Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

8 Fakta Bakteri Berbahaya di Keracunan MBG Berastagi, Ini Kata Dokter

8 Fakta Bakteri Berbahaya di Keracunan MBG Berastagi, Ini Kata Dokter
IDN Times/Indah Permata Sari
  • Uji laboratorium menemukan Bacillus cereus pada nasi, Staphylococcus aureus pada ikan dan muntahan siswa, serta E. coli pada melon dalam kasus gangguan kesehatan penerima MBG Berastagi.

  • Temuan bakteri belum membuktikan penyebab seluruh kasus, termasuk gangguan ginjal dan saraf, maka diperlukan pencocokan gejala, waktu onset, toksin, jumlah bakteri, serta pemeriksaan klinis pasien.

  • Sampel dari dapur dilaporkan negatif, sementara makanan di sekolah positif bakteri. Investigasi perlu menelusuri penyimpanan, transportasi, distribusi, dan penanganan makanan hingga dikonsumsi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kasus gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mulai menemukan titik terang setelah hasil pemeriksaan laboratorium dipaparkan.

Hasil uji mikrobiologi UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Nomor 008.2/4129/UPTD LABKES/VIII/2026 tertanggal 16 Agustus 2026 menunjukkan adanya sejumlah bakteri pada sampel makanan yang telah disajikan kepada siswa.

Bakteri yang ditemukan antara lain Bacillus cereus pada sampel nasi, Staphylococcus aureus pada ikan dencis dengan saus, serta Escherichia coli atau E. coli pada melon. Staphylococcus aureus juga ditemukan pada sampel muntahan salah seorang siswa.

Temuan ini kemudian dipaparkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kabupaten Karo pada Senin (7/9/2026).

Namun, apakah keberadaan bakteri tersebut otomatis menjadi penyebab seluruh gangguan kesehatan yang dialami para siswa?

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

  1. 1. Bacillus cereus ditemukan pada sampel nasi

    Bacillus cereus ditemukan pada sampel nasi
    Magnific/jcomp

    Salah satu bakteri yang ditemukan dalam sampel makanan dari sekolah adalah Bacillus cereus pada nasi. Bacillus cereus merupakan bakteri pembentuk spora yang dapat mencemari makanan, terutama makanan dengan kandungan karbohidrat tinggi seperti nasi, pasta, dan mi. 

    Bakteri ini kerap dikaitkan dengan makanan yang dimasak dalam jumlah banyak kemudian dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang atau tidak disimpan dengan baik. dr. Adam menjelaskan bahwa Bacillus cereus dapat menjadi penyebab keracunan makanan ketika makanan dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang.

    “Bacillus cereus adalah bakteri yang dapat ditemukan pada makanan dan dapat menyebabkan keracunan bila makanan dibiarkan kelamaan di suhu ruangan,” pungkas dr. Adam di Instagram.

    Ia juga menjelaskan bahwa spora bakteri ini relatif tahan terhadap panas. Karena itu, proses pemanasan ulang makanan tidak selalu menghilangkan racun yang telah terbentuk.

    Hal serupa disampaikan dr. Ferry lewat Threads-nya @dr.ferrykslg. Menurutnya, Bacillus cereus sering berkaitan dengan makanan berkarbohidrat yang dimasak dalam jumlah besar dan kemudian tidak disimpan pada kondisi yang tepat.

    “Bacillus cereus adalah bakteri pembentuk spora yang dapat mencemari makanan berkarbohidrat tinggi (contoh: nasi/pasta/mi),” tutur dr. Ferry.

    Keracunan Bacillus cereus sendiri dapat menimbulkan dua pola utama, yakni gejala berupa muntah atau diare akut, tergantung jenis toksin yang dihasilkan.

    Karena itu, aspek pengolahan, penyimpanan, waktu tunggu, serta suhu makanan menjadi bagian penting yang perlu dievaluasi dalam kasus seperti ini.

  2. 2. Staphylococcus aureus ditemukan pada ikan dan sampel muntahan

    Staphylococcus aureus ditemukan pada ikan dan sampel muntahan
    Pexels/Adera Abdoulaye Dolo

    Temuan lain yang menjadi perhatian adalah Staphylococcus aureus atau S. aureus. Bakteri ini ditemukan pada sampel ikan dencis dengan saus yang telah disajikan di sekolah. Bakteri yang sama juga ditemukan pada sampel muntahan salah seorang siswa. 

