“Jadi dia betul-betul pure dia mencari di YouTube, lalu dia tanya-tanya sekitar. Tapi nggak lama kami panggilkan guru private di rumah,” cerita Minuk saat wawancara di perayaan HUT ke-13 Galeri Indonesia Kaya, Sabtu (10/10/2026).
Kisah Kitama Arturo, Dalang Cilik yang Belajar Wayang dari YouTube

Kitama Arturo, 12 tahun, mulai tertarik wayang sejak menirukan Gatotkaca pada usia 6 tahun, lalu belajar mandiri lewat YouTube, buku, dan bertanya sebelum mendapat guru privat.
Dukungan keluarga membantu Kitama mengembangkan minatnya sambil menjalani homeschooling, mamanya menekankan pentingnya orangtua memberi ruang, arahan, dan belajar dari ketertarikan anak.
Kitama menjadi bintang tamu Wayang Jurnalis: Petruk Mantu di Galeri Indonesia Kaya dan berharap wayang dikenal luas, sekaligus mengajak generasi muda mencintai budaya Indonesia.
Kecintaan terhadap budaya Indonesia bisa tumbuh sejak anak masih kecil, termasuk melalui kesenian tradisional seperti wayang. Hal ini terlihat dari perjalanan Kitama Arturo, seorang dalang cilik berusia 12 tahun yang memiliki ketertarikan besar terhadap dunia pewayangan.
Minatnya mulai tumbuh sejak berusia 6 tahun, ketika ia senang menirukan tokoh Gatotkaca dalam pertunjukan wayang orang. Berawal dari rasa penasaran, Kitama kemudian belajar mengenal wayang kulit secara mandiri melalui YouTube, buku cerita, dan bertanya kepada orang-orang di sekitarnya.
Kini, ia terus mengembangkan kemampuannya sekaligus berharap seni wayang Indonesia semakin dikenal oleh generasi muda hingga masyarakat dunia. Berikut Popmama.com telah merangkum kisah selengkapnya.
Yuk, disimak!
1. Berawal dari menirukan tokoh Gatotkaca

Popmama.com/Dhio Muhammad Al Dicky Perjalanan Kitama Arturo mengenal dunia pewayangan bermula ketika ia berusia 6 tahun. Menurut sang mama, Minuk Seto, saat itu Kitama senang menari dan menirukan gerakan Gatotkaca seperti yang dilihatnya dalam pertunjukan wayang orang.
Suatu hari, Kitama bertemu dengan seorang dalang cilik dari Malang yang melihat ketertarikannya tersebut. Ketika ditanya sedang menirukan siapa, Kitama menjawab bahwa ia sedang menirukan Gatotkaca. Pertemuan itu kemudian menjadi awal perjalanannya mengenal seni wayang kulit.
Kitama mendapat hadiah berupa satu wayang kulit dan seperangkat perlengkapan dalang. Hadiah tersebut membuatnya semakin tertarik untuk mempelajari dunia pewayangan. Ia mulai mencari tahu lebih banyak melalui video YouTube, membaca buku cerita, dan bertanya kepada orang-orang di sekitarnya tentang berbagai tokoh serta kisah dalam pewayangan.
Menariknya, ketertarikan Kitama tumbuh atas inisiatifnya sendiri. Minuk menjelaskan bahwa keluarga mereka tidak terbiasa menggunakan bahasa Jawa di rumah. Meski begitu, Kitama tetap berusaha mencari tahu tentang budaya yang disukainya.
Setelah melihat minat Kitama yang terus berkembang, keluarga kemudian menghadirkan guru privat untuk membantunya mempelajari wayang secara lebih mendalam. Dengan begitu, rasa penasaran yang awalnya muncul dari kebiasaan menirukan tokoh Gatotkaca perlahan berkembang menjadi ketertarikan yang terus ia tekuni.
2. Belajar mengembangkan passion dengan dukungan orangtua

