TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Bayi di Surabaya Lahir dengan Selamat dari Embrio Dibekukan 6 Tahun

Bayi ini berhasil lahir dari embrio yang dibekukan

Unsplash/Charles Eugene

Teknologi di dunia medis terus mengalami perkembangan. Prosedur medis yang dahulunya dianggap tidak mungkin, kini bisa diterapkan berkat adanya inovasi yang didukung dengan perkembangan teknologi.

Salah satu metode terbaru di dunia medis yang dilakukan dengan teknologi yang canggih adalah transfer embrio beku atau Frozen Embryo Transfer (FET). 

Seorang dokter di Surabaya berhasil menerapkan metode ini pada seorang perempuan yang berhasil melahirkan bayi dari embrio beku berusia 6 tahun. Penasaran seperti apa kisahnya? Simak rangkuman Popmama.com berikut ini, yuk!

1. Kisah pasangan suami istri melakukan metode transfer embrio beku

Instagram.com/drbennyarifin

Pasangan suami istri Aisyah Fiyanti dan Rifki, berhasil melahirkan bayi yang lahir dari embrio beku selama 6 tahun.

Pasangan ini sudah menikah selama 12 tahun, dan memutuskan untuk melakukan proses bayi tabung 6 tahun yang lalu atau tepatnya pada tahun 2015.

Akhirnya, berkat proses bayi tabung tersebut, pasangan ini berhasil melahirkan anak laki-laki pertama mereka yang bernama Achmad Rifansyah (Evan) pada tahun 2016.

Pada tahun 2021, pasangan ini akhirnya memutuskan untuk kembali melakukan bayi tabung. Metode yang dilakukan adalah Frozen Embryo Transfer (FET) dari embrio yang telah disimpan selama 6 tahun.

Aisyah Fiyanti akhirnya berhasil hamil dengan metode FET dan melahirkan anak keduanya yang diberi nama Khadijah Adzkiya, dengan kondisi sehat pada tanggal 11 November 2021.

Dokter Benediktus Arifin, MPH, SpOG(K), FICS yang praktik di Morula IVF Surabaya, sekaligus dokter yang menangani Aisyah, membagikan kisah pasangan tersebut di akun Instagram pribadinya. Ia mengunggah foto Evan yang berusia 5 tahun dan saudara kembarnya, Adzkiya yang baru saja lahir. 

“Karena berasal dari embrio yang sudah dibekukan selama 6 tahun, kini baby Adzkiya menjadi bayi tertua di Morula Surabaya pada tahun 2021,” ujar dokter Benny .

Dokter Benny menganggap bahwa momen ini adalah suatu pengalaman dan berita gembira baginya.

“Tuhan memberikan lagi kesempatan kepada saya untuk menyaksikan kuasaNya yang luar biasa melalui pasangan ini,” sambungnya.

Dokter Benny juga memberikan jawaban atas pertanyaan dan keraguan tentang berapa lama embrio bisa disimpan. Menurutnya, belum ada batasan waktu mengenai berapa lama embrio bisa disimpan.

2. Apa itu transfer embrio?

Freepik/GiovanniCancemi

Setelah membaca kisah dokter Benny, Mama mungkin bertanya-tanya mengenai apa itu metode transfer embrio beku.

Transfer embrio adalah metode yang dilakukan dengan proses pemindahan embrio hasil dari sel telur yang telah dibuahi oleh sperma yang disatukan di dalam media tertentu, kemudian diproses di dalam laboratorium khusus. 

Menurut penelitian dari British Medical Journal (BMJ), metode transfer embrio beku memiliki peluang hamil lebih baik daripada memasukkan embrio segar.

Selain itu, metode transfer embrio beku juga bisa membuat rahim lebih siap untuk memfasilitasi tumbuh kembang bayi yang optimal. 

3. Faktor yang menjadi alasan dilakukannya transfer embrio

Freepik/Jcomp

Metode transfer embrio beku biasanya dilakukan oleh pasangan yang memiliki masalah pada kesuburan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa dilakukannya transfer embrio:

  • Kerusakan pada saluran tuba falopi

  • Masalah pada ovulasi

  • Kegagalan ovarium prematur

  • Endometriosis

  • Fibroid rahim

  • Masalah pada produksi sperma laki-laki

  • Masalah genetik

4. Prosedur transfer embrio

Freepik/DCStudio

Perempuan yang akan menjalani metode transfer embrio harus dalam keadaan yang stabil. Dokter akan melakukan USG untuk melihat kondisi sel telur sebelum dilakukannya transfer embrio.

Berikut ini adalah proses transfer embrio:

  • Dokter akan memberikan obat kesuburan yang harus dikonsumsi pasien atau diberikan suntikan hormon untuk merangsang kesuburan.

  • Dokter melakukan pemilihan sel telur matang terbaik di laboratorium.

  • Di laboratorium, dokter akan menyatukan sel telur dan sperma dalam satu wadah berisi media untuk proses pembuahan.

  • Jika sel telur berhasil dibuahi oleh sperma dan berkembang menjadi embrio, maka bisa dipindahkan ke dalam rahim perempuan.

Proses transfer embrio ini terdiri dari dua jenis, yaitu transfer embrio segar dan transfer embrio beku. Transfer embrio segar dilakukan langsung sekitar 3 hingga 5 hari setelah proses penyatuan sel telur dan sperma dan telah terjadi pembuahan.

Sedangkan transfer embrio beku tidak dilakukan secara langsung. Dokter akan memilih embrio dengan kualitas terbaik dan disimpan untuk digunakan di kemudian hari. Oleh sebab itu, embrio ini akan dibekukan terlebih dahulu dan akan dicairkan saat ingin dipindahkan ke rahim perempuan.

Itulah kisah pasangan suami istri Aisyah Fiyanti dan Rifki yang berhasil melakukan transfer embrio beku.

Jika Mama tertarik untuk melakukan metode ini, Mama bisa berkonsultasi dengan dokter kandungan atau klinik bayi tabung. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Ma!

Baca juga:

The Latest