    S. aureus sebenarnya dapat ditemukan secara alami pada kulit dan rongga hidung manusia.

    Namun, bakteri tersebut dapat mencemari makanan melalui tangan atau kontak dari penjamah makanan.

    Masalah dapat terjadi ketika bakteri berkembang biak pada makanan dan menghasilkan toksin.

    dr. Adam Prabata menjelaskan bahwa S. aureus dapat menghasilkan staphylococcal enterotoxin ketika masuk ke makanan dan dibiarkan dalam kondisi yang memungkinkan bakteri berkembang.

    “Bila masuk ke makanan dan dibiarkan lama, maka bisa menghasilkan toksin dengan nama staphylococcal enterotoxin,” pungkasnya.

    Yang perlu diperhatikan, toksin tersebut dapat tetap bertahan meskipun makanan kemudian dipanaskan. Menurut dr. Ferry. Bakreri S. aureus dapat mencemari makanan melalui tangan penjamah makanan, kulit, maupun hidung. Bakteri kemudian dapat berkembang apabila makanan disimpan pada suhu yang tidak tepat.

    “Menyebabkan keracunan makanan lewat enterotoksin yang tahan panas, meskipun bakterinya sendiri mungkin sudah mati saat proses pemanasan,” jelas dr. Ferry.

    Keracunan akibat toksin S. aureus umumnya dapat menyebabkan mual, muntah, kram perut, dan diare.

    Karena S. aureus ditemukan baik pada ikan dari sekolah maupun sampel muntahan korban, temuan ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam investigasi.

    Meski demikian, hubungan sebab-akibat tetap perlu dinilai berdasarkan keseluruhan bukti medis dan epidemiologis.

  3. 3. E. coli ditemukan pada sampel melon

    E. coli ditemukan pada sampel melon
    Pexels/Nataliya Vaitkevich

    Bakteri ketiga yang ditemukan adalah Escherichia coli atau E. coli pada sampel melon. E. coli merupakan bakteri yang secara normal dapat ditemukan di saluran pencernaan manusia. Namun, keberadaannya pada makanan dapat menjadi indikator yang perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan masalah higienitas atau kontaminasi fekal.

    dr. Adam mengingatkan bahwa tidak semua E. coli bersifat menyebabkan penyakit.

    “Tidak semua E. coli menyebabkan penyakit,” jelasnya.

    Ada beberapa kelompok E. coli yang dapat menyebabkan penyakit dengan karakteristik berbeda. Di antaranya ETEC yang dapat menyebabkan diare pelancong, EPEC yang terutama berkaitan dengan diare pada anak, EAEC yang dapat menyebabkan diare persisten, EIEC yang menimbulkan gejala menyerupai disentri, serta STEC/EHEC yang dapat menyebabkan diare berdarah dan komplikasi serius.

    Sementara itu, dr. Ferry juga menyoroti temuan E. coli dalam kaitannya dengan kemungkinan gangguan ginjal, tetapi menegaskan bahwa diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

    “Beberapa strain bakteri Escherichia coli (E. coli) dapat menyebabkan gagal ginjal, terutama melalui komplikasi dari strain tertentu atau infeksi berat,” pungkasnya.

    Artinya, sekadar menemukan E. coli pada melon belum dapat disimpulkan bahwa bakteri tersebut merupakan penyebab gagal ginjal yang dialami korban.

    Jenis atau strain E. coli, tingkat infeksi, gejala, serta hasil pemeriksaan pasien perlu diketahui terlebih dahulu.

  4. 4. Strain tertentu E. coli dapat menyebabkan gagal ginjal akut

    Strain tertentu E. coli dapat menyebabkan gagal ginjal akut
    Freepik/user15327819

    Salah satu pertanyaan yang muncul dari kasus ini adalah bagaimana keracunan makanan dapat berkaitan dengan laporan gagal ginjal pada korban. Salah satu kemungkinan yang dikenal dalam dunia medis adalah infeksi Shiga toxin-producing Escherichia coli atau STEC.

    dr. Adam menjelaskan bahwa infeksi STEC dapat menyebabkan hemolytic uremic syndrome atau HUS. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada sel darah dan trombosit sekaligus berdampak pada ginjal.

