui kuretase serta pemantauan lanjutan untuk mencegah risiko keganasan pada jaringan rahim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengetahui kabar kehamilan tentu menjadi momen yang sangat membahagiakan sekaligus mendebarkan bagi setiap pasangan. Di tengah rasa syukur dan antusiasme menanti kehadiran buah hati, terselip harapan besar agar janin dapat tumbuh dengan sehat dan sempurna tanpa adanya hambatan medis yang berarti.

Namun, dalam perjalanan masa kehamilan, tidak semua rencana berjalan mulus seperti yang diharapkan karena tubuh adakalanya mengalami kondisi medis yang tidak terduga. Salah satu komplikasi yang cukup sering memicu kekhawatiran dan memerlukan perhatian medis yang sangat serius di awal trimester adalah kondisi hamil anggur.

Terkait hal ini, dr. Yena M Yuzar, Sp.OG sempat memberikan penjelasan mendalam melalui unggahan video edukasi di akun TikTok pribadinya, @yena.yuzar.

Beliau menekankan bahwa deteksi dini dan pemahaman yang benar mengenai kondisi hamil anggur ini sangat krusial agar penanganan bisa dilakukan secepat mungkin demi keselamatan ibu.

Bagi sebagian besar perempuan, istilah hamil anggur mungkin masih terdengar asing atau bahkan menakutkan, padahal memahami risikonya secara jelas dapat membantu kita bertindak lebih cepat jika terjadi kejanggalan.

Agar Mama tidak lagi merasa bingung dan bisa mendeteksi tanda-tandanya sejak dini, berikut adalah penjelasan lengkap mengenai penyebab hingga penanganan hamil anggur yang telah dirangkum oleh Popmama.com dari berbagai sumber medis tepercaya.

1. Apa itu hamil anggur?

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Hamil anggur bukanlah kehamilan biasa yang berkembang menjadi janin, melainkan sebuah tumor jinak yang tumbuh di dalam rahim akibat kegagalan pembentukan bakal calon bayi.

Sel-sel yang seharusnya berkembang menjadi plasenta justru tumbuh secara tidak terkendali membentuk jaringan abnormal yang sekilas tampak seperti sekumpulan anggur kecil berisi cairan.

"Hamil anggur adalah kehamilan tidak normal akibat pertumbuhan plasenta tanpa janin," ungkap dr. Yena M Yuzar, Sp.OG. dalam sebuah edukasi kesehatan.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, kondisi ini secara medis dikenal sebagai Mola Hidatidosa, sebuah kelainan pada jaringan trofoblas gestasional yang memerlukan diagnosis cepat agar tidak merusak struktur dinding rahim pasien.

Secara teknis, karena pertumbuhan sel-sel plasenta ini terjadi secara berlebihan tanpa adanya sokongan sistem kehidupan janin yang layak, jaringan ini bertindak seperti parasit di dalam tubuh.

Tanpa penanganan medis segera berupa pembersihan rahim, kondisi ini berisiko memicu komplikasi berat seperti infeksi rahim hingga perdarahan hebat yang mengancam nyawa.

2. Gejala yang perludDiwaspadai

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Salah satu tanda awal yang paling sering membedakan mola hidatidosa dengan kehamilan normal adalah munculnya perdarahan vagina berwarna cokelat tua atau merah terang selama trimester pertama. Selain itu, akibat lonjakan hormon kehamilan yang tidak wajar, Mama biasanya akan mengeluhkan gejala mual dan muntah yang terlampau ekstrem (hiperemesis gravidarum) hingga memicu dehidrasi berat.

"Kenali gejalanya seperti perdarahan dan mual berlebihan, lalu segera periksakan diri ke dokter," lanjut dr. Yena M Yuzar, Sp.OG.

Gejala mual yang sangat intens ini terjadi karena tingkat hormon hCG (human chorionic gonadotropin) melonjak sangat tinggi di dalam tubuh melampaui batas normal kehamilan biasa akibat aktivitas agresif dari pertumbuhan jaringan plasenta abnormal tersebut.

Di samping itu, tanda fisik lain yang patut dicurigai adalah ukuran perut atau rahim yang membesar jauh lebih cepat daripada usia kehamilan yang seharusnya. Jika Mama mendapati kombinasi gejala berupa perdarahan, mual parah, dan pembesaran perut yang tidak wajar, sangat disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan USG ke fasilitas kesehatan.

