Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Kerumut Pada Bayi? Ini Penjelasan dan Bahayanya
Pexels.com/Ksenia Chernaya
  • Kerumut atau campak adalah penyakit akibat virus yang sangat mudah menular dan dapat menyebabkan kondisi serius pada bayi maupun anak-anak.

  • Sekitar 1 dari 10 penderita campak dapat mengalami komplikasi seperti pneumonia, diare, infeksi telinga, hingga gangguan pernapasan; kasus tertentu dapat memicu ensefalitis atau kematian.

  • Anak yang belum mendapat vaksin MMR dan ibu hamil berisiko lebih tinggi; pencegahan dilakukan melalui imunisasi serta isolasi anak hingga sekitar lima hari setelah ruam muncul.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kerumut atau campak adalah sakit karena virus. Bayi dan anak bisa punya bintik merah dan demam. Sakit ini mudah menular ke orang lain. Campak bisa membuat anak sangat sakit, seperti diare atau radang paru-paru. Vaksin MMR membantu melindungi anak. Jika anak sakit, ia perlu di rumah dan bertemu dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kulit bayi yang masih sangat sensitif membuat berbagai perubahan kecil sering kali menarik perhatian Mama.

Ketika muncul bintik atau ruam yang terlihat berbeda dari biasanya, kondisi tersebut tentu dapat membuat Mama bertanya-tanya mengenai penyebabnya.

Salah satu kondisi kulit yang dapat dialami bayi adalah kerumut, yaitu munculnya bintik-bintik kecil pada kulit yang dapat terjadi karena beberapa faktor. Mengenali kondisi ini dapat membantu Mama lebih memahami perubahan yang terjadi pada kulit Si Kecil.

Untuk mengetahui lebih lanjut, Popmama.com telah merangkum informasi mengenai kerumut pada bayi, mengutip dari Kids Health. Yuk, disimak!

1. Apa itu kerumut atau campak?

Pexels.com/Ksenia Chernaya

Campak atau kerumut merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kondisi serius pada bayi maupun anak-anak. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan dapat menyebar dengan sangat mudah dari satu orang ke orang lainnya.

Di berbagai negara, campak telah menyebabkan banyak kasus kematian pada anak. Oleh karena itu, pemberian imunisasi menjadi salah satu perlindungan penting untuk membantu mencegah penyebaran penyakit ini.

2. Seberapa berbahayakah campak?

Pexels.com/@ Prestige by Nature

Campak bukan sekadar penyakit ringan yang hanya menyebabkan ruam dan demam. Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi campak dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, bahkan berisiko menyebabkan kematian.

Sekitar 1 dari 10 orang yang terkena campak dapat mengalami komplikasi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi meliputi diare, infeksi telinga, pneumonia, hingga gangguan pada saluran pernapasan seperti bronkiolitis dan croup.

Pada beberapa kasus, campak juga dapat menyebabkan luka pada kornea mata atau idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP), yaitu kondisi ketika jumlah trombosit dalam tubuh menurun.

Sementara itu, ibu hamil yang terkena campak memiliki risiko lebih tinggi mengalami persalinan prematur, keguguran, hingga bayi lahir meninggal.

Komplikasi yang lebih serius juga dapat terjadi, meski lebih jarang. Sekitar 1 dari 1.000 orang dengan campak dapat mengalami peradangan otak (ensefalitis). Kondisi ini dapat menyebabkan dampak jangka panjang, seperti kerusakan otak permanen.

Selain itu, dalam kasus yang sangat jarang, seseorang yang pernah terkena campak dapat mengalami komplikasi bernama subacute sclerosing panencephalitis (SSPE) beberapa tahun kemudian.

Kondisi ini merupakan peradangan otak serius yang dapat berakibat fatal.

3. Siapa yang berisiko terkena campak?

Pexels.com/Mohamad Mekawi

Campak dapat menyerang siapa saja, tetapi ada beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular. Salah satunya adalah anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap.

Anak yang belum menerima setidaknya satu dosis vaksin MMR (measles, mumps, rubella) memiliki risiko lebih besar terkena campak. Vaksin MMR berperan dalam membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap penyakit ini.

Selain anak yang belum divaksinasi, kelompok lain seperti anak dengan kondisi tertentu yang tidak dapat menerima vaksin MMR juga perlu mendapatkan perhatian khusus.

Mereka biasanya bergantung pada perlindungan dari orang-orang di sekitarnya yang sudah memiliki kekebalan.

Ibu hamil juga termasuk kelompok yang perlu mewaspadai campak. Infeksi campak selama kehamilan dapat meningkatkan risiko terjadinya persalinan prematur, keguguran, serta berat badan lahir rendah pada bayi.

4. Cara mencegah campak agar tidak menyebar

Pexels.com/Luis Becerra Fotógrafo

Jika Si Kecil terkena campak, penting untuk membatasi kontak dengan orang lain agar risiko penularan dapat berkurang. Selama masih dalam masa infeksi, anak sebaiknya tidak mengikuti berbagai aktivitas di luar rumah, seperti:

  • Tempat penitipan anak, layanan pendidikan anak usia dini, atau sekolah

  • Kegiatan kelompok dan acara sosial

  • Acara olahraga maupun rekreasi

  • Tempat umum seperti bioskop dan pusat perbelanjaan

  • Lingkungan kerja atau kegiatan komunitas

Anak perlu menjalani masa isolasi hingga tidak lagi menularkan campak. Umumnya, periode menular akan berakhir sekitar 5 hari setelah ruam campak muncul. Mama juga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan arahan sesuai kondisi Si Kecil.

Itu dia informasi mengenai apa itu kerumut pada bayi. Jika Si Kecil menunjukkan gejala campak, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article