Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Studi: Autisme Berkembang Berbeda pada Anak Perempuan dan Laki-Laki
Pexels/Greta Fotografía
  • Sebuah studi dalam jurnal Brain menemukan bahwa perkembangan autisme pada anak perempuan berbeda dari anak laki-laki, dipengaruhi oleh perbedaan genetik dan aktivitas otak yang unik.

  • Penelitian menggunakan fMRI menunjukkan anak perempuan dengan autisme mengaktifkan area otak berbeda dibandingkan anak tanpa autisme, menandakan mekanisme neurologis berbasis jenis kelamin.

  • Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan diagnosis dan intervensi yang disesuaikan dengan profil genetik serta pola otak masing-masing jenis kelamin untuk hasil perawatan yang lebih tepat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Autisme adalah gangguan neurologis dan perkembangan yang kompleks yang dapat memengaruhi keterampilan sosial, pembelajaran, dan komunikasi.

Meskipun gangguan spektrum autisme (ASD) hadir pada penderita autisme sejak lahir, biasanya tidak didiagnosis hingga masa kanak-kanak. Namun demikian, para ahli telah mengidentifikasi beberapa tanda awal autisme pada bayi.

Selain itu, studi mengungkapkan jika autisme berkembang berbeda pada anak perempuan dan laki-laki. Untuk mengetahui penjelasannya, yuk, simak rangkuman informasinya pada ulasan Popmama berikut.

Studi Ungkap Autisme Berkembang Berbeda pada Anak Perempuan dan Laki-laki

Pexels

Menurut studi, sebagian besar penelitian tentang perkembangan ASD (autism spectrum disorder) telah difokuskan pada anak laki-laki. Namun kesimpulan yang diambil untuk anak laki-laki mungkin tidak berlaku untuk anak perempuan.

Para ahli telah lama percaya bahwa perkembangan autisme berbeda pada anak laki-laki dan perempuan. Namun sebuah studi kini mengonfirmasi klaim tersebut, dengan mengaitkan perbedaan perkembangan tersebut dengan perbedaan gen.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Brain ini meneliti teknologi pencitraan otak yang dikombinasikan dengan penelitian genetik untuk lebih memahami efek ASD pada anak perempuan.

Menurut para peneliti, efek pada anak perempuan kurang diteliti karena diagnosis ASD empat kali lebih umum pada anak laki-laki.

Peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) untuk melihat aktivitas otak selama interaksi sosial, melacak hal-hal seperti ekspresi wajah dan gerak tubuh.

Peneliti menemukan bahwa anak perempuan dengan autisme menggunakan bagian otak yang berbeda dari anak perempuan tanpa autisme. Yang lebih mengejutkan, perbedaan antara anak perempuan dengan dan tanpa autisme tidak sama dengan perbedaan antara anak laki-laki dengan dan tanpa autisme.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa mekanisme otak yang berbeda yang terlibat dalam autisme mungkin didasarkan pada jenis kelamin biologis seseorang.

Para peneliti juga menemukan bahwa kontributor genetik antara kedua jenis kelamin sangat berbeda. Anak perempuan memiliki lebih banyak varian gen langka yang aktif selama perkembangan awal striatum, wilayah otak yang berperan dalam mengatur perilaku motorik, menafsirkan interaksi sosial, persepsi penghargaan, dan banyak lagi.

Peneliti percaya bahwa efek pada striatum mungkin berperan dalam risiko ASD (autism spectrum disorder) pada anak perempuan.

Konvergensi pencitraan otak dan data genetik memberi kita wawasan baru yang penting tentang penyebab autisme pada anak perempuan.

Menurut para peneliti, temuan studi ini menunjukkan bahwa kesimpulan yang diambil dari studi yang terutama menganalisis anak laki-laki dengan ASD tidak boleh diasumsikan berlaku juga untuk anak perempuan dengan ASD.

Studi baru ini memberi kita peta jalan untuk memahami bagaimana mencocokkan intervensi berbasis bukti saat ini dan di masa mendatang dengan profil otak dan genetik yang mendasarinya, sehingga kita dapat memberikan perawatan yang tepat kepada individu yang tepat.

Apa Saja Tanda-Tanda Autisme pada Bayi?

Pexels

Beberapa orangtua mulai memerhatikan tanda-tanda awal autisme ketika bayi mereka berusia sekitar 6 hingga 12 bulan—dan mungkin bahkan lebih awal.

