Pemerintah secara resmi melakukan efisiensi besar-besaran dengan memangkas pagu anggaran dari yang semula direncanakan sebesar Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun.
Terpantau 9 Gebrakan Nanik Sudaryati Deyang untuk Program MBG, Apa Saja?

Nanik Sudaryati Deyang resmi memimpin Badan Gizi Nasional dan langsung meluncurkan sembilan gebrakan reformasi yang menekankan efisiensi anggaran, pengawasan mutu, serta ketepatan sasaran distribusi pangan.
Struktur kepemimpinan lembaga dirombak total dengan hadirnya dua wakil kepala baru, Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono, menggantikan pejabat lama demi memperkuat fungsi pengawasan program gizi.
Pemotongan anggaran dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun mendorong fokus pada keadilan distribusi nutrisi dan peningkatan kualitas layanan gizi melalui kolaborasi lintas kementerian serta pemanfaatan fasilitas lokal.
Pemotongan dana yang tidak sedikit ini menuntut lembaga terkait untuk memutar otak dan melahirkan langkah taktis agar kualitas pemenuhan gizi masyarakat tetap terjaga secara optimal tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan.
Berikut Popmama.com rangkum 9 pembaruan program beserta susunan kepemimpinan baru yang menjadi fokus gerakan saat ini!
Table of Content
1. Daftar program perubahan tata kelola pangan nasional

Nanik Sudaryati Deyang bergerak cepat dengan mengumumkan sembilan gebrakan besar reformasi yang berfokus penuh pada efisiensi anggaran, pengawasan mutu, serta ketepatan sasaran distribusi di lapangan.
Sembilan program perubahan tersebut meliputi langkah-langkah strategis sebagai berikut:
Refocusing penerima manfaat, memprioritaskan kelompok rentan tiga B yaitu ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta anak sekolah hingga tingkat sekolah dasar. Dalam waktu dua minggu, penerima manfaat kelompok ini meningkat hingga dua puluh dua juta orang setelah adanya peringatan keras untuk satuan pelayanan yang tidak melayani kelompok tersebut.
Moratorium dapur baru, pendaftaran dan pembangunan gedung dapur umum baru dihentikan sementara waktu karena sebagian besar dari puluhan ribu dapur yang beroperasi saat ini masih menumpuk di wilayah perkotaan maupun aglomerasi.
Pembenahan dapur yang sudah berdiri, melakukan evaluasi secara ketat terhadap standar keamanan pangan, kelayakan fasilitas memasak, hingga kompetensi sumber daya manusia, di mana dapur yang tidak memenuhi standar akan langsung ditangguhkan.
Fokus ke wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), menjangkau wilayah terpencil secara merata tanpa harus membangun gedung dapur baru yang berbiaya besar, melainkan menggunakan pendekatan teritorial khusus.
Pemetaan kebutuhan dapur bersama kementerian, menghitung jumlah dapur ideal per daerah bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berdasarkan jumlah siswa, kapasitas layanan, serta data rill wilayah agar tidak ada fasilitas yang mubazir.
Pembiayaan alternatif di luar dana negara, program tidak lagi bergantung penuh pada uang APBN, melainkan menggali sumber pendanaan tambahan dari dana tanggung jawab sosial BUMN, hibah internasional, hingga investasi swasta.
Optimalisasi fasilitas yang sudah ada, menghilangkan kewajiban membangun dapur baru apabila kantin sekolah, dapur umum milik dinas sosial, atau fasilitas pangan setempat masih bisa dimanfaatkan.
Koordinasi lintas lembaga, memperkuat sinergi antar kementerian maupun lembaga untuk pemetaan wilayah, kebutuhan, kapasitas layanan, serta pengawasan program secara terpadu.
Pergeseran orientasi dari kuantitas ke kualitas, target mengejar delapan puluh dua juta penerima manfaat bukan lagi menjadi prioritas utama, melainkan fokus pada kualitas layanan dan dampak gizi nyata bagi yang benar-benar membutuhkan.
2. Perubahan struktur kepemimpinan di Badan Gizi Nasional

Reformasi ini berjalan beriringan dengan adanya pergantian nakhoda di dalam lembaga pengelola gizi tersebut.
Kepala Badan Gizi Nasional yang baru, Nanik Sudaryati Deyang, secara resmi tampil di depan publik untuk mengumumkan arah kebijakan baru ini setelah dirinya dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dalam menjalankan tugas kedepannya, Nanik Sudaryati Deyang hadir menggantikan posisi Dadan Hindayana yang menjabat sebagai kepala lembaga pada periode sebelumnya.
Tidak hanya posisi ketua utama yang mengalami pergantian, struktur kepengurusan di tingkat dewan wakil juga dirombak total demi memperkuat fungsi pengawasan program di lapangan.
Nanik Sudaryati Deyang dalam menjalankan masa baktinya akan didampingi oleh dua orang wakil kepala baru yang memiliki rekam jejak profesional, yaitu Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono.
Dua figur baru ini resmi diangkat oleh pemerintah untuk menggantikan posisi pejabat lama, yaitu Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.
3. Anggaran dan target keadilan distribusi gizi

Seluruh rangkaian perombakan program dan struktur jabatan ini bermuara pada satu tujuan utama, yaitu menciptakan keadilan distribusi nutrisi yang bersih tanpa kebocoran anggaran negara.
Dengan adanya pemotongan dana operasional yang mencapai puluhan triliun rupiah, jajaran pimpinan baru dituntut untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan bisa berdampak langsung pada kenaikan status gizi anak.
Kolaborasi yang erat dengan kementerian pendidikan serta pemanfaatan kantin sekolah lokal menjadi strategi andalan agar proses penyaluran makanan sehat ini tidak terhambat oleh kendala birokrasi yang berbelit-belit.
Pemerintah optimistis bahwa pembenahan mutu pelayanan ini akan menjadi modal berharga bagi kesehatan jangka panjang generasi penerus bangsa.
Apakah Mama sepakat dengan langkah efisiensi pemerintah yang kini lebih mengutamakan kualitas kandungan gizi makanan dibandingkan sekadar mengejar target jumlah anak yang menerima?





















