Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Hasil USG Jenis Kelamin Bisa Salah? Ini Penyebabnya Kata Dokter
Magnific
  • Hasil USG jenis kelamin dapat berbeda bukan karena alat salah, melainkan interpretasi gambar saat pemeriksaan yang dipengaruhi kondisi kehamilan.
  • Kehamilan di bawah 16 minggu, posisi janin yang menutupi area kelamin, serta kualitas gambar akibat cairan ketuban, plasenta, dinding perut, dan perangkat dapat menghambat pengamatan.
  • USG usia 18–22 minggu umumnya lebih jelas; bila masih ragu, pemeriksaan ulang dan konsultasi dokter dapat dilakukan, sementara tes genetik tertentu memiliki indikasi medis khusus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Seiring berjalannya kehamilan, menebak-nebak jenis kelamin calon bayi merupakan salah satu momen yang cukup membuat penasaran. Pemeriksaan USG pun bisa menjadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh Mama dan Papa.

Selain memantau tumbuh kembangnya, jenis kelamin si Kecil juga bisa diketahui melalui pemeriksaan USG. Mama dan Papa mungkin sudah membayangkan kehadirannya sesuai jenis kelamin yang disebutkan. Tetapi, ada kalanya hasil yang diperoleh justru berbeda dari hasil pemeriksaan sebelumnya. 

Dokter Spesialis dr. Kendry Savira yordian Sp.OG., MMRS. dalam akun Instagramnya @kendry_spog menjelasan bahwa pemeriksaan USG bisa saja salah, tetapi bukan berarti ada kesalahan pada alat USG. Melainkan, ada juga beberapa penyebab yang membuat jenis kelamin bayi bisa berubah setelah pemeriksaan.

Lantas, apa penyebab hasil USG jenis kelamin bisa salah? Simak informasinya yang sudah Popmama.com rangkum berikut ini.

1. Usia kehamilan masih terlalu dini

Magnific

Pada usia kehamilan di bawah 16 minggu, organ kelamin janin belum berkembang sempurna, sehingga terkadang masih sulit dibedakan dan belum bisa diketahui apakah jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan.

Umumnya, jenis kelamin yang lebih jelas dan akurat baru bisa terlihat pada usia kehamilan sekitar 18 hingga 20 minggu. Pada periode ini, Mama dan Papa mungkin sudah bisa mengetahui jenis kelamin si Kecil.

2. Posisi janin

Pexels/Pavel Danilyuk

Selama berada di dalam kandungan, bayi memiliki ruang untuk bergerak dan mengubah posisinya. Pada saat pemeriksaan, janin mungkin sedang berada pada posisi yang kurang ideal.

Beberapa posisi janin seperti menyilangkan kaki, tubuhnya membelakangi alat USG, dan area alat kelaminnya yang tertutup dengan tangan atau tali pusar bisa membuat dokter kesulitan untuk melihat organ jenis kelaminnya dengan jelas.

3. Kualitas gambar USG

Magnific/rawpixel.com

Tahukah Mama, jumlah cairan ketuban, posisi plasenta, ketebalan dinding perut ibu, hingga kualitas alat USG yang digunakan juga bisa mempengaruhi hasil pemeriksaan jenis kelamin bayi. Setiap alat USG dapat memiliki kemampuan dan kualitas gambar yang berbeda.

Pasalnya, tidak semua rumah sakit atau fasilitas kesehatan memiliki perangkat USG dengan kualitas yang sama. Pada beberapa fasilitas, alat yang digunakan mungkin merupakan perangkat dengan teknologi yang lebih lama.

Sehingga, hasil gambar yang diperoleh tidak selalu sejelas perangkat dengan teknologi yang lebih baru. Oleh karena itu, kualitas dan resolusi alat USG memiliki peran penting dalam memberikan hasil yang akurat.

dr. Kendry juga mengatakan jika meski hasil pemeriksaan bisa berbeda saat hasil pemeriksaan, hasil USG yang diperoleh tetaplah berasal dari gambar yang terlihat saat hasil pemeriksaan.

