Pexels/tima miroshnichenko
Jangan khawatir jika bayi tidak selalu tersentak setiap kali ada suara keras atau cahaya terang. Tetapi jika bayi sama sekali tidak memiliki refleks Moro, itu bisa jadi karena masalah medis. Ini termasuk cedera saat lahir, masalah pada otak, atau kelemahan otot secara umum.
Berikut beberapa hal yang perlu diwaspadai:
Refleks Moro abnormal. Refleks Moro yang hanya terjadi di satu sisi tubuh (asimetris) mungkin disebabkan oleh cedera, seperti kerusakan saraf atau sumsum tulang belakang, atau patah tulang selangka. Jika refleks Moro bayi tidak hilang setelah 6 bulan, ini bisa menjadi tanda masalah lain seperti keterlambatan perkembangan keterampilan motorik atau cerebral palsy.
Refleks Moro yang berlebihan. Bayi yang refleks tersentaknya memicu respons ekstrem terhadap gerakan tiba-tiba, suara, atau sentuhan mungkin memiliki kelainan bawaan langka yang disebut hiperekpleksia. Refleks Moro yang disertai kejang, kekakuan, atau kedipan cepat adalah tanda dari gangguan neurologis ini.
Refleks Moro setelah 6 bulan. Kunjungi dokter anak jika bayi mempertahankan refleks Moro lebih dari 6 bulan. Ini mungkin merupakan keterlambatan perkembangan atau gejala masalah sistem saraf. Autisme, gangguan perhatian defisit hiperaktif (ADHD), dan gangguan belajar dan perkembangan telah dikaitkan dengan refleks Moro yang berkelanjutan.
Melihat bayi tampak ketakutan atau menangis karena mengira akan jatuh mungkin bukan sesuatu yang ingin Mama lihat. Tetapi refleks tersebut normal, sehat, dan merupakan cara utama bagi dokter untuk memastikan bayi sehat.
Jika Mama memiliki pertanyaan tentang refleks Moro bayi, bicarakan dengan dokter. Dokter dapat memberi tahu Mama lebih banyak tentang refleks tersebut, cara kerjanya, dan apakah ada hal yang perlu dikhawatirkan.
Nah, itu penjelasan tentang mengapa bayi sering kaget seperti kejang. Semoga bisa membantu Mama dalam merawat si Kecil, ya.