8 Peran Papa bagi Anak Laki-Laki agar Tak Jadi Penyuka Sesama Jenis

Pentingnya kehadiran papa dalam pembentukan karakter dan identitas maskulin anak laki-laki melalui peran sebagai teladan, pelindung, serta pemberi kasih sayang dan disiplin.
Berbagai penelitian menunjukkan keterlibatan emosional dan fisik papa, seperti permainan aktif dan afirmasi perilaku maskulin, berpengaruh besar terhadap perkembangan psikologis serta rasa percaya diri anak.
Meskipun beberapa sumber mengaitkan pola asuh dengan orientasi seksual, lembaga seperti APA menegaskan bahwa orientasi seksual dipengaruhi banyak faktor kompleks, bukan semata dari gaya pengasuhan.
Belakangan ini media sosial ramai membahas sebuah postingan parenting yang menyoroti pentingnya peran papa dalam tumbuh kembang anak laki-laki. Postingan tersebut mengaitkan kedekatan emosional papa dengan pembentukan karakter maskulin anak serta kekhawatiran orangtua terhadap pengaruh pergaulan yang dianggap menyimpang.
Meski menggunakan bahasa yang cukup sensitif dan menuai pro kontra, inti pesan dari unggahan itu sebenarnya menekankan pentingnya kehadiran papa secara utuh di rumah.
Sosok papa dinilai bukan hanya bertugas mencari nafkah, tetapi juga menjadi figur teladan, pelindung, sekaligus tempat aman bagi anak laki-laki untuk bertumbuh.
Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.
1. Papa menjadi model identifikasi maskulin (role model)

Menurut Daniel W. Puls dalam jurnal berjudul “Achieving Masculinity: A Review of the Literature on Male Gender Identity Development” tahun 1998, peran papa berfungsi sebagai figur laki-laki utama dalam kehidupan anak.
Peran papa memberikan tuntunan agar anak laki-laki dapat menginternalisasi identitas maskulinnya.
Melalui pengamatan sehari-hari, anak laki-laki belajar memahami peran, cara berpikir, dan perilaku laki-laki yang sesuai dengan norma sosial di lingkungannya melalui kehadiran nyata sang papa di rumah.
Dalam proses pembentukan jati diri ini, papa berperan sebagai mentor dan pemandu yang mengajarkan keterampilan penting untuk berinteraksi dengan lingkungan luar. Kehadiran papa sebagai model identifikasi membantu anak memiliki figur yang jelas untuk ditiru, sehingga ia tidak kehilangan arah dalam mengembangkan konsep dirinya sebagai laki-laki.
2. Memfasilitasi permainan fisik (rough-and-tumble play)

Selain menjadi role model, papa juga memiliki peran unik dalam mengajak anak laki-laki melakukan permainan fisik yang energik, seperti bergulat atau permainan kasar yang sehat (rough-and-tumble play). Aktivitas ini menciptakan ikatan fisik dan energi maskulin yang memberikan stimulasi berbeda dibandingkan interaksi lembut dengan figur feminin, sehingga anak merasa nyaman dengan kekuatan tubuhnya.
Susan Coates dkk. dalam jurnal “The Etiology of Boyhood Gender Identity Disorder” tahun 1991 menyebut jika aversi atau ketidaktertarikan yang ekstrem terhadap aktivitas fisik semacam ini sering kali dikaitkan dengan hambatan dalam perkembangan identitas maskulin.
Oleh karena itu, keterlibatan aktif papa dalam permainan fisik sangat krusial untuk membantu anak menyalurkan dorongan agresinya secara positif dan membangun keberanian.
3. Memberikan kedekatan emosional dan afeksi

Masyarakat hanya membentuk peran suami atau papa dalam rumah tangga adalah pencari nafkah. Padahal perannya untuk pembentukan emosi anak terutama anak laki-laki sangat krusial.
Peran papa di keluarga perlu diluruskan yakni juga mencakup pemberian kasih sayang dan perhatian yang tulus.
Hubungan yang hangat antara papa dan anak sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis anak agar ia merasa diterima sepenuhnya sebagai pribadi yang berharga.
Penelitian oleh Eki Pratidina dkk tahun 2021 berjudul “Peran Ayah Dalam Pembentukan Penyimpangan Perilaku Seksual pada Homoseksual” menyebut jika ketidakhadiran emosional papa atau hubungan yang dingin dapat menciptakan kekosongan emosional pada anak laki-laki.
Keterlibatan papa dalam interaksi positif yang aktif memberikan nilai dan karakter yang kuat dalam pembentukan konsep diri anak, sehingga ia tidak mencari kompensasi emosional di luar rumah dengan cara yang tidak sehat.
4. Menjadi penyeimbang hubungan mama dan anak