3. Proses konsepsi yang abnormal

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Secara mendasar, hamil anggur mutlak disebabkan oleh adanya kekeliruan genetik pada saat proses pertemuan antara sel telur Mama dan sel sperma papa. Kesalahan mutasi pada masa awal pembuahan ini memicu malafungsi seluler, di mana sel trofoblas yang bertugas membentuk plasenta justru tumbuh liar tanpa kendali biologis.

"Hamil anggur itu biasanya diakibatkan adalah proses konsepsi yang abnormal antara pertemuan sel telur dengan sel sperma menghasilkan sel-sel trafobias yang berlebihan pertumbuhannya," jelas dr. Yena M Yuzar, Sp.OG.

Menurut penelitian ilmiah yang diterbitkan oleh National Institutes of Health (NIH) dan American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kondisi ini terbagi menjadi dua mekanisme genetik.

Pada mola komplet, sel telur yang kosong (tanpa materi genetik mama) dibuahi oleh satu atau dua sperma sehingga semua kromosomnya berasal dari ayah, sedangkan pada mola parsial, satu sel telur normal dibuahi oleh dua sperma sekaligus yang menghasilkan kelebihan set kromosom sehingga janin tidak dapat bertahan hidup.

4. Klasifikasi hamil anggur: jinak vs ganas

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Penting sekali bagi Mama untuk memahami bahwa karakteristik perkembangan sel pada kasus hamil anggur tidak selalu sama pada tiap individu. Dokter spesialis kandungan biasanya akan membagi kondisi ini ke dalam dua sifat utama medis demi menentukan seberapa agresif langkah pengobatan yang harus ditempuh.

"Hamil anggur itu umumnya ada yang jinak dan ada yang ganas. Kalau yang jinak dia biasanya berupa mola hidatidosa, tapi dia bisa berkembang menjadi keganasan," ujar dr. Yena M Yuzar, Sp.OG.

Secara klinis, jenis mola hidatidosa jinak memang menempati persentase kasus tertinggi, namun setiap pasien tetap diwajibkan menjalani pemantauan kadar hormon hCG secara berkala pasca-tindakan.

Evaluasi ketat ini merupakan standar emas dalam dunia kedokteran untuk mendeteksi secara dini apabila ada sisa jaringan mola yang berubah sifat menjadi Penyakit Trofoblas Gestasional Ganas (Choriocarcinoma) yang dapat menyebar ke organ tubuh lain.

5. Penanganan dan pemeriksaan lanjutan

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Ketika diagnosis mola hidatidosa sudah ditegakkan secara pasti melalui hasil USG dan pemeriksaan laboratorium, maka tindakan pengosongan rahim harus segera dijadwalkan.

Prosedur ini tidak boleh ditunda demi menghindari komplikasi sistemik berbahaya dan demi menyelamatkan masa depan kesehatan reproduksi mama.

"Kalau untuk hamil anggur, biasanya ditemukan saat pemeriksaan usg. Kemudian jika sudah dinyatakan hamil anggur, biasanya harus segera dikeluarkan. Kemudian hasil kuretase akan dilakukan pemeriksaan patologi anatomi dan akan dilakukan pemantauan," tambah dr. Yena M Yuzar, Sp.OG.

Langkah pemantauan setelah kuretase biasanya memakan waktu beberapa bulan hingga kadar hCG benar-benar menyentuh angka nol atau negatif.

"Ternyata dari hasil pemantauan dan hasil patologi anatominya ditemukan hamil anggur yang bergenerasi keganasan, maka hamil anggur itu memerlukan pemeriksaan yang lebih lanjut," tutupnya.

Jika tanda keganasan terdeteksi, dokter umumnya akan segera merujuk pasien untuk mendapatkan terapi tambahan seperti kemoterapi agar pemulihan sel rahim berjalan sempurna.

Nah, itulah penjelasan mengenai hamil anggur dari sisi medis agar Mama tidak lagi merasa bingung atau khawatir berlebihan.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi Mama dan memberikan ketenangan dalam menjalani rencana kehamilan.

Apakah Mama atau orang terdekat ada yang pernah mengalami kondisi hamil anggur ini sebelumnya?

Editorial Team

Related Article