TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Kekerasan pada Anak saat Pandemi Meningkat, Apa Alasannya?

Tingkat stres dan permasalahan ekonomi merupakan faktor utama

Freepik/master1305

Salah satu hal yang cukup mengejutkan selama pandemi ini adalah bahwa tindak kekerasan oleh orangtua terhadap anak ternyata semakin meningkat. Waktu bertatap muka yang bertambah dengan anggota keluarga yang lain rupanya bukan jaminan untuk keserasian tercipta.

Tentu saja segala bentuk kekerasan memberikan dampak yang buruk terhadap tumbuh-kembang anak. Bukan hanya mampu menuntun kepada penurunan akhlak si Anak, tapi juga dapat menyebabkan penyakit, seperti stroke hingga diabetes.

Untuk informasi selengkpnya, yuk simak ulasan dari Popmama.com tentang kekerasan orangtua terhadap anak selama masa pandemi di bagian berikut ini!

1. Kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia masih marak, bahkan meningkat selama pandemi

Unsplash/Kat J

Tidak banyak masyarakat Indonesia yang sadar kalau fenomena kekerasan anak masih begitu mengkhawatirkan. Menurut data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), dari 3.087 kasus kekerasan yang tercatat, 1848 kasus menunjukkan adanya kekerasan seksual, 852 kasus termasuk kekerasan fisik, dan 852 kasus lainnya merupakan kekerasan psikis pada anak.

Wajib sekali untuk diketahui bahwa terlindung dari segala jenis kekerasan adalah hak setiap anak, Ma. Hal ini telah tertuang dalam pasal 19 Konvensi Hak-hak Anak (KHA) yang berbunyi,

“Tiap anak berhak mendapatkan pengasuhan yang layak, dilindungi dari kekerasan, penganiayaan, dan pengabaian.”

Sayangnya selama pandemi sendiri, jumlah kekerasan pada anak berupa fisik maupun verbal menunjukkan peningkatan sebesar 15%. Padahal, angka tersebut sempat turun di awal-awal pandemi.

“Namun kejenuhan dan tuntutan kerja pada akhirnya meningkatkan angka kejadian kekerasan,” jelas dr. HM. Soeroyo Machfudz, Sp.A (K), MPH, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII).

2. Faktor yang memicu terjadinya kekerasan oleh orangtua terhadap anak selama pandemi

Freepik/karlyukav

Adanya fenomena kekerasan pada anak tidak terlepas dari tingkat stres, persoalan ekonomi, hingga kematangan kepribadian orangtua.

1. Rutinitas yang Semua Beralih ke Rumah

Sebagai contoh, perpanjangan PPKM pastinya memiliki sejumlah efek buruk bagi kesehatan mental. Mama mungkin mengira kalau semakin bertemu dengan anggota keluarga lainnya, maka hubungan akan terjalin semakin kuat. Namun hal sebaliknya bisa pula terjadi.

Karena semua aktivitas dipindahkan ke rumah, capek yang muncul pun lantas juga ‘menumpuk’ di rumah. Hendak keluar supaya pikiran lebih segar, tidak bisa dilakukan karena masih PPKM. Alhasil, rasa bosan, jenuh, dan penat memuncak yang mengakibatkan tersulutnya konflik dalam rumah. Tidak menutup kemungkinan anak-anak menjadi sasaran amarah orangtua.

2. Masalah Ekonomi selama Pandemi

Ketika berbicara soal pandemi, maka masalah ekonomi tidak boleh diabaikan begitu saja. Hampir semua kalangan masyarakat mengalaminya selama virus Corona mewabah. Munculnya permasalahan tersebut semakin menambah tekanan yang harus diemban orangtua.

"Perubahan pada kondisi finansial keluarga akibat adanya Covid-19 (kesulitan mengakses kebutuhan pokok), diyakini akan semakin memperburuk tekanan psikologi pada keluarga yang dapat berdampak fatal bagi kondisi keluarga,” kata Dr. Yulina Eva Riany, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (Fema).

Sejumlah penelitian juga mendukung adanya hubungan perekonomian dengan kekerasan oleh orangtua. Lebih tepatnya menyebutkan bahwa hampir semua tindak kekerasan pada anak berasal dari keluarga dengan kondisi sosial-ekonomi yang rendah.

3. Orangtua yang Minim Pengetahuan dalam Mengasuh Anak

Kedua faktor tersebut sebelumnya lantas diperparah oleh pengetahuan orangtua tentang pola pengasuhan anak. Orangtua yang hanya mengerti pola asuh anak berupa hukuman cenderung menunjukkan sikap kekerasan kepada anak-anaknya.

