“Perutnya juga semakin membesar, bisa mengakibatkan sensasi agak sesak. Artinya adalah, perutnya sudah lebih terasa penuh. Otot-otot yang membantu untuk pernapasan juga menjadi tidak seoptimal itu,” jelas dr. Kevin di video tersebut.
Kenapa Ibu Hamil Gampang Sesak Napas? Ini Kata Dokter

Perut yang membesar selama kehamilan dapat membuat napas terasa lebih berat dan tubuh lebih mudah lelah.
Ibu hamil yang mengalami sesak napas saat aktivitas lalu membaik setelah istirahat kemungkinan berkaitan dengan perubahan tubuh selama kehamilan.
Namun, sesak napas yang makin berat atau disertai batuk, pilek, maupun demam perlu diperiksakan ke dokter.
Sesak napas menjadi salah satu keluhan yang dapat dialami selama kehamilan, terutama ketika usia kehamilan semakin bertambah dan baby bump semakin membesar. Kondisi ini bisa membuat ibu hamil merasa napas lebih berat, mudah engap, hingga cepat lelah saat beraktivitas.
Namun, apakah sesak napas saat hamil selalu normal?
Menurut dr. Kevin D Tjandraprawira, SpOG, M.Sc, MRCOG (UK) di salah satu video Instagramnya @kevintjandraprawira, perubahan pada tubuh selama kehamilan, terutama ketika perut semakin memebsar dapat menyebabkan sensasi sesak napas. Meski begitu, ada kondisi tertentu yang perlu diperiksakan ke dokter.
Berikut Popmama.com rangkum penjelasan dr. Kevin mengenai kenapa ibu hamil gampang sesak napas.
Table of Content
1. Perut semakin besar bisa membuat ibu hamil merasa sesak

Pexels/Ivan S Memasuki trimester ketiga, ukuran perut ibu hamil semakin besar seiring dengan pertumbuhan bayi. Kondisi tersebut dapat membuat ruang di dalam tubuh terasa lebih penuh dan memengaruhi kerja otot yang membantu proses pernapasan.
dr. Kevin menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat menyebabkan napas terasa lebih berat dan membuat ibu hamil lebih mudah lelah.
Perubahan itu kemudian dapat membuat ibu hamil merasakan napas lebih berat, terutama ketika melakukan aktivitas.
2. Sesak yang hilang setelah istirahat kemungkinan karena kehamilan

Pexels/Tima Miroshnichenko Sesak napas yang muncul ketika melakukan aktivitas dan kemudian membaik setelah beristirahat dapat berkaitan dengan perubahan tubuh selama kehamilan.
Menurut dr. Kevin, kondisi tersebut kemungkinan besar merupakan bagian dari keluhan yang normal selama kehamilan terutama jika sesak tidak terus-menerus dan dapat menghilang setelah beristirahat.
“Akhirnya itu membuat sensasi di mana napas menjadi lebih berat, terasa sesak ya, engap gitu, rasanya untuk bergerak sedikit aja cepat capek. Ini adalah suatu hal yang normal,” katanya.
Ia kemudian menjelaskan pola sesak yang lebih mungkin berkaitan dengan kehamilan.
“Tapi kalau di jalan sesaknya ini hilang timbul, muncul kalau beraktivitas berat, tapi setelah itu, pas istirahat sudah hilang kembali, kemungkinan besar memang karena kehamilan,” lanjut dr. Kevin.
Dengan demikian, ibu hamil dapat memperhatikan kapan sesak muncul dan apakah keluhan tersebut membaik setelah tubuh beristirahat.
3. Sesak semakin berat disertai batuk atau demam perlu diperiksa

Pexels/Pavel Danilyuk Meski sesak napas dapat menjadi keluhan normal selama kehamilan, ibu hamil tetap perlu memperhatikan perubahan gejala. Sesak yang semakin lama semakin berat, terutama jika disertai keluhan lain, sebaiknya tidak diabaikan.
dr. Kevin menyebut beberapa gejala yang perlu menjadi perhatian, seperti batuk, pilek, atau demam.
“Nah, kalau terasa sesak, semakin lama, semakin memberat, dan terus kemudian mungkin disertai batuk, pilek, ataupun demam, kemungkinan ada infeksi. Segera ke dokter,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar ibu hamil tidak ragu melakukan pemeriksaan apabila memiliki kekhawatiran mengenai sesak napas yang dialami.
“Tentu, kalau misalnya ada kecurigaan, sebaiknya segera ke dokter untuk cek. Kalau misalnya ada apa-apa, biar segera bisa diobati juga,” tutur dr. Kevin.
Jadi, sesak napas yang muncul sesekali saat beraktivitas dan membaik setelah beristirahat dapat menjadi bagian dari perubahan tubuh selama kehamilan. Namun, jika keluhan semakin berat atau disertai gejala lain seperti batuk dan demam, segera konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.



















