"Tugas kami sebagai dokter bukan menghakimi keputusan pasien yang menunda pernikahan atau belum memiliki anak, tetapi membantu mereka ketika sudah siap menjalani program hamil," ujarnya.
Menikah setelah Usia 30 Tahun, Apakah Peluang Hamil Masih Besar?
- Dokter Yohan menegaskan perempuan yang menikah setelah usia 30, bahkan 35 hingga di atas 40 tahun, tetap berpeluang hamil melalui pemeriksaan lengkap dan penanganan tepat.
- Stres dapat memengaruhi 10–15 persen kasus gangguan kesuburan, sehingga kesehatan mental perlu dijaga selama program hamil bersama kesehatan fisik.
- Kesuburan melibatkan suami dan istri; gaya hidup, paparan zat kimia, pola makan, kualitas udara, serta obesitas dapat mengganggu hormon dan ovulasi.
Semakin banyak perempuan yang memilih menunda pernikahan hingga usia 30 tahun atau lebih.
Sayangnya, keputusan tersebut masih sering diiringi stigma bahwa peluang untuk memiliki anak akan semakin kecil.
Menurut dr. Yohan Pamuji Marbun, Sp.OG, yang di anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ia menegaskan bahwa perempuan yang menikah di usia 30 tahun ke atas tetap memiliki kesempatan untuk hamil, asalkan mendapatkan penanganan yang tepat dan menjaga kondisi kesehatannya.
Berikut ini Popmama.com ulas mengenai pernyataan dokter Yohan tentang peluang kehamilan perempuan di usia 30 tahunan.
Table of Content
1. Menikah di usia 30 tahun bukan berarti sulit hamil

Saat ditemui di Acara Pesta Anak Bahagia 2026 by Popmama.com, Sabtu (25/07/2026), di Piazza GF, Gandaria City, dokter Yohan mengungkapkan bahwa keputusan untuk menikah maupun memiliki anak merupakan pilihan setiap individu dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghakimi seseorang.
Bahkan, menurutnya, perempuan yang menikah di usia 35 tahun hingga di atas 40 tahun pun masih memiliki peluang untuk hamil.
"Dengan terapi hormon yang tepat, pemeriksaan yang lengkap pada suami dan istri, serta penanganan yang sesuai, peluang untuk hamil tetap ada," jelas dr. Yohan.
2. Stres juga bisa memengaruhi kesuburan

Selain faktor usia, kondisi psikologis juga berperan dalam keberhasilan program hamil.
dr. Yohan menjelaskan bahwa stres dapat menjadi salah satu penyebab pasangan mengalami kesulitan memperoleh kehamilan.
Menurutnya, sekitar 10–15 persen kasus gangguan kesuburan dapat dipengaruhi oleh faktor mental atau stres yang dialami salah satu maupun kedua pasangan.
Karena itu, menjaga kesehatan mental selama menjalani program hamil menjadi hal yang tidak kalah penting dibandingkan menjaga kesehatan fisik.
3. Kesuburan adalah tanggung jawab suami dan istri
dr. Yohan juga mengingatkan bahwa memperoleh keturunan merupakan hasil kerja sama antara perempuan dan laki-laki. Oleh sebab itu, pemeriksaan kesuburan sebaiknya dilakukan oleh kedua pasangan.
Meski kualitas sperma dapat menurun seiring bertambahnya usia, penurunan tersebut umumnya tidak sebesar penurunan kesuburan pada perempuan yang dibatasi oleh masa menopause.
4. Gaya hidup menjadi faktor yang paling berpengaruh
Menurut dr. Yohan, salah satu penyebab yang kini paling sering ditemui pada pasangan yang sulit hamil adalah gaya hidup.
Paparan zat kimia dari makanan maupun lingkungan, pola makan yang kurang sehat, hingga kualitas udara dapat memengaruhi keseimbangan hormon pada perempuan. Ketika hormon terganggu, siklus menstruasi menjadi tidak teratur dan ovulasi pun dapat terganggu, sehingga peluang terjadinya kehamilan ikut menurun.
Karena itu, ia menyarankan perempuan yang sedang merencanakan kehamilan untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, dan menjaga berat badan tetap ideal.
5. Obesitas dapat mengganggu ovulasi

dr. Yohan menambahkan bahwa obesitas juga menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat keberhasilan program hamil.
Menurutnya, obesitas merupakan penyakit yang telah terbukti melalui berbagai penelitian dapat mengganggu proses ovulasi. Ketika ovulasi tidak berlangsung dengan baik, peluang terjadinya pembuahan pun menjadi lebih kecil.
"Kalau ovulasi terganggu, tentu akan lebih sulit terjadi kehamilan," tutupnya.



