Hal ini seperti yang terjadi pada kasus pembunuhan yang dilakukan seorang ibu di Tangerang. Putrinya yang masih kelas 1 SD merasa tidak mampu mengikuti proses belajar-mengajar secara daring. Alhasil, ibu tersebut jengkel dan nekat menganiaya hingga nyawa anak kandungnya terenggut.

Dalam hal ini, sabar dan membekali diri dengan pengetahuan tentang pola asuh anak yang tepat sangat penting, Ma.

3. Dampak kekerasan pada otak anak

Freepik

Perlu Mama ketahui bahwa tindak kekerasan yang dialami anak ada hubungannya dengan perkembangan saraf pusatnya. The Early Years Study 2 menyatakan bahwa pembentukan sirkuit dan jalur saraf bisa terganggu jika seorang bayi menerima pengasuhan yang buruk.

Apabila orangtua kerap kali mengabaikan hingga menganiaya si Anak, ada banyak sekali efek jangka panjang yang akan dirasakannya. Anak akan menghadapi masalah dalam mengontrol emosinya; tidak memiliki keterampilan sosial; tidak ada motivasi akademik; sampai dengan masalah terkait pembelajaran dan penyesuaian diri.

Dampak buruk juga dapat dirasakan oleh tubuh. Dosen FKKMK UGM dr. Retno Sutomo memaparkan bahwa anak-anak yang dulu sering dicekoki dengan kekerasan akan rentan terkena sejumlah penyakit ketika mereka dewasa.

“Anak-anak yang mengalami kekerasan saat dewasa akan memiliki risiko lebih besar untuk menderita penyakit jantung, hipertensi, dan gangguan pencernaan,” jelasnya.

Depresi, asma, stroke, diabetes, dan obesitas juga menambah daftar dari dampak negatif pada tubuh anak akibat tindak kekerasan.

4. Dampak kekerasan pada perilaku anak

Freepik/gpointstudio

Selain pada otak dan tubuh, tentu perilaku anak juga terpengaruh. Ada perbedaan mencolok antara anak yang diasuh dengan kasih-sayang dengan mereka yang tak pernah menerima afeksi.

“Saat seorang anak dibesarkan dengan motivasi, toleransi, dan penerimaan, dia akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri serta menghargai,” kata dr. Retno.

Kondisi ini tidak ditemukan dengan anak yang besar di lingkungan keras. Si Anak umumnya cenderung tertutup dan bahkan mudah marah.

Sikap temperamental tersebut diperburuk dengan kepribadian kasarnya. Misalnya, sangat mungkin bagi anak memiliki keinginan untuk melakukan kekerasan pada teman sebayanya.

Ada juga anak yang merasa takut luar biasa. Akibatnya untuk menghilangkan perasaan tertekan tersebut, tidak menutup kemungkinan baginya untuk beralih ke alkohol maupun obat-obatan terlarang.

5. Redam stres untuk menghindari terjadinya kekerasan terhadap anak

Freepik/diana.grytsku

Setelah membaca penjelasan di atas, Mama bisa paham bahwa wajib sekali bagi orangtua untuk selalu bersabar dalam mengasuh anak terutama lagi di kondisi pandemi seperti saat ini. Dalam hal ini, Mama wajib untuk selalu melakukan pengendalian diri dan penenangan diri.

Hal ini karena tindak kekerasan boleh dihindari apabila Mama mampu mengendalikan emosi. Jadi, bisa banget kok untuk mengatakan kepada anak kalau Mama butuh waktu sendiri. Dalam periode yang singkat tersebut, usahakan untuk meredam emosi dan pulihkan kembali akal sehat.

Kalau Mama termasuk tipe orang yang baru tenang setelah bercerita, ajak pasangan atau teman akrab untuk sejenak mendengar curhatan dan keluh-kesah Mama.

Di samping itu, supaya hubungan Mama dengan anak tetap terjaga, jangan lupa untuk meluangkan sedikit waktu untuk bermain dengannya, ya.

"Orang tua merupakan pelindung anak jadi sudah semestinya orang tua menjaga anak dari kekerasan termasuk kekerasan dari orang tua itu sendiri." - Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi.

Mama sudah baca informasi mengenai kekerasan pada anak yang semakin meningkat di masa pandemi. Selain menjaga kesehatan tubuh dari serangan virus, memerhatikan kesehatan hubungan dengan sesama anggota keluarga juga gak kalah penting lho, Ma.

Sebab bukan hanya Mama yang mengalami tekanan, anak mama yang masih SD juga pastinya jenuh selama di rumah saja. Dan karena Mama merupakan pelindungnya, wajib sekali bagi Mama menciptakan kenyamanan dalam rumah untuk anak.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

The Latest