Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
35 Aturan Sosial yang Wajib Diajarkan ke Anak Sejak Dini
Freepik/partystock
  • Aturan sosial penting diajarkan sejak dini agar anak memiliki keterampilan hidup dan hubungan sosial yang baik.

  • Orangtua dapat mengajarkan berbagai aturan seperti komunikasi yang sopan, menghormati batasan, jujur, rendah hati, empati, dan tanggung jawab.

  • Dengan bimbingan dan contoh dari orangtua, anak dapat belajar menerapkan aturan sosial secara konsisten seiring bertambahnya usia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengajarkan anak tentang aturan sosial bukan hanya soal sopan santun, tetapi tentang membekali mereka dengan keterampilan hidup yang akan berguna hingga dewasa nanti.

Aturan-aturan ini membentuk karakter anak dan menentukan bagaimana mereka diperlakukan oleh orang lain. Anak yang menguasai keterampilan sosial dasar cenderung lebih percaya diri, dihormati, dan sukses dalam kehidupan sosial mereka.

Sayangnya, banyak aturan sosial penting yang tidak tertulis dan sering terlewatkan dalam pendidikan anak. Orangtua kadang berasumsi anak akan belajar sendiri seiring waktu, padahal bimbingan langsung sangat diperlukan.

Berikut Popmama.com rangkum 35 aturan sosial yang wajib diajarkan ke anak sejak dini!

1. Komunikasi yang baik

Freepik

Cara anak berkomunikasi sangat menentukan respons yang mereka terima dari orang lain. Bukan tentang banyak bicara atau selalu benar, namun tentang menyampaikan pesan dengan jelas dan penuh hormat. Yang bisa Mama ajarkan untuk anak adalah:

  • Sapa orang lain dengan percaya diri, anak yang bisa menyapa dengan jelas langsung mendapat perhatian lebih dari orang dewasa. Sapaan pertama penting karena menentukan kesan awal. Latih anak untuk menyapa sambil menatap mata lawan bicara, suara cukup jelas terdengar, tidak terlalu pelan atau terlalu keras. Jika anak Mama pemalu, mulai dari melatih di rumah dengan anggota keluarga sampai terbiasa.

  • Jangan potong pembicaraan orang lain, menyela adalah tanda anak tidak sabar dan terkesan kurang sopan. Menunggu giliran bicara justru bikin anak terlihat lebih dewasa. Ajarkan anak bahwa mendengarkan sampai selesai baru berbicara adalah bentuk penghargaan. Jika mendesak, anak bisa ucapkan "maaf, boleh aku bicara sebentar?" sambil menunggu lawan bicara memberi kesempatan.

  • Bicara dengan jelas, bukan dengan keras. Banyak anak pikir jika bicara keras berarti percaya diri. Padahal yang membuat orang dengar itu kejelasan, bukan volume. Ajarkan anak untuk artikulasi yang baik, tempo bicara yang tidak terlalu cepat, dan volume yang disesuaikan dengan situasi. Bicara dengan tenang justru membuat orang lebih fokus untuk mendengarkan.

  • Tatap mata saat bicara dengan orang lain, kontak mata adalah tanda anak benar-benar memperhatikan. Orang akan lebih menganggap serius anak yang bisa menatap mata saat bicara. Untuk anak yang malu, mulai dari kontak mata singkat dahulu, tidak perlu lama-lama. Yang penting ada usaha untuk menatap, bukan terus-terusan lihat ke bawah atau ke arah lain.

  • Hormati orang dewasa namun jangan sampai takut. Ada sedikit perbedaan antara hormat dan takut, namun dampaknya besar. Anak yang hormat bisa berkomunikasi dengan sopan namun tetap percaya diri. Anak yang takut cenderung menjadi pendiam dan tidak berani bertanya. Ajarkan anak bahwa boleh bertanya, boleh meminta klarifikasi, boleh menyampaikan pendapat ke orang dewasa asalkan dengan cara yang sopan.

  • Jika tidak mengerti, langsung bertanya. Anak yang berani bertanya justru anak yang pintar karena mereka mau belajar. Jangan sampai anak merasa malu bertanya dan akhirnya salah paham atau membuat kesalahan. Hilangkan stigma bahwa bertanya itu bodoh.

2. Rasa hormat dan batasan

Freepik

Memahami batasan pribadi adalah dasar dari hubungan sosial yang sehat. Anak yang tidak paham batasan akan sering bikin orang lain tidak nyaman tanpa sadar. Mama bisa ajarkan ini kepada anak:

  • Ketuk pintu sebelum masuk ruangan orang lain, ini adalah aturan dasar privasi yang harus ditanamkan sejak kecil. Setiap orang punya hak atas ruang pribadi mereka, termasuk anak. Ajarkan dengan konsisten, bahkan di rumah sendiri anak harus ketuk pintu kamar orangtua atau kakak dan adiknya. Jelaskan bahwa ini bukan soal tidak dipercaya, namun soal menghormati privasi.

