Ciptakan Perangkat Deteksi ADHD, Siswa SMA Indonesia Raih Penghargaan di Malaysia

- Tujuh siswa SMA dari berbagai sekolah di Yogyakarta dan Surakarta menciptakan Olyra, alat deteksi dini ADHD, dan meraih medali emas di Malaysia Technology Expo 2026.
- Olyra menggunakan headband pembaca aktivitas otak yang terhubung dengan software buatan tim untuk mempercepat proses identifikasi awal ADHD secara praktis dan terjangkau.
- Inovasi mandiri ini diapresiasi juri internasional karena menyentuh isu nyata kesehatan mental anak, sekaligus membuktikan kemampuan pelajar Indonesia bersaing di tingkat global.
Tujuh siswa SMA asal Indonesia baru saja membuktikan bahwa keberhasilan bisa dibangun sejak usia dini.
Nama mereka viral di media sosial usai berhasil menciptakan perangkat bernama Olyra, alat bantu deteksi dini ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), dan membawa pulang medali emas di ajang internasional di Malaysia.
Keberhasilan ini bukan hanya soal piala, tapi penemuan mereka lahir dari keprihatinan para siswa terhadap lamanya proses diagnosis ADHD yang selama ini rumit dan panjang.
Dengan menggabungkan headband pembaca aktivitas otak dan buatan sendiri, mereka menjawab tantangan nyata di dunia kesehatan.
Nah, buat Mama yang penasaran bagaimana perangkat ini bekerja, siapa saja otak di baliknya, dan apa pesan inspiratif dari mereka. Berikut Popmama.com rangkumkan dari berbagai sumber, ulasan selengkapnya.
1. Para siswa berprestasi di balik perangkat Olyra

Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, ketujuh siswa tersebut berasal dari SMAN 5 Yogyakarta, SMAN 6 Yogyakarta, SMAN 1 Kartasura, dan SMA Regina Pacis Surakarta.
Mereka di antaranya adalah Maheswara Nala Wisadewa, Farek Ibrahimiya Whisnuwardana, Amelia Fahima Atlatar, Jordan Oliver Adhiwinara, Jiwa Pertama Nugroho, Clara Letitia Olivia Gunawan, dan Raina Pio Aurelia Santosa.
Ketujuh dari mereka bekerja kolaboratif lintas sekolah, di mana masing-masing menyumbang keahlian dari riset otak hingga pemrograman.
Yang bikin kagum lagi, Ma, semua dilakukan secara mandiri tanpa bantuan peneliti senior, lho! Prestasi apik yang patut mendapat apresiasi tinggi, nih!
2. Cara kerja Olyra dan masalah yang terjawab

Proses diagnosis ADHD biasanya membutuhkan serangkaian wawancara psikologis, observasi perilaku, hingga berbagai proses panjang yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Hal ini membuat banyak anak terlambat mendapat penanganan yang tepat, dan menjadi inspirasi bagi para siswa ini dalam mencari solusi yang lebih cepat dan terjangkau.
Olyra hadir sebagai solusi dengan headband yang membaca aktivitas otak, lalu diolah oleh software yang dikembangkan sendiri oleh tim mereka.
Hasilnya adalah identifikasi awal ADHD yang lebih cepat dan praktis, yang menjadi inovasi ini langsung mendapat pengakuan internasional di ajang bergengsi di Malaysia Technology Expo 2026.
3. Bukti nyata dan harapan bagi para pelajar Indonesia

Kompetisi di Malaysia mempertemukan mereka dengan ratusan inovasi dari berbagai negara. Olyra dinilai unik karena langsung menyentuh masalah nyata yang sering diabaikan, yaitu deteksi dini ADHD pada anak usia sekolah.
Para juri mengapresiasi kemandirian tim dalam mengembangkan software dan hardware secara utuh, yang membuat para siswa ini mampu bersaing dan berinovasi di tingkat dunia.
Riset dan pengembangan mandiri ini sekaligus menunjukkan bahwa teknologi kesehatan bukan hanya milik negara maju saja, Ma.
Prestasi yang berhasi diraih ketujuh siswa SMA ini diharapkan mendorong lebih banyak pelajar Indonesia untuk berani berinovasi dan membawa solusi nyata bagi permasalahan di sekitar mereka.
Terciptanya Olyra membuktikan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk memberikan dampak nyata di dunia kesehatan, bahkan bisa dimulai dari bangku sekolah.
Semoga cerita para siswa berprestasi ini bisa menginspirasi anak-anak kita untuk berani bermimpi besar dan mulai bertindak sekarang ya, Ma.
Sekali lagi, selamat untuk seluruh tim Olyra!


















