Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Bolehkah Ibu Hamil Main Squash? Ini Penjelasannya
Pexels/Artem Podrez
  • Squash kurang direkomendasikan untuk ibu hamil karena berisiko tinggi menyebabkan benturan dan cedera, terutama pada area perut.

  • Perubahan fisiologis selama kehamilan membuat tubuh lebih rentan cedera akibat ligamen yang lebih rileks dan keseimbangan yang mudah terganggu.

  • Olahraga seperti jalan cepat, berenang, sepeda statis, dan prenatal yoga dianggap lebih aman serta bermanfaat menjaga kebugaran ibu hamil.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjaga tubuh tetap aktif selama kehamilan dapat memberikan banyak manfaat, mulai dari menjaga kebugaran hingga membantu mempersiapkan tubuh menghadapi persalinan. Namun, tidak semua jenis olahraga memiliki tingkat keamanan yang sama bagi ibu hamil.

Salah satu olahraga yang sering menimbulkan pertanyaan adalah squash. Olahraga raket ini membutuhkan gerakan cepat, perubahan arah mendadak, serta dimainkan dalam ruang yang relatif sempit. Lalu, apakah squash aman dilakukan selama kehamilan?

Berikut Popmama.com rangkum mengenai bolehkah ibu hamil main squash dan faktanya. 

1. Squash bukan olahraga yang umumnya direkomendasikan saat hamil

Pexels/SHVETS production

Secara umum, squash tidak termasuk olahraga yang direkomendasikan selama kehamilan. Alasannya karena memiliki risiko benturan dan cedera yang lebih tinggi dibandingkan olahraga lainnya. 

Dalam panduan olahraga selama kehamilan, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyebut bahwa ibu hamil sebaiknya menghindari aktivitas yang berisiko menyebabkan trauma pada perut maupun meningkatkan risiko cedera.

Bahkan, dalam panduan yang dirujuk oleh Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), squash termasuk salah satu olahraga yang perlu dihindari karena terdapat kemungkinan terkena benturan di area perut selama permainan berlangsung.

2. Perubahan tubuh selama hamil membuat risiko cedera menjadi lebih besar

Freepik/gpointstudio

Selama kehamilan, tubuh mengalami perubahan fisiologis yang memengaruhi kemampuan bergerak dan menjaga keseimbangan. ACOG menjelaskan bahwa hormon kehamilan menyebabkan ligamen menjadi lebih rileks sehingga persendian lebih mudah mengalami cedera. 

Selain itu, pertumbuhan janin menggeser pusat gravitasi tubuh ke depan sehingga meningkatkan risiko kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Kondisi ini menjadi perhatian khusus pada olahraga seperti squash yang menuntut gerakan berlari, berputar, berhenti mendadak, dan berpindah arah dengan cepat. 

Menurut panduan yang dipublikasikan di PubMed oleh ACOG, olahraga dengan risiko jatuh tinggi atau risiko trauma pada perut sebaiknya dihindari selama kehamilan.

3. Ada pilihan olahraga yang lebih aman untuk ibu hamil

Magnific/prostooleh

Meski squash kurang direkomendasikan, bukan berarti ibu hamil tidak boleh berolahraga. ACOG menegaskan bahwa aktivitas fisik tetap aman dan bermanfaat bagi sebagian besar kehamilan yang sehat. Organisasi tersebut bahkan menyarankan ibu hamil melakukan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu.

Beberapa olahraga yang dianggap lebih aman antara lain jalan cepat, berenang, sepeda statis, serta prenatal yoga. Selain memiliki risiko jatuh yang lebih rendah, olahraga tersebut juga membantu menjaga kesehatan jantung, mengurangi nyeri punggung, dan mendukung kebugaran selama kehamilan. 

Jika sebelumnya rutin bermain squash, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan untuk menentukan apakah olahraga tersebut masih aman dilakukan sesuai kondisi kehamilan masing-masing.

Itulah alasan mengapa squash umumnya tidak menjadi pilihan olahraga utama selama kehamilan. Meski tetap penting untuk aktif bergerak, memilih olahraga yang lebih aman dapat membantu menjaga kesehatan ibu sekaligus melindungi tumbuh kembang janin.

Editorial Team

Related Article