Waspada, Inilah 5 Bahayanya Sering Melakukan Kekerasan Pada Anak

Anak yang terbiasa menerima kekerasan bisa tumbuh menjadi sosok arogan

3 Agustus 2018

Waspada, Inilah 5 Bahaya Sering Melakukan Kekerasan Anak
amazonaws.com

Menghadapi tingkah laku Si Kecil yang kadang menjengkelkan, membuat Mama harus sekuat tenaga menahan emosi.

Apalagi jika ia sudah mulai mengenal dunia luar atau sekolah. Banyak hal di luar sana yang berpotensi memberi pengaruh negatif, sehingga tingkah laku anak Mama kadang tak terkendali.

Sekali dua kali diingatkan dengan ucapan, ia tak menunjukkan perubahan apa-apa dan malah makin membangkang.

Mama menjadi dilema, harus mulai membentak atau tetap bersabar memperlakukan secara baik-baik.

Lama-kelamaan, melihat tingkahnya tak kunjung berubah, Mama tanpa sadar mulai memberinya peringatan fisik.

Awalnya mungkin hanya menjewer atau mencubit, tapi kalau tidak segera Mama atasi, bisa menjadi kebiasaan memberinya peringatan berupa tindakan fisik. Aduh, jangan ya Ma!

Mama perlu tahu, inilah lima dampak negatif yang akan terjadi pada Si Kecil, jika terbiasa menerima kekerasan fisik dari orangtuanya.

1. Memupuk rasa takut dan dendam

1. Memupuk rasa takut dendam
aifs.gov.au

Teguran fisik yang anak terima memicu rasa takut mendalam dalam dirinya. Tak jarang perasaan itu tumbuh menjadi dendam jika terus dibiarkan.

Meski bekas cubitan atau pukulan ringan di kulitnya sudah hilang, ia mengingat jelas sensasinya.

Perpaduan takut, cemas, dan rasa sakit yang tak bisa ia utarakan pada Mama atau Papa, tersimpan sebagai dendam.

2. Sensitif terhadap hukuman

2. Sensitif terhadap hukuman
thepragmaticparent.com
Ma, aku khawatir dan takut...

Karena terbiasa mendapat hukuman berupa kontak fisik, Si Kecil menjadi sensitif terhadap kata “hukuman” itu sendiri.

Jika suatu saat ia melakukan kesalahan di tempat lain, wujud hukuman yang ada di benaknya adalah seperti apa yang dilakukan Mama dan Papa.

Hal sebaliknya juga terjadi ketika ia merasa harus menghukum seseorang. Jika ada orang lain yang membuatnya jengkel atau marah, ia tak segan-segan mengganjarnya dengan kekerasan.

Editors' Picks

3. Kehilangan kepercayaan pada orang dewasa

3. Kehilangan kepercayaan orang dewasa
endeavourmartialarts.co.uk
Kehilangan kepercayaan diri

Anak yang sering mendapat kekerasan fisik di rumah juga berpotensi kehilangan kepercayaan pada orang dewasa.

Ia akan menanamkan anggapan dalam benaknya, bahwa semua orang dewasa adalah sosok menakutkan yang bisa dengan mudah memukul atau mencubit.

Jika Mama dan Papa tak kunjung menyadari hal ini, Si Kecil akan terus tumbuh dengan anggapan tersebut di kepalanya.

Ia bisa menjadi pribadi yang mudah membenci orang lain, dan sering merasa terancam tanpa sebab.

4. Memberinya anggapan bahwa kekerasan adalah solusi

4. Memberi anggapan bahwa kekerasan adalah solusi
Pxhere

Mama dan Papa melakukan kekerasan pada Si Kecil sebagai ganjaran atas perbuatan nakalnya.

Hal yang tertanam di benaknya adalah menganggap kekerasan sebagai solusi. Karena ia tak mau menurut, mengabaikan teguran Mama, maka hasilnya adalah ia harus siap dijewer, dipukul, dicubit, atau malah diguyur air secara paksa di kamar mandi.

Anak-anak adalah peniru terbaik di dunia. Apa yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya menjadi panutan hingga nanti.

Kekerasan juga yang akan ia jadikan solusi untuk masalah yang dihadapi kelak. Jika ia merasa buntu, bingung mencari jalan keluar dan tertekan, melakukan kekerasan bisa dijadikan bentuk pelampiasan emosi.

5. Memicu Perilaku Bullying

5. Memicu Perilaku Bullying
Freepik/Jeswin

Ada beberapa bentuk perilaku bullying, salah satunya adalah penindasan secara fisik. Anak yang terbiasa menyaksikan atau menerima tindakan kekerasan fisik, berpotensi kuat menjadi pelaku bullying jenis ini. Ia mampu mencontoh dengan baik kekerasan yang sebelumnya ditimpakan kepadanya.

Mengerikan ya Ma, dampak yang terjadi pada psikologi anak setelah ia mendapat kekerasan fisik. Mulai berlatih tahan emosi dari sekarang ya, Ma. Bijak dalam bersikap dan mengatakan sesuatu pada Si Kecil.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!