Malam-malam panjang karena si Kecil susah tidur pasti bikin Mama dan Papa kelelahan. Rasanya baru saja terpejam, tetapi sudah harus bangun lagi untuk menenangkan bayi yang rewel di tengah malam.
5 Metode Sleep Training untuk Bayi yang Efektif dan Aman

Sleep training membantu bayi belajar tidur dan kembali tidur mandiri, tetapi tidak ada satu metode yang cocok untuk semua bayi dan keluarga.
Fading serta pick-up/put-down menawarkan pendekatan lebih responsif dengan pengurangan bantuan bertahap, namun membutuhkan observasi, tenaga, kesabaran, dan konsistensi.
CIO, chair, dan Ferber memiliki tingkat kehadiran orangtua berbeda; penerapannya disesuaikan usia bayi, kesiapan keluarga, serta konsistensi rutinitas.
Nah, di sinilah sleep training bisa menjadi solusi. Metode ini membantu bayi belajar tidur dan kembali tidur sendiri tanpa harus selalu dibantu orangtua.
Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua bayi, jadi penting bagi Mama untuk mengenal beberapa pilihan sebelum memutuskan yang pas. Berikut Popmama.com mengulas 5 metode sleep training untuk bayi, dikutip dari The Mother Baby Center. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
1. Fading Method

Pexels/kenan zhang Metode fading cocok untuk Mama yang ingin melakukan pendekatan lembut tanpa membiarkan si Kecil menangis dalam waktu yang lama.
Caranya, Mama tetap melakukan rutinitas menidurkan bayi seperti biasa, seperti menggendong, menyanyikan lagu, atau mengayunkan bayi, tapi durasinya dikurangi sedikit demi sedikit setiap malam.
Metode ini termasuk kategori gentle sleep training karena mengikuti isyarat alami tidur bayi, bukan memaksakan jadwal. Metode ini umumnya diterapkan pada bayi mama usia 5-8 bulan yang jam tidurnya belum konsisten.
Meski terasa lebih lembut, prosesnya butuh kesabaran ekstra karena hasilnya biasanya tidak instan. Mama perlu observasi rutin dan konsisten agar si Kecil benar-benar terbiasa tidur tanpa bantuan penuh.
2. Pick-Up/Put-Down Method

Pexels/upender photography Sesuai namanya, metode ini melibatkan aksi gendong-turunkan berulang kali. Begitu si Kecil diletakkan di tempat tidur dan mulai rewel, Mama memberi jeda sebentar sebelum menggendongnya kembali untuk menenangkannya.
Setelah tenang, letakkan lagi bayi mama sebelum ia benar-benar tertidur di pelukan, lalu ulangi proses ini hingga ia tertidur dengan sendirinya.
Metode ini umumnya diterapkan pada bayi usia 4-6 bulan dan terasa lebih responsif karena Mama tetap menenangkan tanpa harus menyusui atau mengayun sampai tidur penuh.
Meski terdengar sederhana, metode ini bisa memakan waktu cukup lama, apalagi jika si Kecil sering terbangun di malam hari. Dibutuhkan tenaga dan dedikasi ekstra dari Mama untuk menjalankannya secara konsisten.
3. Cry-It-Out Method (CIO)

Pexels/Polina Smelova Metode ini dilakukan dengan cara, yaitu setelah menjalani rutinitas sebelum tidur dan memastikan si Kecil sudah kenyang serta aman, Mama meletakkannya di tempat tidur dan tidak kembali ke kamar sampai pagi, meski bayi menangis.
Metode ini biasanya diterapkan pada bayi usia 6 bulan ke atas yang secara perkembangan sudah siap tidur dalam waktu lebih lama. Beberapa keluarga melihat hasil hanya dalam beberapa hari setelah menerapkan metode ini secara konsisten.
Tantangan terbesarnya ada pada sisi emosional orangtua karena harus menahan diri untuk tidak langsung menghampiri bayi yang menangis. Jika metode ini terasa terlalu berat bagi Mama, tidak masalah untuk memilih pendekatan lain yang lebih sesuai dengan nilai keluarga.
4. Chair Method

Pexels/Eric Moura Metode chair atau sitback ini dilakukan dengan meletakkan kursi di samping tempat tidur bayi. Mama duduk di sana sampai si Kecil tertidur, dan jika ia terbangun lagi, Mama kembali duduk di kursi yang sama.
Setiap malam, posisi kursi digeser sedikit lebih jauh dari tempat tidur hingga akhirnya keluar dari kamar sepenuhnya. Metode ini cocok diterapkan pada bayi usia 6 bulan ke atas yang masih membutuhkan kehadiran orang tua saat tidur.
Metode ini cukup menantang karena Mama harus menyaksikan si Kecil menangis tanpa langsung menenangkannya. Prosesnya pun cenderung memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan metode lain sebelum benar-benar terlihat hasilnya.
5. Ferber Method

Pexels/Antoni Shkraba Ferber method, yang juga dikenal dengan istilah controlled crying maupun check and console method, dinamai sesuai nama dokter yang mengembangkannya. Dalam metode ini, Mama tetap meletakkan si Kecil di tempat tidur meskipun ia menangis.
Mama diperbolehkan menengok bayi pada interval waktu tertentu, misalnya setiap 5, 10, atau 15 menit, dengan jeda yang makin lama setiap kali. Saat menengok, Mama boleh menepuk atau mengajak bicara si Kecil, tapi sebaiknya tidak langsung menggendongnya.
Metode ini umumnya diterapkan pada bayi usia 4-6 bulan ke atas dan dinilai memberi struktur yang jelas sekaligus tetap memberi rasa aman lewat kehadiran orang tua secara berkala. Konsistensi menjadi kunci utama agar metode ini benar-benar berhasil.
Setiap bayi dan keluarga punya kebutuhan yang berbeda, jadi tidak ada metode sleep training yang paling benar. Mama bisa mencoba satu metode dulu, dan jika dirasa kurang cocok, tidak masalah untuk beralih ke metode lain yang lebih sesuai.
Nah, itulah pembahasan mengenai 5 metode sleep training untuk bayi yang harus Mama ketahui sebelum memilih metode mana untuk mencoba. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!