Seorang papa berperan penting sebagai figur penengah untuk mencegah terjadinya kelekatan atau hubungan simbiosis yang berlebihan antara ibu dan anak laki-laki. Kehadiran papa membantu anak untuk melakukan transisi identifikasi, yaitu bergerak keluar dari ketergantungan pada figur feminin menuju identifikasi maskulin yang lebih mandiri.
Susan Coates dkk. menyebut jika proses "melepaskan diri" dari identifikasi ibu ini sangat krusial dalam tahun-tahun pertama kehidupan anak.
Jika papa hadir secara psikologis untuk memutus keterikatan yang terlalu kuat dengan ibu, anak laki-laki akan lebih mudah mengembangkan identitas gendernya sendiri tanpa merasa terjebak dalam dunia feminin.
5. Menanamkan disiplin dan prinsip hidup

Mama mungkin punya peran sentral di rumah, tetapi papa juga demikian. Peran papa bertindak sebagai penegak disiplin, konsultan, dan penasihat utama bagi anak laki-laki di dalam struktur keluarga.
Melalui ketegasan yang didasari rasa cinta, papa melatih anak untuk memahami batasan perilaku, kontrol diri, dan nilai-nilai moral yang akan menjadi panduannya saat dewasa.
Eki Pratidina dkk. dalam jurnalnya menyebut jika pelaksanaan fungsi manajemen keluarga oleh papa ini memastikan bahwa anak memiliki struktur berpikir yang terarah. Tanpa arahan disiplin yang jelas dari papa, anak mungkin kehilangan panduan dalam menentukan cara berperilaku yang tepat di masyarakat dan gagal mengembangkan kontrol diri yang kuat.
6. Memberikan afirmasi terhadap perilaku maskulin

Papa cenderung lebih konsisten dibandingkan ibu dalam memberikan penguatan positif terhadap perilaku anak laki-laki yang sesuai dengan gendernya. Penguatan ini bisa berupa pujian, bantuan dalam beraktivitas, atau senyuman ketika anak menunjukkan minat pada permainan atau hobi yang bersifat maskulin.
Daniel W. Puls menyebut afirmasi dari papa ini sangat penting untuk membangun kepercayaan diri anak terhadap identitas kelaki-lakiannya sejak dini.
Sebaliknya, kurangnya apresiasi atau bahkan ridicule (ejekan) terhadap sisi maskulin anak dapat membuat anak merasa tidak nyaman dengan identitas gendernya sendiri.
7. Mengajarkan pengelolaan agresi

Papa memiliki tugas penting untuk mensosialisasikan dan membantu anak mengelola dorongan agresinya. Dengan menjadi figur yang stabil, papa mengajarkan anak laki-laki bagaimana cara menyalurkan kekuatan dan kemarahannya secara konstruktif dan tidak merusak.
Tanpa model papa yang bisa mengontrol emosi, anak mungkin tumbuh dengan rasa takut terhadap agresinya sendiri atau justru menjadi tidak terkendali.
Susan Coates dkk. dalam jurnalnya menekankan peran papa yang mampu menunjukkan "kekuatan yang terkendali" memberikan rasa aman bagi anak untuk mengeksplorasi dunianya tanpa menjadi "monster" bagi orang lain.
8. Menghabiskan waktu berkualitas (paternal availability)

Ketersediaan waktu papa untuk hadir secara fisik dan emosional adalah prediktor kuat bagi perkembangan gender anak yang sehat. Penelitian menunjukkan bahwa papa dari anak-anak yang memiliki masalah identitas gender cenderung melaporkan waktu yang jauh lebih sedikit bersama putra mereka pada tahun-tahun pertama perkembangan.
Waktu berkualitas yang dihabiskan bersama papa memungkinkan terjadinya proses peniruan perilaku maskulin secara alami. Semakin banyak waktu yang dihabiskan papa bersama putranya, semakin kuat korelasi antara identitas peran gender papa yang maskulin dengan perkembangan identitas serupa pada sang anak.
Namun, perlu dicatat bahwa dari beberapa sumber di atas menyebutkan kontribusi peran papa terhadap orientasi seksual.
Sementara, American Psychological Association (APA) dan American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut tidak ada bukti hubungan kausal yang pasti antara gaya pengasuhan tertentu dengan orientasi seksual anak.
Orientasi seksual dianggap sebagai hasil interaksi kompleks faktor biologis, kognitif, dan lingkungan yang dialami anak. Untuk lebih mengenal perkembangan identitas dan orientasi seksual anak sebaiknya orangtua memahami bahwa setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang kompleks dan tidak bisa disederhanakan hanya dari pola asuh saja.
Itulah tadi informasi mengenai peran papa bagi anak laki-laki agar tak jadi gay. Semoga membantu ya!


