    “Shiga toxin-producing E. coli (STEC) dapat menyebabkan hemolytic uremic syndrome yang salah satu manifestasinya adalah gagal ginjal akut,” jelas dr. Adam.

    HUS merupakan salah satu komplikasi serius yang dapat terjadi setelah infeksi oleh jenis E. coli tertentu.

    Sementara itu, dr. Ferry juga menyebutkan bahwa STEC dapat menyebabkan diare berat atau berdarah, kerusakan sel darah, penurunan trombosit, hingga acute kidney injury melalui HUS.

    “STEC, bisa menyebabkan: diare berat atau berdarah, kerusakan sel darah, trombosit turun, acute kidney injury/gagal ginjal akut melalui HUS,” jelas dr. Ferry.

    Meski demikian, perlu digarisbawahi bahwa hasil laboratorium pada makanan yang disebutkan dalam kasus ini hanya menunjukkan adanya E. coli.

    Belum dapat dipastikan dari informasi tersebut apakah E. coli yang ditemukan merupakan strain STEC.

    Dengan demikian, dugaan hubungan antara E. coli dan gagal ginjal korban masih membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

  5. 5. Gangguan saraf dan daya ingat membutuhkan evaluasi lebih kompleks

    Gangguan saraf dan daya ingat membutuhkan evaluasi lebih kompleks
    Unspalash/Budhhi kumar shersta

    Selain laporan mengenai gangguan ginjal, muncul pula informasi mengenai korban yang mengalami gangguan fungsi saraf hingga penurunan daya ingat.

    Salah satunya adalah FB, siswi berusia 16 tahun yang dilaporkan mengalami gangguan fungsi saraf berat dan penurunan kemampuan mengingat sekitar 70 persen. Kondisi tersebut tidak dapat langsung dikaitkan dengan satu jenis bakteri hanya berdasarkan hasil pemeriksaan makanan.

    dr. Adam menjelaskan bahwa pada infeksi berat, STEC dapat memiliki komplikasi terhadap sistem saraf, baik secara langsung maupun akibat komplikasi yang terjadi pada ginjal.

    “Pada infeksi berat, dapat menyebabkan komplikasi ke sistem saraf, baik secara langsung, maupun akibat komplikasi pada ginjal,” pungkas dr. Adam.

    Komplikasi tersebut dapat berupa kejang, penurunan kesadaran, hingga gangguan gerak.

    Di sisi lain, dr. Ferry menilai kemungkinan gangguan pada sistem saraf dalam kasus keracunan massal cukup kompleks. Menurutnya, berbagai kondisi lain juga perlu dipertimbangkan, termasuk syok dan sepsis.

    “Untuk infeksi saraf otak, perlu diperiksa kembali kemungkinan adanya syok/sepsis,” jelasnya.

    Ia juga menyebutkan bahwa muntah dan diare berat dapat menyebabkan dehidrasi serta tekanan darah turun. Ketika aliran darah ke ginjal berkurang, kondisi tersebut juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya cedera ginjal akut.

    Dengan kata lain, gangguan saraf tidak bisa langsung disimpulkan sebagai akibat satu bakteri tertentu. Kondisi setiap pasien perlu dinilai berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, kondisi organ, serta perjalanan penyakitnya.

  6. 6. Temuan bakteri belum otomatis membuktikan penyebab keracunan

    Temuan bakteri belum otomatis membuktikan penyebab keracunan
    Commons.wikimedia.org/kaboompics.com

    Hal paling penting yang perlu dipahami dari hasil pemeriksaan ini adalah bahwa ditemukannya bakteri pada makanan tidak serta-merta membuktikan bakteri tersebut sebagai penyebab seluruh kasus keracunan.

    dr. Adam menyebut ada beberapa hal yang perlu dicocokkan terlebih dahulu, termasuk gejala yang dialami korban, waktu munculnya gejala, jumlah bakteri dalam makanan, serta jumlah toksin.

    “Temuan bakteri pada makanan tersebut masih perlu dicocokkan dengan beberapa hal agar dapat dipastikan antara lain: gejala, waktu gejala muncul, jumlah bakteri di makanan, jumlah toksin di makanan.”

    Hal senada disampaikan dr. Ferry. Menurutnya, pemeriksaan yang tersedia hanya mencakup beberapa jenis bakteri sehingga masih ada kemungkinan penyebab lain.

