Gejala Psikosomatik pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Stres yang menimbulkan sugesti pada tubuh anak

6 Januari 2021

Gejala Psikosomatik Remaja Cara Mengatasinya
Freepik

Mewabahnya Covid-19 yang kian berkembang membuat banyak orang termasuk remaja lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatannya. Tak jarang beberapa remaja yang menjadi stres akibat penularan virus yang tinggi serta kurangnya aktivitas di luar rumah.

Stres tersebut berujung pada gejala rasa sakit di anggota tubuh yang tidak kunjung hilang, bahkan tak jarang beberapa orang yang tersugesti tertular virus corona karena gejala-gejala yang muncul di tubuh. Sehingga anak mulai mencari tahu dari mana asal gejala tersebut muncul.

Namun, apakah anak tahu bahwa ia bisa mengalami psikosomatis, yaitu pikiran yang berdampak pada tubuhnya?

Sebelum Popmama.com membahas gejala-gejala psikosomatis yang mungkin dirasakan oleh remaja mama, berikut informasi sekilas mengenai psikosomatis!

Apa itu Psikosomatik?

Kata psikosomatik berasal dari dua kata, yaitu psiko yang berarti pikiran, dan tubuh yang berarti somatik. Kondisi ini mengacu pada gejala yang disebabkan oleh stres atau pikiran emosional, bukan dari organ tubuh.

Setiap orang terkadang mengalami gejala somatik. Psikosomatik terjadi ketika tekanan emosional diekspresikan menjadi sensasi yang berbeda di tubuh.

Psikosomatik adalah sebuah cabang medis interdisipliner yang mengeksplorasi tentang hubungan sosial, psikologis, dan faktor kebiasaann fisik serta kualitas hidup antara manusia dengan lingkungan sosial.

Ketika gejala fisik yang dirasakan remaja tampak terus-menerus, ini disebut gangguan psikosomatik, dan ini mungkin menunjukkan bahwa anak sedang menghadapi sesuatu yang sulit dan menekan dalam hidupnya yang tidak kunjung hilang.

Setelah mengetahui apa itu psikosomatik, yuk Ma cari tahu apa saja gejalanya!

1. Sakit perut

1. Sakit perut
Freepik

Gejala yang paling sering dialami ketika anak sedang gelisah adalah sakit perut. Gejala sakit perut dapat bervariasi tergantung dari tekanan yang dialami anak. Beberapa remaja yang mengalami tekanan cukup tinggi, dapat merasakan mual hingga muntah-muntah.

Selain itu, anak yang mengalami psikosomatis juga sering merasa perut kembung, bolak-balik ke kamar mandi, kehilangan nafsu makan yang disertai dengan sulit menelan. Gejala psikosomatis yang jarang terjadi adalah halusinasi pada rasa atau aroma yang menyebabkan anak jadi sakit perut.

2. Sakit kepala

2. Sakit kepala
Freepik/yanalya

Ketika anak mengalami stres yang berat dan tidak mampu melampiaskan emosinya, atau mungkin mencoba menyimpan semua tekanan yang dialaminya, anak pada akhirnya akan mencapai titik puncak emosi.

Kemudian akan muncul efek negatif dari stres yang dapat dirasakan dalam pikiran dan tubuh anak. Pusing atau sakit kepala merupakan cara umum lainnya yang mungkin disebabkan oleh stres yang dialami remaja.

Editors' Picks

3. Nyeri dada

3. Nyeri dada
Freepik/Kwanchaichaiudom

Ketakutan dan depresi dapat menimbulkan gejala nyeri dada, sesak napas, merasa gelisah dan gugup yang disertai dengan jantung berdetak kencang hingga palpitasi jantung, yaitu kondisi di mana detak jantung dirasakan terasa di area tenggorokan atau leher hingga anak merasa seperti tercekik.

Jika remaja mama sebelumnya pernah merasakan gejala serupa, mungkin Mama menyadari bahwa ada beberapa tanda peringatan atau petunjuk anak sedang mengalami ketakutan dan depresi, terutama dari hal gejala fisik yang di alaminya.

4. Kelelahan

4. Kelelahan
Freepik

Tanda-tanda anak mengalami psikosomatis selanjutnya adalah sering kelelahan. Akibat sering merasa gelisah yang disertai detak jantung kencang dan sesak napas, tubuh anak menjadi lebih cepat lelah. Selain itu anak juga merasa kosong atau hampa dan merasa lemah.