“Meskipun begitu, hasil USG tetap merupakan interpretasi berdasarkan gambaran yang terlihat saat hasil pemeriksaan. Jadi, dalam beberapa kasus, hasilnya memang bisa berbeda dengan pemeriksaan sebelumnya. Jadi kalau dokter mengatakan ‘kita lihat lagi di kontrol berikutnya, ya’. Bukan berarti beliau ragu, tetapi memang ingin memastikan hasilnya lebih akurat,” jelas dr. Kendry.

Waktu Terbaik untuk Melakukan USG

Magnific/ArtPhoto_studio

Umumnya, waktu terbaik untuk melakukan USG adalah antara minggu 18 hingga minggu 22 kehamilan. Periode ini sering disebut sebagai anatomy scan atau USG anomali trimester kedua. 

Pada usia kehamilan ini, ukuran bayi sudah semakin besar dan organ reproduksinya sudah terbentuk secara eksternal. Minggu ke-18 hingga minggu ke-22 juga disebut sebagai sweet spot karena memiliki beberapa alasan seperti:

  • Perkembangan fisik mulai sempurna. Pada periode ini, dokter kandungan sudah bisa membedakan organ labia pada bayi perempuan dan penis pada bayi laki-laki.

  • Ukuran janin yang pas. Detail organ janin sudah mulai terlihat lebih jelas, meski ukuran tubuhnya yang belum terlalu besar untuk memenuhi seluruh ruang rahim.

  • Cairan ketuban yang cukup. Pada periode ini, volume air ketuban biasanya sudah optimal, sehingga dapat membantu memberikan kontras yang baik bagi gelombang suara USG untuk menghasilkan gambar yang lebih jelas. 

Cara Memastikan Jenis Kelamin Janin dengan Lebih Akurat

Pexels/Pavel Danilyuk

Jika Mama ingin membuang rasa ragu dan ingin memastikan jenis kelamin si Kecil setelah hasil USG pertama, terdapat beberapa langkah yang bisa Mama lakukan, seperti:

  • Melakukan USG ulang di trimester selanjutnya. Kembali melakukan USG di trimester kedua atau ketiga tak jarang memberikan hasil yang lebih jelas. Pada periode ini, ukuran janin sudah lebih besar dan organ-organnya semakin matang. Selain itu, janin masih dapat mengubah posisinya di dalam kandungan sehingga area kelaminnya bisa lebih mudah diamati saat pemeriksaan USG. 

  • Berkonsultasi dengan dokter spesialis. Diskusikan langsung dengan dokter mengenai seberapa yakin mereka terhadap hasil USG tersebut. Dokter dapat menjelaskan hal-hal yang mungkin memengaruhi kejelasan hasil pemeriksaan serta menentukan apakah diperlukan pemeriksaan tambahan. 

  • Prosedur medis khusus: Untuk mendapatkan informasi genetik janin dengan tingkat akurasi yang tinggi, terdapat prosedur seperti amniosentesis dan chorionic villus sampling (CVS). Amniosentesis dilakukan dengan mengambil sampel cairan ketuban, sedangkan CVS mengambil sampel jaringan plasenta untuk kemudian dianalisis secara genetik. Namun, keduanya merupakan prosedur invasif dan umumnya dilakukan berdasarkan indikasi medis tertentu, seperti adanya risiko kelainan kromosom. Sementara itu, Non-Invasive Prenatal Testing (NIPT) dapat memberikan informasi mengenai jenis kelamin janin melalui analisis DNA bebas sel janin dalam darah ibu. Meski begitu, NIPT pada dasarnya merupakan pemeriksaan skrining untuk mengetahui risiko kelainan kromosom.

Nah, itu dia penjelasan kenapa hasil USG jenis kelamin bisa salah. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Mama yang tengah menunggu kehadiran si Kecil ke dunia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article