Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Kenapa Bayi Sering Kaget seperti Kejang? Ini Penjelasannya
Pexels/Luu An
  • Bayi sering kaget seperti kejang umumnya normal karena refleks Moro, yaitu reaksi alami bayi terhadap sensasi jatuh atau suara tiba-tiba yang berfungsi sebagai mekanisme perlindungan.

  • Refleks Moro biasanya muncul sejak lahir dan menghilang antara usia 2 hingga 6 bulan seiring perkembangan kontrol gerak bayi; pada bayi prematur, refleks ini bisa bertahan lebih lama.

  • Orangtua perlu berkonsultasi dengan dokter jika refleks Moro tidak hilang setelah 6 bulan, hanya terjadi di satu sisi tubuh, atau disertai gejala menyerupai kejang infantil.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagai orangtua, Mama tentu khawatir jika ada sesuatu yang tidak biasa terjadi pada si Kecil.

Mama mungkin memerhatikan bayi terkejut atau bereaksi tiba-tiba saat Mama mencoba menidurkannya. Atau bayi sering kaget seperti kejang. Apakah kondisi ini normal? Atau justru merupakan masalah kesehatan pada bayi yang perlu diwaspadai orangtua?

Bila bayi sering kaget seperti kejang, yuk, simak penyebabnya yang sudah dirangkum Popmama.com pada ulasan berikut ini.

Bayi Sering Kaget seperti Kejang, Apakah Ini Normal?

Pexels/br prch

Bayi sering kaget seperti kejang merupakan hal yang normal, Ma. Hal ini pada umumnya disebabkan oleh refleks Moro.

Refleks ini menyebabkan bayi kaget saat dilepaskan dari gendongan dan mudah terbangun. Bisa juga, kondisi seperti ini disebabkan oleh mimpi, peralihan fase tidur, atau gangguan dari lingkungan (misalnya terlalu bising atau silau). Termasuk kaget seperti kejang.

Refleks Moro adalah salah satu dari beberapa refleks normal yang dimiliki bayi sehat sejak lahir. "Refleks terkejut" ini juga merupakan salah satu hal yang diperiksa dokter bayi segera setelah lahir dan selama kunjungan kesehatan bayi.

Bagaimana Cara Memeriksa Refleks Moro pada Bayi Baru Lahir?

Pexels/Kasia Mizera

Mama dapat memeriksa refleks Moro bayi dengan menciptakan sensasi jatuh. Salah satu caranya adalah dengan memegang bayi di tangan Mama (dengan kepala ditopang) dan dengan cepat menurunkannya. Itu mensimulasikan sensasi jatuh sambil tetap menjaga tubuh dan kepala bayi tetap ditopang.

Jika bayi memiliki refleks Moro yang normal, mereka akan tampak terkejut. Mereka akan merentangkan lengan ke samping dengan telapak tangan menghadap ke atas dan ibu jari ditekuk. Bayi mungkin juga menangis. Ketika Mama menopang kepala bayi lagi, mereka akan menarik lengan mereka kembali ke tubuh, menekuk siku, dan rileks.

Mengapa Bayi Memiliki Refleks Moro?

Pexels/Enrique Hoyos

Refleks Moro bersifat protektif. Bayi tidak dapat secara sengaja meminta bantuan atau berteriak jika mereka merasa akan jatuh. Itulah mengapa refleks ini melakukannya secara otomatis.

Refleks Moro terjadi ketika sistem vestibular bayi mendeteksi sensasi jatuh. Hal itu menyebabkan sinyal darurat dikirim ke batang otak bayi, mengaktifkan refleks tersebut.

Janin dapat memiliki refleks Moro sejak trimester kedua, tetapi biasanya baru muncul pada trimester ketiga. Bayi biasanya tidak memiliki refleks ini setelah usia 6 bulan.

Biasanya, refleks Moro secara bertahap berubah menjadi refleks terkejut lainnya, yaitu refleks Strauss. Refleks tersebut tetap ada sepanjang hidup kita. Refleks strauss membuat seseorang melompat atau tersentak, lalu mengevaluasi apakah dirinya dalam bahaya.

Kapan Refleks Moro Hilang?

