Dalam upaya pengobatan sindrom Sandifer juga turut dilakukan tindakan untuk mengurangi gejala GERD. Sebagian besar yang disarankan dokter adalah mengubah kebiasaan makan pada bayi, antara lain memberi makan bayi secukupnya, menjaga postur bayi tetap tegak selama setengah jam setelah menyusui.
Bagi bayi yang minum susu formula, dianjurkan menggunakan susu formula protein terhidrolisis atau menghentikan sama sekali semua konsumsi produk susu jika dokter menduga bayi memiliki sensitivitas protein susu.
Apabila cara-cara di atas masih belum berhasil, dokter mungkin akan menyarankan obat-obatan yang mengandung antasida, penghambat reseptor H2, atau pun inhibitor pompa proton.
Masing-masing obat ini memiliki efek samping yang potensial dan mungkin tidak selalu efektif mengurangi gejala.
Dalam kasus yang jarang terjadi, bayi mama mungkin memerlukan prosedur pembedahan disebut fundoplication nissen. Pembedahan ini dilakukan dengan membungkus bagian atas perut di sekitar esofagus bagian bawah yang bertujuan mengencangkan bagian tersebut untuk mencegah asam masuk ke kerongkongan yang menyebabkan rasa sakit.
Pada bayi, GERD biasanya akan berangsur menghilang dengan sendirinya setelah usia 18 bulan saat otot di esofagus semakin matang. Sindrom Sandifer pun akan berlalu seiring hal tersebut.
Demikian informasi mengenai sindrom sandifer pada bayi. Meski sebagian besar kasus sindrom ini tidak serius, tetapi dapat sangat menyakitkan bagi bayi dan menyebabkan masalah makan yang bisa memengaruhi pertumbuhannya. Jadi, jika Mama mendapati gejala-gejala di atas, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.