5. Nyeri sendi atau sakit otot

5. Nyeri sendi atau sakit otot
Freepik/Kwanchaichaiudom

Mama mungkin sebelumnya tidak mengetahui bagaimana cara unik stres yang muncul secara fisik. Stres yang dialami oleh remaja bisa membuatnya merasa otot tegang, kram, nyeri otot terutama di tungkai, dan sakit punggung.

Nyeri adalah gejala yang paling umum, tetapi apa pun gejala yang anak alami, tandanya anak sedang memiliki pikiran, perasaan, atau perilaku yang berlebihan terkait dengan gejala tersebut, lalu menyebabkan masalah yang signifikan, menyulitkan fungsi dan seringkali dapat terasa menyakitkan.

6. Gejala yang terkait dengan pikiran dan mental anak

6. Gejala terkait pikiran mental anak
Freepik/Ulkas

Selain gejala yang muncul pada fisik, anak juga dapat mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan pikiran dan mentalnya, yaitu sebagai berikut:

  • Selalu gelisah dengan gejala penyakit hingga sulit tidur dan aktivitas sehari-hari terganggu
  • Kekhawatiran terus-menerus tentang potensi penyakit
  • Memandang sensasi fisik normal sebagai tanda penyakit fisik yang parah
  • Takut gejala yang serius, meski tidak ada bukti
  • Berpikir bahwa sensasi fisik yang dirasakan mengancam atau berbahaya
  • Merasa konsultasi dan pengobatan belum memadai
  • Khawatir bahwa aktivitas fisik dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh
  • Berulang kali memeriksa tubuh untuk melihat adanya kelainan
  • Kunjungan perawatan kesehatan, tidak meredakan kekhawatiran atau justru memperburuknya
  • Tidak responsif terhadap perawatan medis atau sangat sensitif terhadap efek samping obat
  • Memiliki gangguan yang lebih parah daripada yang biasanya diharapkan dari suatu kondisi medis

Jika anak mengalami gangguan gejala psikosomatis, hindari untuk memfokuskan gejala fisik yang dialami, namun lebih ke bagaimana cara Mama dan remaja untuk menafsirkan dan bereaksi terhadap gejala tersebut, serta bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari.

Psikosomatis dapat mengganggu aktivitas sehari-hari anak karena selalu terpaku pada stres, depresi, dan ketakutan dengan gejala-gejala penyakit yang muncul. Namun, Mama bisa membantu anak mengatasi psikosomatis.

Cara Mengatasi Psikosomatis pada Remaja

Cara Mengatasi Psikosomatis Remaja
Freepik

Pertama, ajak anak untuk menyingkirkan pikiran sakit penyakit yang dialaminya. Jika perlu, buatlah janji dengan dokter anak, agar dokter dapat melakukan pemeriksaan dan tes apa pun. Jika hasilnya negatif, coba renungkan apakah ada sesuatu dalam hidup remaja mama yang menyebabkannya menjadi stres.

Ada banyak metode untuk mengatasi masalah dengan sehat tanpa harus stres, beberapa tips di bawah ini dapat membantu meredakan stres yang dialami remaja:

  • Jujurlah dengan orang lain, dan diri sendiri
  • Minta anak cerita kepada orangtua atau sahabat terdekat
  • Lakukan sesuatu yang baik untuk orang lain dan pastikan untuk melakukan hal-hal baik untuk diri sendiri juga
  • Makan makanan yang seimbang, olah raga teratur, dan ciptakan ruang tidur yang menenangkan.
  • Mencari cara baru yang menyenangkan untuk mengatasi stres.
  • Bergabunglah dengan kelompok pendukung.
  • Pelajari teknik relaksasi.
  • Lepaskan dendam, pola pikir, atau hubungan yang tidak sehat atau tidak bermanfaat bagi anak.
  • Luangkan waktu untuk kegiatan santai yang dapat dinikmati.
  • Minta anak beristirahat jika sedang berada dalam situasi stres.

Ingatlah bahwa setiap orang menangani stres dengan caranya sendiri. Mungkin Mama dan anak memiliki reaksi yang berbeda dalam menyikapi stres.

Setelah Mama memahami cara unik stres memengaruhi anak baik secara emosional maupun fisik, Mama mulai dapat membantu anak untuk mengembangkan cara yang sehat dan efektif untuk mengelolanya.

Itulah gejala psikosomatik pada anak remaja dan cara mengatasinya. Semoga orangtua bisa selalu dekat dengan anak, sehingga anak merasa aman dan terlindungi.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.