  • Jangan sembarangan pegang barang orang lain, tidak semua yang anak lihat boleh disentuh atau dimainkan. Ajarkan anak untuk selalu minta izin dulu sebelum pegang barang orang lain, termasuk barang kakak dan adik sendiri. Jika ditolak, anak harus bisa menerima dengan baik tanpa merajuk atau maksa.

  • Kembalikan barang pinjaman dalam kondisi baik, ini adalah soal tanggung jawab dan rasa hormat. Anak yang bisa merawat barang pinjaman dengan baik akan dipercaya lagi di lain waktu. Ajarkan anak untuk lebih hati-hati sama barang pinjaman daripada barang sendiri. Jika bisa, kembalikan dalam kondisi lebih bersih atau rapi dari waktu dipinjam.

  • Jaga kebersihan tempat bersama, misalnya toilet sekolah, meja belajar di perpustakaan, area bermain, semua itu tanggung jawab bersama. Ajarkan anak untuk meninggalkan tempat umum dalam kondisi rapi setelah dipakai. Buang sampah pada tempatnya, rapikan kursi setelah berdiri, bersihkan tumpahan jika tidak sengaja menumpahkan sesuatu.

  • Bisa bilang “tidak” dengan sopan, anak harus paham bahwa mereka boleh menolak hal yang tidak nyaman buat mereka. Ajarkan kalimat penolakan yang sopan seperti "Maaf, aku tidak bisa" atau "Terima kasih, tapi aku tidak mau". Jelaskan bahwa menolak bukan berarti jahat atau tidak baik, namun tentang menghormati perasaan diri sendiri.

  • Jangan main video atau game dengan suara keras di tempat umum, tidak semua orang mau mendengar apa yang anak tonton atau mainkan. Jika ingin mendengar suaranya, gunakan earphone. Jika tidak punya, turunkan volume sampai hanya anak yang dengar.

3. Kejujuran dan konsistensi

Freepik

Kejujuran adalah tentang konsistensi antara apa yang dikatakan dan dilakukan. Anak yang jujur akan dipercaya dan dihormati orang lain. Mama bisa ajarkan ini:

  • Jujur namun dengan cara yang baik. Jujur itu penting, namun cara menyampaikannya juga sama pentingnya. Kebenaran yang disampaikan dengan kasar bisa jadi menyakitkan dan merusak hubungan. Ajarkan anak untuk jujur namun tetap mempertimbangkan perasaan orang lain. Misalnya daripada ucap "gambarmu jelek", lebih baik ucapkan "mungkin bisa ditambahkan warna di sini biar lebih bagus".

  • Jangan membicarakan orang di belakang, jika tidak berani ucapkan di depan orangnya, jangan ucap di belakangnya. Ajarkan anak untuk bicara langsung jika ada masalah dengan seseorang, bukan bercerita ke orang lain. Hal itu merusak kepercayaan dan reputasi, baik orang yang digosipkan maupun yang nggosip.

  • Jangan bocorkan rahasia orang, jika seseorang mempercayai anak dengan rahasia, itu tandanya mereka percaya penuh. Mengkhianati kepercayaan itu sangat sulit diperbaiki. Ajarkan anak bahwa rahasia orang lain bukan bahan obrolan ringan atau cara untuk dapat perhatian. Jika memang rahasia yang berbahaya, anak bisa bercerita ke orangtua, bukan ke teman-teman.

  • Akui kontribusi orang lain, akui kesalahan sendiri. Jika berhasil karena bantuan orang lain, akui. Jika salah, jangan lempar kesalahan ke orang lain. Ajarkan anak untuk tulus dalam memberi kredit namun juga berani mengakui kesalahan sendiri. Misalnya "terima kasih sudah bantu aku, jadi projeknya bisa selesai" atau "maaf, itu salah aku yang lupa".

  • Tepati janji, meski janji kecil. Janji kecil yang sering dilanggar merusak kepercayaan. Ajarkan anak untuk tidak sembarangan berjanji. Jika sudah janji, harus ditepati. Jika ternyata tidak bisa menepati, sampaikan jauh-jauh hari dengan alasan yang jelas dan minta maaf. Anak yang bisa dipegang janjinya akan dipercaya lebih dalam hal-hal besar.

