TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

5 Mitos Seputar Vaksin Influenza yang Perlu Mama Ketahui

Faktanya, angka kematian tertinggi akibat penyakit flu terjadi pada anak dibawah 5 tahun

Pixabay/Qimono

Mama tentu sudah tak asing lagi dengan penyakit flu yang disebabkan oleh virus influenza, bukan? Ya, virus influenza mudah sekali menyebar melalui udara dan kontak fisik dengan penderita, terutama saat musim pancaroba tiba. Meskipun terlihat seperti penyakit ringan, faktanya virus ini dapat membahayakan nyawa bagi sebagian orang.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat penderita virus influenza mencapai 5 juta kasus per tahun dengan angka kematian akibat virus ini mencapai 500.000 kasus. Angka kematian tertinggi terjadi pada anak dibawah usia 5 tahun dimana sistem kekebalan tubuh masih belum terbentuk sempurna.

Itulah sebabnya Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian vaksin influenza kepada anak usia 6 bulan ke atas guna mengoptimalkan proteksi tubuh terhadap virus ini.

Sayangnya, banyak orangtua yang justru menyepelekan pemberian vaksin ini. Beberapa anggapan dan mitos yang berkembang membuat orangtua enggan memberikan vaksin ini pada bayi mereka. Padahal, vaksin influenza merupakan perlindungan terbaik terhadap virus ini.

Berikut ini adalah beberapa mitos yang berkembang seputar pemberian vaksin influenza.

1. Terlalu banyak jenis vaksin

Pixabay/Dfuhlert

Banyaknya jenis vaksin yang harus diberikan kepada bayi di bawah 1 tahun seringkali membuat orangtua khawatir dan merasa kasian. Kebanyakan orangtua merasa kasihan dan tidak tega melihat bayi mereka menangis kesakitan saat disuntik. Hal inilah yang menyebabkan orangtua cenderung selektif dalam memilih vaksin yang akan diberikan.

Pada akhirnya, orangtua merasa tidak perlu memberikan vaksin influenza yang dianggap sebagai vaksin sekunder serta tidak memberikan efek signifikan terhadap sistem imunitas anak.

Padahal faktanya influenza adalah salah satu penyakit yang paling sering menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun dan tak jarang diantaranya yang bahkan harus dirawat inap lantaran infeksi virus ini.

2. Vaksin influenza dapat menyebabkan penyakit

Pixabay/Photolizm

Mitos yang berkembang mengatakan bahwa vaksin influenza malah akan menimbulkan penyakit flu di kemudian hari. Padahal faktanya, vaksin ini mengandung virus flu yang sudah tidak aktif sehingga mustahil untuk menyebabkan penyakit.

Namun, ada jenis vaksin flu berupa semprotan hidung (nassal spray) yang menurut Centers for Disease Control and Prevention, memang mengandung virus flu yang sudah dilemahkan, sehingga aman untuk digunakan.

3. Vaksin influenza menimbulkan efek samping

Pixabay/Flockine

Efek samping yang ditimbulkan dari pemberian vaksin flu ini tergolong ringan dan tidak berbahaya. Pada sebagian orang, vaksin ini menimbulkan gejala demam ringan, nyeri, kulit kemerahan dan bengkak di area bekas suntikan. Namun kondisi ini akan membaik dengan sendirinya.

Baca juga: EV-71, Temuan Virus Baru yang Lebih Mematikan dari Flu Singapura

Baca juga: Gejala Seperti Flu Selama Masa Awal Kehamilan

Baca juga: Tips Menjaga Tubuh Tetap Sehat dan Awet Muda

4. Vaksin flu berbahaya bagi ibu hamil dan janin

Freepik/Freepic.diller

Vaksin flu seringkali dianggap dapat membahayakan kesehatan janin pada ibu hamil. Padahal faktanya, calon Mama yang terinfeksi virus flu beresiko terkena komplikasi serius akibat dari penyebaran virus ini, seperti bronkitis serta infeksi pada dada yang dapat menyebabkan pneumonia.

Komplikasi dari infeksi virus ini bahkan dapat menyebabkan bayi lahir prematur atau lahir dengan berat badan rendah.

5. Virus flu tidak efektif melawan virus

Pixabay/4330009

Kebanyakan orang berpikir bahwa vaksin influenza tidak efektif menangkal virus flu. Ya, beberapa orang memang kemungkinan masih bisa terinfeksi virus flu.

Kondisi ini wajar dan mungkin terjadi jika virus flu sudah lebih dulu masuk ke dalam tubuh sebelum vaksin diberikan.

Tidak perlu khawatir Ma, pemberian vaksin influenza justru akan membantu meringankan gejala penyakit flu yang dialami di kemudian hari. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Baca juga: Seperti Anak Cynthia Lamusu, Kelahiran Prematur Berisiko Terkena ROP

Baca juga: Jangan Lupa! Ini 3 Vaksin yang Sangat Penting untuk Remaja

The Latest