- kulit mereka sangat sensitif terhadap sinar matahari dan tidak boleh terkena sinar matahari langsung
- makanan mereka (ASI atau makanan padat) mungkin tidak mengandung cukup vitamin D
- antara usia 0 hingga 12 bulan, bayi tumbuh sangat cepat dan memiliki kebutuhan vitamin D yang lebih besar untuk membentuk tulang yang kuat
Kapan Waktu yang Tepat Memberikan Vitamin D untuk Bayi?

- Bayi perlu vitamin D untuk pertumbuhan tulang dan gigi yang kuat
- Vitamin D sebaiknya diberikan setelah makanan utama yang mengandung lemak
- Bayi membutuhkan 400-600 IU vitamin D setiap hari untuk mencegah penyakit dan membentuk tulang yang kuat
Di masa tumbuh kembangnya, bayi membutuhkan vitamin dan mineral. Salah satunya adalah vitamin D untuk mendukung pertumbuhan tulang dan gigi yang kuat.
Vitamin D bisa diperoleh lewat ASI dan MPASI. Dalam kondisi tertentu, bayi mungkin membutuhkan suplemen vitamin D untuk memenuhi kebutuhan vitamin hariannya.
Bagaimana Mama bisa mengetahui apakah kebutuhan vitamin D bayi sudah terpenuhi atau belum? Kapan waktu yang tepat memberikan vitamin D untuk bayi?
Untuk membantu Mama, Popmama.com sudah merangkum informasi tentang pemberian vitamin D untuk bayi.
Kapan Waktu yang Tepat Memberikan Vitamin D untuk Bayi?

Bayi yang hanya diberi ASI berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan vitamin D, dibanding bayi yang minum susu formula. ASI memang makanan pokok bayi, tapi tak mengandung cukup vitamin D untuk memenuhi kebutuhan harian si Kecil.
Sebagai solusinya, biasanya dokter akan meresepkan suplemen tetes untuk asupan vitamin D untuk si Kecil. Bahkan bayi yang minum susu formula pun juga masih butuh tetes vitamin D, sampai mereka mulai mendapatkan cukup asupan tersebut dari makanan padat.
Bila bayi harus mengonsumsi suplemen vitamin D, kapan waktu yang tepat memberikan vitamin D untuk bayi? Dilansir dari unggahan dr. Nur Agus Guna Winarto Wijata, Sp.A di laman Instagram pribadinya @dr.aguswijata, vitamin D sebaiknya diminum setelah makanan utama yang mengandung lemak, baik itu makan pagi atau siang. Pasalnya, vitamin D larut dalam lemak.
Jika diminum saat perut kosong, penyerapannya kurang maksimal, Ma.
Pastikan asupan vitamin D untuk bayi juga tidak berlebihan. Kontrol jumlah vitamin D tetes yang dikonsumsi si Kecil, agar mereka tidak overdosis.
Terlau banyak vitamin D pada bayi bisa menyebabkan beberapa efek samping. Bayi bisa mual, muntah, kebingungan, hilang nafsu makan, kehausan yang berlebihan, bahkan nyeri otot dan sendi, juga sembelit dan sering buang air kecil.
Kenapa Bayi Membutuhkan Vitamin D?

Semua anak membutuhkan vitamin D sejak lahir.
Anak-anak di bawah usia 12 bulan membutuhkan 400 unit internasional (IU) vitamin D setiap hari.
Anak-anak usia 12 hingga 24 bulan membutuhkan 600 IU vitamin D setiap hari.
Vitamin D membantu membangun dan memelihara tulang dan gigi yang kuat pada bayi dan anak-anak.
Tubuh kita dapat menghasilkan vitamin D dari sinar matahari. Tetapi bayi tidak dapat memperoleh vitamin D yang mereka butuhkan dari sinar matahari secara aman.
Bayi membutuhkan vitamin D karena:
Vitamin D Membantu Melawan Penyakit

Penelitian menunjukkan bahwa vitamin D memainkan peran penting dalam membantu sistem kekebalan tubuh.
Vitamin D dapat membantu mencegah:
- diabetes
- penyakit jantung
- artritis reumatoid
- MS (sklerosis multipel)
- beberapa jenis kanker
Dalam kasus yang parah, kadar vitamin D yang rendah dapat menyebabkan rakhitis atau osteomalasia pada anak-anak.
Rakhitis adalah kondisi yang menyebabkan tulang lunak. Hal ini dapat menyebabkan kelainan bentuk tulang yang parah seperti kaki bengkok dan tulang belakang melengkung.
Rakhitis pada orang dewasa dikenal sebagai osteomalasia atau tulang lunak. Hal ini dapat menyebabkan seringnya patah tulang, kelemahan otot, dan nyeri tulang.
Sumber Vitamin D untuk Bayi

Berikut beberapa sumber vitamin D untuk bayi selama masa pertumbuhan:
- ASI. ASI biasanya tidak menyediakan semua vitamin D yang dibutuhkan bayi. Bayi yang hanya diberi ASI atau yang menerima ASI dan susu formula perlu mengonsumsi suplemen vitamin D sebanyak 400 IU setiap hari.
- Susu formula. Untuk bayi yang hanya menerima susu formula, maka uplementasi vitamin D tidak diperlukan. Bayi bisa mendapatkan susu formula yang diperkaya dengan vitamin D.
- MPASI. Pastikan MPASI bayi mengandung vitamin D. Beberapa contoh makanan yang mengandung vitamin D meliputi: salmon, tuna, dan telur. Bayi bisa mengonsumsi produk yang diperkaya vitamin D, seperti yogurt atau sereal.
Suplemen vitamin D juga dapat digunakan jika bayi tidak mendapatkan cukup vitamin D dari makanannya. Bicarakan dengan dokter vitamin D pada pemeriksaan bayi berikutnya jika Mama memiliki pertanyaan.
Itu penjelasan mengenai kapan waktu yang tepat memberikan vitamin D untuk bayi. Semoga kebutuhan vitamin D bayi selalu terpenuhi, ya, Ma.


