    “Sementara keracunan massal juga dapat disebabkan oleh: virus, bakteri lain, parasite, toksin, kontaminasi kimia, pestisida, logam,” jelas dr. Ferry.

    Karena itu, investigasi kasus keracunan massal idealnya tidak hanya melihat satu hasil laboratorium, tetapi menggabungkan hasil pemeriksaan makanan, sampel pasien, pola gejala, waktu timbulnya gejala, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, serta kondisi kesehatan masing-masing korban.

  7. 7. Sampel dari dapur dilaporkan negatif, rantai distribusi perlu dievaluasi

    Sampel dari dapur dilaporkan negatif, rantai distribusi perlu dievaluasi
    Unsplash/Obi

    Hal lain yang menjadi perhatian dalam hasil pemeriksaan adalah adanya perbedaan antara sampel makanan yang diperiksa dari dapur dan makanan yang telah berada di sekolah. Dari beberapa informasi menyebut kalau seluruh sampel makanan yang diambil langsung dari dapur atau fasilitas penyedia makanan dilaporkan negatif terhadap bakteri patogen yang menjadi parameter pemeriksaan.

    Sementara itu, pada makanan yang telah sampai di sekolah ditemukan Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan E. coli. Perbedaan tersebut membuat tahapan setelah makanan keluar dari fasilitas produksi menjadi penting untuk dievaluasi.

    Transportasi, durasi perjalanan, suhu penyimpanan, cara makanan ditempatkan, hingga proses pembagian makanan kepada siswa merupakan bagian dari rantai keamanan pangan.

    Temuan ini juga sejalan dengan perhatian dr. Ferry mengenai bagaimana bakteri dapat berkembang pada makanan ketika penyimpanan atau penanganannya tidak tepat.

    “Bakteri ini dapat menghasilkan toksin yang menyebabkan muntah atau diare akut,” pungka dr. Ferry.

    Sementara dr. Adam mengingatkan bahwa kondisi makanan sebelum dikonsumsi juga perlu menjadi bagian dari evaluasi karena Bacillus cereus dapat berkembang ketika makanan terlalu lama berada pada suhu ruang.

    “Bacillus cereus adalah bakteri yang dapat ditemukan pada makanan dan dapat menyebabkan keracunan bila makanan dibiarkan kelamaan di suhu ruangan,” imbuh dr. Adam dalam kontennya.

    Artinya, investigasi tidak berhenti pada pertanyaan “makanan dibuat di mana”, tetapi juga perlu melihat seluruh perjalanan makanan hingga dikonsumsi siswa.

  8. 8. Pemeriksaan lanjutan penting untuk mengetahui penyebab kondisi korban

    Pemeriksaan lanjutan penting untuk mengetahui penyebab kondisi korban
    IDN Times/Khusnul Hasana

    Kasus ini menunjukkan bahwa keracunan makanan dapat memiliki penyebab dan mekanisme yang kompleks. Hasil pemeriksaan yang tersedia menemukan Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan E. coli pada sejumlah sampel. Salmonella dilaporkan tidak ditemukan pada sampel yang diperiksa.

    Namun, panel pemeriksaan tersebut belum mencakup seluruh kemungkinan penyebab keracunan massal. dr. Ferry menegaskan bahwa masih ada berbagai kemungkinan lain yang perlu dipertimbangkan.

    Sementara itu, dr. Adam Prabata memberikan penekanan serupa bahwa hasil positif pada makanan perlu dikaitkan dengan kondisi klinis korban sebelum menentukan penyebab.

    “Bakteri ditemukan pada makanan belum tentu pasti penyebab keracunan,” jelas dr. Adam.

    Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap korban tetap menjadi bagian penting untuk mengetahui mengapa sebagian siswa mengalami gejala lebih berat, termasuk laporan gangguan ginjal maupun gangguan saraf.

    Bagi keluarga korban, transparansi hasil pemeriksaan serta penanganan medis yang menyeluruh menjadi hal yang sangat penting. Di sisi lain, evaluasi keamanan pangan juga diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

    Kasus di Berastagi pada akhirnya bukan hanya persoalan menemukan bakteri pada makanan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keamanan pangan dalam program berskala besar membutuhkan pengawasan dari hulu hingga hilir.

    Mulai dari dapur, proses memasak, penyimpanan, distribusi, sampai makanan diterima dan dikonsumsi anak-anak di sekolah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More