Semua bayi berkembang pada garis waktu yang berbeda, tetapi bayi dengan autisme mungkin lebih lambat mencapai tonggak perkembangan tertentu atau mereka mungkin melewatkannya sama sekali. Misalnya, beberapa bayi autis mungkin tidak berkomunikasi melalui suara atau gerakan atau merespons rangsangan sosial seperti bayi neurotipikal.

Penting untuk dicatat bahwa tanda-tanda berikut bukanlah bukti konklusif autisme. Itu hanyalah hal-hal yang dokter perhatikan untuk menentukan apakah dokter perlu melakukan penilaian lebih lanjut terhadap bayi.

Kemungkinan tanda-tanda awal autisme pada bayi baru lahir hingga usia 3 bulan meliputi:

  • Tidak mengikuti objek bergerak dengan mata

  • Sensitif terhadap suara keras

  • Ekspresi wajah terbatas

  • Pengenalan wajah yang buruk (terutama wajah baru)

  • Tanda-tanda autisme pada bayi usia 4 hingga 7 bulan meliputi:

  • Menunjukkan ketidakminatan terhadap suara tertentu (seperti tidak menoleh untuk mencari sumber suara)

  • Kurangnya kasih sayang

  • Ocehan terbatas

  • Ekspresi verbal terbatas (seperti tidak tertawa atau mengeluarkan suara melengking)

  • Tidak meraih benda

  • Tidak menggenggam atau memegang benda

  • Menunjukkan ekspresi wajah dan/atau reaktivitas emosional yang terbatas (seperti tidak tersenyum sendiri)

Tanda-tanda autisme pada bayi usia 8 hingga 12 bulan meliputi:

  • Kemungkinan tanda-tanda autisme pada bayi yang lebih besar usia 8 hingga 12 bulan meliputi:

  • Mungkin tidak merangkak

  • Mungkin menghindari kontak mata

  • Ucapan terbatas atau tidak dapat dipahami

  • Mungkin tidak menggunakan isyarat seperti melambaikan tangan atau menggelengkan kepala

  • Mungkin tidak menunjuk ke benda atau gambar

  • Mungkin tampak tidak seimbang atau tidak mampu berdiri bahkan saat ditopang

Apa yang Harus Dilakukan jika Bayi Menunjukkan Tanda-Tanda Autisme

Pexels

Jika orangtua melihat beberapa tanda potensial autisme pada bayi, orangtua disarankan menjadwalkan kunjungan dengan dokter anak.

Orangtua akan membahas masalah perkembangan, dan dokter akan mengevaluasi bayi untuk autisme. Ada bukti yang menunjukkan bahwa semakin cepat orangtua mendapatkan diagnosis, semakin awal orangtua dapat mengikuti intervensi perkembangan dan perilaku.

Intervensi dini dimaksudkan untuk membantu anak-anak autis berkembang hingga potensi penuh mereka. Otak dapat merespons perawatan lebih efektif pada usia yang lebih muda, yang dapat membuat intervensi lebih efektif.

Seiring bertambahnya usia anak, intervensi tersebut mungkin termasuk terapi wicara, terapi okupasi, konseling kesehatan mental, dan apa pun yang orangtua dan tim perawatan kesehatan yakini akan membantu si Kecil berkembang.

Tujuan utamanya adalah untuk membuat gejala anak lebih mudah dikelola dan meningkatkan kualitas hidup mereka semaksimal mungkin.

Cara Mengelola Diagnosis Autisme

Pexels/Kaboompics.com

Meskipun diagnosis autisme mungkin tampak mengkhawatirkan, orang dengan autisme dapat dan memang menjalani kehidupan yang bahagia dan memuaskan. Mengetahui bahwa anak berada dalam spektrum autisme bukanlah hal yang buruk. Mendapatkan diagnosis dapat membantu orangtua lebih memahami cara kerja otak anak dan cara mendukungnya.

Meskipun tidak ada jaminan atau jawaban pasti, prognosis untuk anak dengan autisme dapat dipengaruhi oleh intervensi dan pengobatan dini, menurut Autism Research Institute (ARI). Autisme tidak dapat disembuhkan, tetapi ada pengobatan berbasis bukti yang dapat membantu dan mendukung orang dengan autisme.

Penting untuk dicatat bahwa pengobatan ini dimaksudkan untuk mendukung orang dengan autisme, bukan untuk menyembuhkan mereka.

Itu penjelasan studi tentang autisme berkembang berbeda pada anak perempuan dan laki-laki. Semoga informasi ini bermanfaat!

Editorial Team