TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Olahraga Angkat Beban saat Hamil, Perhatikan Hal Penting Ini!

Bahaya atau tidak, tergantung bagaimana melakukannya

Unsplash/John Arano

Kehamilan adalah fase yang mengubah banyak hal dari tubuh. Karenanya, ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan, termasuk dalam hal olahraga. 

Walaupun aktivitas ini sangat disarankan demi memperlancar persalinan, namun Mama juga harus memilah mana yang tidak membahayakan ibu dan bayi. 

Lalu bagaimana dengan calon ibu yang sebelumnya terbiasa melakukan olahraga angkat beban? Amankah melakukannya saat hamil?

Berikut ini Popmama.com merangkum informasi seputar olahraga angkat beban saat hamil. 

Keamanan Angkat Beban saat Hamil itu Relatif

Unsplash/Sergio Pedemonte

Sebenarnya tidak ada jawaban yang universal atas pertanyaan tersebut karena semua bergantung pada kondisi tubuh. Namun secara umum, Mama bisa melanjutkan aktivitas, termasuk olahraga angkat beban, seperti biasa pada trimester pertama. 

Sedangkan pada trimester kedua dan ketiga, olahraga ini tetap bisa dilakukan namun dengan modifikasi.
Selain bisa dikatakan aman, olahraga angkat beban juga membawa berbagai manfaat.

Meski demikian, Mama harus punya pengetahuan yang cukup sebelum melakukannya selama kehamilan. Ada banyak hal yang perlu diketahui soal olahraga berat ini.

Manfaat Melakukan Olahraga Angkat Beban saat Hamil

Pexels/freestocks.org

Kehamilan memang bukan alasan untuk berhenti berolahraga. Mama bahkan disarankan rutin melakukan aktivitas fisik untuk mempermudah proses persalinan.


Olahraga angkat beban juga bukan sesuatu yang dilarang karena terbukti bisa memberikan manfaat sebagai berikut:

  • Olahraga teratur bisa membantu menjaga berat badan.
  • Menurunkan risiko terserang diabetes gestasional hingga 59 persen.
  • Mengurangi risiko terjadinya preeklampsia, yaitu tekanan darah tinggi saat hamil.
  • Memperbaiki mood dan menghindarkan dari risiko depresi saat hamil dan sesudah melahirkan.
  • Melindungi dari risiko sakit punggung, sebagaimana yang sering dialami ibu hamil.
  • Membantu perkembangan bayi di dalam kandungan.
  • Lebih memiliki kekuatan saat menghadapi kontraksi persalinan.

Selama dilakukan dengan benar, aktivitas ini takkan membahayakan tubuh mama dan bayi di dalam kandungan. Olahraga angkat beban bahkan bisa membantu menyeimbangkan hormon sehingga gejala-gejala tidak nyaman selama kehamilan bisa dikurangi. 

Hal yang Harus Diperhatikan Jika Angkat Beban saat Hamil

Unsplash/Tony Woodhead

Walau memiliki banyak manfaat, namun Mama tidak boleh ceroboh saat melakukan olahraga angkat beban dalam kondisi hamil.

Ada hal-hal yang harus diperhatikan agar aktivitas ini memberikan manfaat maksimal sekaligus menjadi hal menyenangkan saat dijalani. Berikut beberapa di antaranya:

1. Berat Beban

Seberapa besar beban yang bisa diangkat akan bergantung pada kondisi tubuh masing-masing. Namun penelitian menunjukkan bahwa olahraga angkat beban seberat 20 kilogram yang dilakukan lebih dari 10 kali sehari akan meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Meski demikian, angka tersebut hanya rata-rata . Seseorang bisa saja melakukan yang lebih berat sedangkan yang lainnya hanya mampu kurang dari itu.

2. Seberapa Sering Melakukannya

Seperti halnya poin di atas, tidak ada aturan pasti terkait intensitas melakukan olahraga angkat beban. Pasalnya, setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda. 

Namun sebagaimana dilansir dari Healtline, Mama bisa mencoba melakukannya tiga kali seminggu. Jika hal ini menyebabkan bengkak pada beberapa bagian tubuh, coba kurangi intensitasnya hingga satu kali seminggu.

Konsultasi Dulu dengan Dokter

Freepik/gpointstudio

Mengingat setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda, maka akan lebih baik jika Mama berkonsultasi dulu dengan dokter. Walaupun olahraga ini dianggap aman, mungkin ada beberapa hal yang membuat ibu hamil sebaiknya memilih aktivitas lain.

Berikut ini adalah beberapa kondisi ibu hamil yang tidak disarankan untuk melakukan angkat beban:

  • Ibu mengandung anak kembar
  • Memiliki riwayat penyakit jantung atau paru-paru
  • Pernah menjalani cervical cerclage (penjahitan rahim)
  • Usia kandungan di atas 26 minggu dan didiagnosis mengidap plasenta previa
  • Pernah mengalami persalinan prematur atau kondisi sudah pecah ketuban
  • Mengalami preeklampsia
  • Mengidap anemia parah

Jika mengalami kondisi di atas, Mama disarankan untuk memilih olahraga yang lebih ringan. Sekalipun Mama tidak mengalami masalah di atas, kosultasi dengan dokter juga akan membantu memantau seberapa intens tubuh mama bisa melakukan olahraga ini.

Hal-Hal yang Tak Boleh Dilakukan

Unsplash/Jonathan Borba

Jika Mama sudah mendapat lampu hijau dari dokter, maka lakukan olahraga angkat beban dengan leluasa. Namun sekali lagi, jangan sampai terlalu memaksa diri. 

Ada beberapa hal yang tak boleh dilakukan jika Mama melakukan aktivitas ini dalam kondisi hamil:

  • Melakukan gerakan yang berisiko menimbulkan luka atau lebam.
  • Jika usia kehamilan sudah melewati trimester pertama, jangan mengangkat beban hingga ke atas kepala.
  • Jangan berbaring di permukaan datar saat usia kehamilan sudah lewat trimester pertama.
  • Meletakkan beban di pinggang bisa membuat Mama merasa pusing, terutama jika dilakukan setelah trimester pertama.

Berdasarkan penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa olahraga angkat beban aman dilakukan oleh ibu hamil. Meski demikian, Mama tetap harus memperhatikan aturan dokter untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Mama juga sebaiknya didampingi personal trainer yang berpengalaman mendampingi ibu hamil.

Selamat berolahraga, Ma!

Baca juga:

Topic:

The Latest