Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Alergi Susu Sapi pada Bayi Bisa Hilang? Ini Penjelasannya
Freepik/freepik
  • Alergi susu sapi terjadi saat sistem imun bayi menganggap protein susu sapi sebagai ancaman; IDAI mencatat sekitar 5–7,5% bayi terdampak, terutama di bawah usia satu tahun.
  • Sebagian besar anak dapat pulih seiring sistem imun matang: sekitar 50% pada usia satu tahun, lebih dari 75% pada tiga tahun, dan lebih dari 90% pada enam tahun.
  • Saat bayi alergi, susu sapi dan olahannya perlu dihindari sesuai anjuran dokter; kebutuhan nutrisi tetap dipantau, termasuk konsultasi pola makan ibu menyusui dan pengganti formula.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Alergi susu sapi merupakan salah satu kondisi yang cukup sering dialami bayi, terutama pada tahun pertama kehidupannya.

Kondisi ini terjadi ketika sistem imun tubuh menganggap protein yang terdapat dalam susu sapi sebagai zat asing yang berbahaya, kemudian memberikan respons alergi.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sekitar 5–7,5% bayi mengalami alergi terhadap susu sapi dan sebagian besar kasus tersebut terjadi pada bayi berusia di bawah satu tahun. 

Faktor genetik juga menjadi salah satu faktor risiko utama. IDAI menyebutkan bahwa sekitar 40% bayi yang lahir dari mama dengan riwayat alergi juga berisiko mengalami alergi.

Lantas, apakah alergi susu sapi pada bayi bisa hilang? Simak pembahasannya telah Popmama.com rangkum dari berbagai sumber. 

Seberapa Sering Bayi Mengalami Alergi Susu Sapi?

Freepik.com/fabrikasimf

Mengutip dari laman WebMD, alergi terhadap susu sapi sebenarnya tidak dialami oleh semua bayi. Pada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, hanya sekitar 0,5% yang mengalami alergi susu sapi dan gejalanya biasanya berada dalam kategori ringan hingga sedang. 

Hal ini menjadi salah satu alasan para ahli merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 4-6 bulan pertama kehidupan bayi. Bayi yang memiliki riwayat alergi dalam keluarga diketahui memiliki kemungkinan lebih besar mengalami alergi terhadap protein susu sapi. 

Risiko tersebut juga dapat meningkat pada bayi yang mengalami eksim dan asma. Pada anak yang memiliki asma, reaksi alergi terhadap susu sapi dapat menjadi lebih berat, terutama apabila kondisi penyakit paru-parunya tidak terkontrol dengan baik.

Selain riwayat keluarga dan kondisi kesehatan tertentu, makanan yang dikonsumsi bayi dan Mama selama menyusui juga dapat berhubungan dengan munculnya alergi.

Penyebab Bayi Alergi Susu Sapi

Unsplash/Lucy Wolski

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali zat yang sebenarnya tidak berbahaya, dalam hal ini protein dari makanan, sebagai benda asing yang harus dilawan. 

Sistem imun kemudian menyerang zat tersebut seperti ketika tubuh melawan bakteri atau virus. Respons tubuh yang tidak normal tersebut menyebabkan pelepasan berbagai zat kimia, sehingga memicu munculnya gejala alergi.

Apakah Alergi Susu Sapi pada Bayi Bisa Hilang?

Freepik/wirestock

Sebagian besar anak dapat sembuh dari alergi susu sapi seiring bertambahnya usia. Pasalnya, alergi susu sapi dapat menghilang secara bertahap seiring perkembangan sistem kekebalan tubuh anak yang semakin matang dan kuat. 

Sekitar 50% bayi dapat sembuh dari alergi susu sapi ketika berusia satu tahun. Angka tersebut meningkat menjadi lebih dari 75% pada usia tiga tahun dan lebih dari 90% pada usia enam tahun. 

Meski alergi susu sapi sudah menghilang, anak tetap memiliki risiko mengalami alergi terhadap jenis makanan lainnya sebelum memasuki masa pubertas. 

Beberapa makanan yang dapat menjadi pemicu alergi antara lain telur, kedelai, kacang-kacangan, buah sitrus, dan ikan. Meski begitu, alergi terhadap susu sapi pada orang dewasa tergolong jarang terjadi. 

Hal yang Bisa Dilakukan saat Bayi Mengalami Alergi Susu Sapi

Pexels/Ron Lach

Susu dan berbagai produk olahannya merupakan salah satu sumber penting kalsium. Mineral ini dibutuhkan tubuh untuk membantu pertumbuhan tulang dan gigi yang kuat, mendukung fungsi otot dan saraf, serta menjaga kesehatan berbagai sistem tubuh.

Oleh karena itu, jika bayi dinyatakan mengalami alergi susu sapi, kebutuhan nutrisinya tetap perlu diperhatikan meskipun harus menghindari susu sapi dan produk olahannya.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan ketika bayi mengalami alergi terhadap susu sapi:

  • Hindari produk olahan susu jika anak masih mengonsumsi ASI. Protein dari susu sapi yang dikonsumsi Mama dapat masuk ke dalam ASI dan berpotensi memicu reaksi alergi pada bayi. Karena itu, Mama perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai makanan yang perlu dihindari selama masa menyusui. 

  • Hindari makanan yang mengandung susu sapi. Produk seperti keju, yoghurt, dan makanan olahan lainnya yang menggunakan susu sapi sebagai bahan dapat memicu reaksi alergi sehingga perlu dihindari sesuai anjuran dokter. 

  • Jika anak mengalami alergi terhadap susu formula berbahan dasar susu sapi, konsultasikan penggantinya dengan dokter. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah susu formula berbahan dasar kedelai, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak.

Jadi, alergi susu sapi pada bayi sebagian besar dapat sembuh seiring dengan bertambahnya usia si Kecil. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi para orangtua, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article