Malam setelah video penyekapan itu beredar luas di media sosial, bocah kelas empat SD itu akhirnya memberanikan diri bercerita kepada orangtuanya tentang apa yang sebenarnya terjadi selama ini.
Dari cerita S, terungkap bahwa ia sering diejek, diolok-olok, dan pernah dipukul oleh teman sebayanya. Tidak hanya sekali dua kali. Menurut pengakuan keluarga, pemukulan itu terjadi berkali-kali yang diperkirakan sekitar 10 kali oleh pelaku yang sama.
Hal ini diperkuat oleh cerita nenek korban, Zurlita. Ia mengaku pernah menemukan bekas lebam di tubuh cucunya.
“Saya sering menemukan lebam. Saat ditanya, anaknya cuma diam karena takut orang tuanya konflik sama orang tua temannya itu,” ujar Zurlita.
Sebelum kejadian viral ini, S sempat mengadu ke ibu pelaku. Namun tidak ada penyelesaian atau permintaan maaf. Justru S memohon agar pelaku tidak dimarahi.
Fenomena ini sering terjadi pada korban bullying. Mereka memilih diam karena merasa takut, malu, bahkan merasa bersalah atas perlakuan yang diterima. Alih-alih melawan, mereka justru khawatir kehilangan teman atau dianggap penyebab konflik baru.
Bagi orangtua S, momen pengakuan itu menjadi titik paling menyayat. S diam karena ia tidak ingin membuat masalah.
Padahal justru ia yang menjadi korban.