4. Rendah hati dan bersyukur

Freepik

Anak yang rendah hati dan bersyukur lebih mudah diterima dalam oleh teman-temannya. Mereka tidak terkesan sombong atau merasa lebih dari orang lain. Untuk itu, Mama bisa ajarkan ini pada anak:

  • Ucapkan terima kasih tanpa harus diingatkan, rasa terima kasih itu harus diucapkan dari hati, bukan karena disuruh. Ajarkan anak untuk langsung mengucapkan terima kasih setiap kali dibantu, diberi sesuatu, atau diperlakukan baik. Ini bukan sekadar sopan santun, anmun bentuk penghargaan yang membuat orang senang membantu anak lagi di lain waktu.

  • Jangan pamer, anak yang suka bercerita kehebatan sendiri justru kurang dihargai. Biarkan orang lain yang cerita tentang kehebatan anak. Ajarkan anak bahwa percaya diri yang tenang itu lebih menarik dari pamer. Jika anak mempunyai prestasi, tidak masalah bangga, namun tidak perlu digembar-gemborkan ke semua orang.

  • Beri pujian tanpa mengharap balasan. Pujian yang tulus itu baik, ajarkan anak untuk mengapresiasi hal baik yang dilakukan orang lain tanpa mengharap dipuji kembali. Misalnya "gambarmu bagus, aku suka warnanya" atau "terima kasih sudah bantu aku tadi". Anak yang suka memberi pujian tulus akan disukai banyak orang.

  • Jangan pamerkan kebaikan yang dilakukan, kebaikan paling tulus itu yang dilakukan tanpa perlu diketahui orang. Ajarkan anak bahwa membantu orang bukan untuk dapat pujian atau pengakuan. Bantu karena memang ingin membantu, bukan karena ingin dilihat baik oleh orang lain. Kebaikan yang diam-diam justru membangun karakter yang kuat.

5. Empati dan kepedulian

Freepik

Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan apa yang orang lain rasakan. Anak yang punya empati tinggi akan punya hubungan sosial yang lebih sehat. Mama bisa ajarkan ini pada anak:

  • Jangan ejek penampilan atau keluarga orang. Komentar tentang fisik atau keluarga itu bisa sangat menyakitkan dan membekas lama. Ajarkan anak bahwa ada banyak hal yang bisa jadi bahan obrolan tanpa harus menyinggung hal-hal sensitif. Jika anak pernah membuat komentar yang menyakitkan, ajari mereka untuk minta maaf dengan tulus.

  • Bela orang yang diperlakukan tidak adil, keberanian bukan hanya soal fisik, namun juga moral. Ajarkan anak untuk berani angkat suara jika melihat ada yang diperlakukan tidak adil, meski itu bukan diri mereka sendiri. Tidak harus dengan cara yang heroik, bisa dimulai dari hal sederhana seperti “hei, jangan seperti itu!" atau melapor ke guru.

  • Ajak anak yang pendiam ikut bermain, satu ajakan sederhana bisa mengubah seluruh hari seseorang. Ajarkan anak untuk lebih peka dengan siapa yang sendirian atau terlihat kesepian. Ajak mereka ikut bermain atau ngobrol. Ini mengajarkan anak untuk tidak hanya fokus pada pertemanan mereka sendiri namun juga peduli pada orang lain.

  • Jangan ejek orang yang tidak tahu sesuatu, anak yang merasa aman bertanya akan jadi orang dewasa yang berani belajar tanpa rasa takut. Ajarkan anak bahwa semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang satu tahu belum tentu yang lain tahu, dan itu wajar. Jika ada yang tidak tahu, bantu jelaskan dengan sabar, jangan diejek.

  • Jangan paksa orang lakukan sesuatu yang tidak nyaman, kenyamanan penting dalam setiap situasi, bukan hanya hal-hal besar. Ajarkan anak untuk menghargai jika ada teman yang tidak mau. Jangan paksa, jangan bujuk terus-menerus, terima saja keputusan mereka. Ini juga melindungi anak dari tekanan teman sebaya di masa depan.

  • Jangan bagikan foto atau video memalukan orang lain. Di era digital, satu video memalukan bisa merusak hidup seseorang. Ajarkan anak bahwa tidak semua momen lucu atau memalukan perlu didokumentasikan dan disebarkan. Tanya dulu orangnya nyaman atau tidak jika difoto atau direkam. Jika sudah terlanjur punya, jangan disebarkan tanpa izin.

  • Berpikir sebelum unggah apapun, terutama online. Internet sifatnya permanen. Apa yang diposting hari ini bisa dilihat bertahun-tahun kemudian. Ajarkan anak untuk selalu berpikir dua kali sebelum unggah, apakah ini bisa menyakiti seseorang? Apakah akan menyesal posting ini nanti? Apakah ini hal yang pantas untuk dilihat publik?