Pexels/Masood Aslami

Refleks Moro pada bayi menghilang sekitar usia 2 hingga 6 bulan ketika mereka mampu menopang kepala mereka sendiri. Seiring perkembangan otak bayi dan mereka mendapatkan kontrol yang lebih baik atas gerakan mereka, refleks ini tidak lagi dibutuhkan.

Bayi prematur biasanya memiliki refleks Moro yang lebih lemah, dan refleks ini biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk menghilang dibandingkan pada bayi yang lahir cukup bulan. Hal ini karena bayi prematur mungkin memiliki tonus otot yang lebih buruk dan gerakan lengan yang lebih lambat daripada bayi yang lahir cukup bulan.

Tahapan perkembangan bayi prematur akan mencerminkan apa yang akan terjadi jika mereka tetap berada di dalam rahim hingga mencapai usia kehamilan penuh. Karena itu, bayi mungkin memiliki refleks Moro lebih lama dari 6 bulan.

Namun jika bayi masih memiliki refleks Moro setelah berusia 6 bulan, Mama harus membicarakannya dengan dokter anak. Ini mungkin berarti sistem saraf bayi bekerja berbeda dari yang diharapkan. Bayi yang masih memiliki refleks Moro setelah berusia 6 bulan mungkin:

  • Terlalu sensitif terhadap suara atau kejadian yang mengejutkan

  • Cemas

  • Hiperaktif

Jika ini terjadi pada bayi, ada perawatan yang mungkin membantu. Perawatan ini berfokus pada penggunaan latihan khusus yang melatih sistem saraf bayi untuk bereaksi lebih seperti seharusnya. Dokter anak dapat memberi tahu Mama lebih banyak tentang hal ini dan memberikan rekomendasi.

Kapan Harus Menghubungi Dokter?

Pexels/tima miroshnichenko

Jangan khawatir jika bayi tidak selalu tersentak setiap kali ada suara keras atau cahaya terang. Tetapi jika bayi sama sekali tidak memiliki refleks Moro, itu bisa jadi karena masalah medis. Ini termasuk cedera saat lahir, masalah pada otak, atau kelemahan otot secara umum.

Berikut beberapa hal yang perlu diwaspadai:

  • Refleks Moro abnormal. Refleks Moro yang hanya terjadi di satu sisi tubuh (asimetris) mungkin disebabkan oleh cedera, seperti kerusakan saraf atau sumsum tulang belakang, atau patah tulang selangka. Jika refleks Moro bayi tidak hilang setelah 6 bulan, ini bisa menjadi tanda masalah lain seperti keterlambatan perkembangan keterampilan motorik atau cerebral palsy.

  • Refleks Moro yang berlebihan. Bayi yang refleks tersentaknya memicu respons ekstrem terhadap gerakan tiba-tiba, suara, atau sentuhan mungkin memiliki kelainan bawaan langka yang disebut hiperekpleksia. Refleks Moro yang disertai kejang, kekakuan, atau kedipan cepat adalah tanda dari gangguan neurologis ini.

  • Refleks Moro setelah 6 bulan. Kunjungi dokter anak jika bayi mempertahankan refleks Moro lebih dari 6 bulan. Ini mungkin merupakan keterlambatan perkembangan atau gejala masalah sistem saraf. Autisme, gangguan perhatian defisit hiperaktif (ADHD), dan gangguan belajar dan perkembangan telah dikaitkan dengan refleks Moro yang berkelanjutan.

Melihat bayi tampak ketakutan atau menangis karena mengira akan jatuh mungkin bukan sesuatu yang ingin Mama lihat. Tetapi refleks tersebut normal, sehat, dan merupakan cara utama bagi dokter untuk memastikan bayi sehat.

Jika Mama memiliki pertanyaan tentang refleks Moro bayi, bicarakan dengan dokter. Dokter dapat memberi tahu Mama lebih banyak tentang refleks tersebut, cara kerjanya, dan apakah ada hal yang perlu dikhawatirkan.

Nah, itu penjelasan tentang mengapa bayi sering kaget seperti kejang. Semoga bisa membantu Mama dalam merawat si Kecil, ya.

Editorial Team