Makanan instan sering menjadi penyelamat bagi Mama yang memiliki kesibukan padat. Praktis, mudah disiapkan, dan disukai anak membuat jenis makanan ini kerap menjadi pilihan menu sehari-hari. Namun, tidak semua makanan instan baik dikonsumsi terlalu sering.
Konsumsi Makanan Ultraproses Bisa Pengaruhi Emosi dan Perilaku Anak

- Penelitian di Kanada menunjukkan anak yang sering makan makanan ultraproses berisiko lebih tinggi mengalami gangguan emosi dan perilaku seperti mudah cemas serta sulit mengelola perasaan.
- Studi dari CHLA dan USC menemukan konsumsi makanan ultraproses sejak dini berkaitan dengan perubahan area otak subkortikal yang berperan dalam emosi, motivasi, dan pembelajaran anak.
- Makanan ultraproses umumnya mengandung banyak bahan tambahan buatan; dokter menyarankan pengurangan bertahap dan menggantinya dengan makanan alami agar emosi serta perilaku anak lebih stabil.
Salah satu yang perlu diwaspadai adalah makanan ultraproses (ultra-processed food/UPF), yaitu produk pangan yang telah melalui berbagai tahapan pengolahan industri. Jika dikonsumsi secara berlebihan, makanan ultraproses dapat membuat asupan gizi si Kecil menjadi kurang optimal. Tak hanya itu, terdapat penelitian yang menunjukkan bagaimana konsumsi UPF berpotensi memengaruhi emosi dan perilaku anak.
Berikut Popmama.com rangkum penjelasan soal konsumsi makanan ultraproses bisa pengaruhi emosi dan perilaku anak. Yuk, simak informasinya, Ma!
Table of Content
Konsumsi Makanan Ultraproses Bisa Pengaruhi Emosi dan Perilaku Anak

dr. Agus Wijata Sp.A melalui akun TikTok @dr.aguswijata menjelaskan bahwa sebuah penelitian di Kanada yang melibatkan lebih dari 2.000 anak menemukan adanya kaitan antara pola makan dan kondisi emosi anak. Dalam penelitian tersebut, pola makan anak usia 3 tahun diamati, lalu perkembangan emosi dan perilaku mereka dievaluasi saat usia 5 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang lebih sering mengonsumsi makanan ultraproses cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan emosi dan perilaku. Mereka dilaporkan lebih mudah merasa cemas, kesulitan mengelola emosi, serta menunjukkan perilaku yang lebih menantang dibandingkan anak yang jarang mengonsumsi makanan jenis tersebut.
Bagaimana Makanan Ultraproses Memengaruhi Emosi dan Perilaku Anak?

Terdapat juga studi ilmiah berjudul “Early-life cumulative intake of ultraprocessed foods and subcortical brain volume at age 6 y: a prospective cohort study” yang dipublikasikan pada 2 Juni 2026. Penelitian tersebut meneliti hubungan antara konsumsi makanan ultraproses dan perkembangan otak anak.
Penelitian ini dipimpin oleh Jonatan Ottino-González bersama tim dari Children’s Hospital Los Angeles (CHLA) dan University of Southern California (USC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultraproses yang tinggi berkaitan dengan perubahan pada beberapa area otak subkortikal.
Area-area ini memiliki peran penting dalam mengatur emosi, motivasi, pembelajaran, serta respons tubuh terhadap rangsangan. Semakin tinggi konsumsi UPF sejak dini, semakin terlihat perbedaan pada perkembangan area otak tersebut ketika anak memasuki usia sekolah. Beberapa area otak yang ditemukan terkait dalam penelitian ini antara lain:
Nucleus accumbens (kanan dan kiri): Berperan dalam sistem penghargaan dan motivasi
Amigdala kiri: Mengatur emosi dan respons rasa takut
Pallidum (kanan dan kiri): Berperan dalam gerakan dan motivasi
Putamen kiri: Berkaitan dengan pembentukan kebiasaan dan pembelajaran motorik
Talamus (kanan dan kiri): Pusat penghubung informasi sensorik ke otak
Apa Itu Makanan Ultraproses?

Makanan ultraproses atau ultra-processed food (UPF) adalah makanan yang sudah diolah secara pabrik dengan banyak tambahan bahan buatan. Biasanya, makanan ini tidak lagi berbentuk makanan asli seperti buah, sayur, atau daging, karena sudah diubah menjadi produk siap makan atau siap saji.
Makanan jenis ini juga diberi banyak tambahan seperti perasa, pewarna, pemanis, dan pengawet supaya rasanya lebih enak, aromanya lebih menarik, dan tahan lebih lama. Karena itu, makanan ultraproses sering terasa lebih “nagih” dan ingin dimakan terus.
Contoh Makanan Ultraproses yang Sering Diberikan pada Anak

Makanan ultraproses sering ditemui dalam bentuk kemasan atau siap saji. Tanpa disadari, Mama terkadang memberikan jenis makanan ini sebagai menu MPASI atau camilan si Kecil.
Beberapa contoh makanan ultraproses yang sering diberikan pada anak antara lain:
Keripik kentang aneka rasa
Biskuit isi krim dan wafer
Permen kenyal atau lolipop
Sereal manis
Mi instan dengan bumbu perasa
Nugget ayam beku siap gorengSosis instan
Donat beku siap olah
Roti putih kemasan tahan lama
Yoghurt manis kemasan dengan berbagai topping
Bagaimana jika Anak Sudah Terlanjur Senang Makan Ultraproses?

dr. Agus Wijata menjelaskan bahwa makanan seperti nugget, biskuit, atau makanan instan tidak langsung menimbulkan masalah jika hanya sesekali dikonsumsi. Namun, jika si kecil sudah terlanjur sering mengonsumsinya, hal ini masih bisa diperbaiki.
Caranya dengan perlahan mengurangi makanan ultraproses dan menggantinya dengan makanan yang lebih alami dan minim proses. Seiring perubahan pola makan tersebut, emosi dan perilaku anak dapat berangsur menjadi lebih stabil.
Itu penjelasan tentang konsumsi makanan ultraproses bisa pengaruhi emosi dan perilaku anak. Yuk, perhatikan lagi asupan si Kecil!


