  • Jangan ikut cyberbullying atau group chat yang menghina orang, diam saja saat melihat bullying juga bentuk dukungan pada pelaku. Ajarkan anak untuk berani keluar dari grup yang toxic atau melaporkan bullying yang mereka lihat. Jelaskan bahwa ikut tertawa atau diam saja sama buruknya dengan yang langsung menghina.

6. Tanggung jawab pribadi

Freepik

Tanggung jawab pribadi adalah soal mengakui peran diri dalam setiap situasi, baik yang baik maupun yang buruk. Anak yang bertanggung jawab lebih dipercaya dan dihormati. Mama bisa ajarkan ini ke anak Mama di rumah:

  • Bereskan kekacauan sendiri meski tidak ada yang lihat. Karakter dibangun saat tidak ada yang mengawasi. Ajarkan anak untuk membereskan mainan setelah bermain, membereskan meja setelah makan, atau membuang sampah meski tidak ada yang melihat. Ini bukan soal dapat pujian, namun soal tanggung jawab pribadi.

  • Jika menyakiti perasaan orang, minta maaf dengan tulus. Tidak ada alasan, tidak ada pembelaan diri. Minta maaf yang tulus penting untuk memperbaiki hubungan dan mengajarkan kedewasaan emosional. Ajarkan anak untuk minta maaf dengan jelas, misalnya seperti "Maaf aku sudah..., aku tidak akan ulangi lagi". Bukan maaf yang setengah hati atau malah nyalahin orang lain.

  • Bertanggung jawab meski tidak ada yang tahu, ajarkan anak untuk mengakui kesalahan meski tidak ada yang melihat mereka melakukannya. Misalnya memecahkan barang lalu mengaku meski tidak ada saksi. Kejujuran adalah tentang melakukan hal yang benar bahkan saat tidak ada yang mengawasi.

7. Menghormati semua orang

Freepik

Cara anak memperlakukan orang yang "tidak penting" menunjukkan karakter sebenarnya. Rasa hormat harus diberikan ke semua orang, bukan hanya pada yang punya kuasa atau yang bisa memberi keuntungan. Untuk itu, Mama bisa ajarkan ini pada anak:

  • Hormati orang yang berbeda dari kita. Penampilan, budaya, kemampuan, tidak ada yang menentukan nilai seseorang. Ajarkan anak untuk tidak berasumsi berlebihan. Jika melihat seseorang yang berbeda, bukan untuk diejek atau dijauhi, namun untuk dipahami. Perbedaan itu memperkaya, bukan mengancam.

  • Jangan nilai orang dari pakaian atau barang yang mereka punya, kebaikan dan karakter jauh lebih penting dari penampilan luar. Ajarkan anak bahwa teman yang baik itu bukan karena bajunya branded, tetapi yang setia, jujur, dan baik hati. Mencegah pemikiran dangkal ini sejak dini sangat penting untuk membentuk nilai yang benar.

  • Perlakukan pekerja layanan dengan sabar dan hormat. Cara anak memperlakukan pelayan restoran, tukang bersih-bersih, satpam, atau driver menunjukkan karakter mereka. Ajarkan anak bahwa rasa hormat tidak bergantung pada pekerjaan seseorang. Semua pekerjaan itu mulia dan semua orang layak diperlakukan dengan baik.

  • Perlakukan semua orang dengan hormat yang sama, baik orang yang bisa membantu maupun yang tidak. Ajarkan anak untuk tidak pilih-pilih dalam bersikap baik. Tidak ramah hanya pada guru atau orang yang punya kuasa, namun juga pada teman sebaya, adik kelas, atau siapapun yang mereka temui.

  • Tetap tenang saat ada yang tidak setuju dengan kita, tidak setiap perbedaan pendapat itu bentuk ketidakhormatan. Ajarkan anak bahwa boleh tidak setuju tanpa harus bertengkar. Dengarkan sudut pandang orang lain, sampaikan pendapat dengan tenang, dan setuju untuk tidak setuju jika memang tidak bisa mencapai kesepakatan. Ini mencegah pertengkaran dan membangun kekuatan emosional.

Intinya, Ma, jangan mengharapkan anak langsung sempurna menerapkan semua aturan ini. Pembelajaran butuh waktu dan konsistensi. Mulai dari satu atau dua aturan yang paling penting, lalu tambahkan secara bertahap seiring anak bertambah dewasa.

Orangtua harus jadi contoh pertama. Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Jika orangtua sendiri tidak menerapkan aturan-aturan ini, akan sangat sulit mengajarkannya pada anak.

Aturan mana yang sudah Mama ajarkan di rumah?

Editorial Team