Popmama.com/Dhio Muhammad Al Dicky Mengembangkan minat sejak kecil tentu membutuhkan kesempatan untuk belajar dan dukungan dari orang-orang terdekat. Bagi Kitama, keluarga turut berperan dalam memberikan arahan agar ia bisa terus mempelajari seni pewayangan.
Minuk mengaku bangga melihat putranya bisa terlibat dalam berbagai kegiatan seni, termasuk menjadi bintang tamu dalam pementasan Wayang Jurnalis: Petruk Mantu untuk merayakan ulang tahun ke-13 Galeri Indonesia Kaya pada 10 Oktober 2026.
Namun, kebanggaan tersebut bukan satu-satunya hal yang dirasakan Minuk. Ia juga mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari putranya sendiri, terutama ketika melihat bagaimana anak-anak mengembangkan ketertarikan dan menemukan informasi baru.
“Yang pastinya bangga sambil belajar banyak juga dari anak sendiri. Karena menurut saya guru terbaik juga memang anak-anak sendiri,” ujar Minuk.
Menurutnya, anak-anak terkadang memiliki referensi yang lebih luas daripada orang dewasa. Oleh karena itu, orangtua juga perlu membuka diri untuk belajar dari anak-anak, sambil tetap memberikan arahan dan mengajarkan hal-hal baik.
Dalam kesehariannya, Kitama menjalani homeschooling tiga kali seminggu, dengan dua hari di antaranya dilakukan secara daring. Pengaturan tersebut menjadi bagian dari kesehariannya dalam menjalani pendidikan sambil mengembangkan minat terhadap dunia pewayangan.
Bagi Minuk, orangtua perlu mendampingi anak dengan sabar ketika mereka memiliki ketertarikan tertentu. Ia berharap orangtua dapat memberikan ruang bagi anak untuk belajar, mencoba hal baru, dan mengembangkan passion dengan minat yang mereka pilih sendiri.
3. Menjadi bintang tamu dalam pertunjukan Wayang Jurnalis

Dok. Galeri Indonesia Kaya Pada perayaan HUT ke-13 Galeri Indonesia Kaya, Kitama mendapat kesempatan menjadi bintang tamu dalam pementasan Wayang Jurnalis: Petruk Mantu, yang berkolaborasi dengan Wayang Orang Bharata. Pertunjukan ini melibatkan 12 jurnalis lintas media yang belajar dan tampil langsung membawakan tokoh-tokoh pewayangan.
Bagi Kitama, keterlibatan dalam pementasan tersebut menjadi pengalaman baru yang menyenangkan. Ia mengaku baru pertama kali bermain bersama banyak orang dalam sebuah pertunjukan seperti ini.
“Pastinya seru banget dan new experience buat aku juga, karena pertama kali aku main sama banyak orang,” kata Kitama.
Persiapan pertunjukan pun terbilang singkat. Kitama mengungkapkan bahwa proses belajarnya untuk pementasan tersebut dimulai beberapa minggu sebelumnya. Meski demikian, ia merasa tidak mengalami kesulitan berarti selama latihan.
Kesempatan ini menjadi pengalaman bagi Kitama untuk berinteraksi dengan para pemain dari latar belakang berbeda sekaligus terus mengenal seni pertunjukan tradisional. Ia pun berharap bisa mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya dan memperkenalkan wayang kepada masyarakat.
4. Berharap Wayang Indonesia semakin dikenal hingga ke seluruh dunia

Popmama.com/Dhio Muhammad Al Dicky Bagi Kitama, wayang bukan sekadar kesenian yang menarik untuk dipelajari, tetapi juga bagian dari budaya Indonesia yang ingin ia bantu lestarikan. Ia berharap semakin banyak orang mengenal wayang, baik di dalam negeri maupun di berbagai negara.
“Semoga wayang bisa dikenal di seluruh Indonesia maupun di negara-negara di seluruh dunia,” ujar Kitama.
Ia juga memiliki pesan khusus bagi masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, agar tidak merasa ragu untuk mengenal dan mencintai budaya sendiri. Menurutnya, budaya Indonesia merupakan bagian dari identitas bangsa yang perlu dijaga bersama.
“Jangan ragu dan jangan menjadi tamu di budaya kita sendiri. Karena budaya itu pun budaya Indonesia,” pesan Kitama.
Sang mama turut berharap anak-anak Indonesia dapat merasa bangga terhadap kekayaan budaya yang dimiliki. Ia mengingatkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab para seniman, tetapi juga dapat dimulai dari keluarga dengan mengenalkan kesenian tradisional kepada anak sejak dini.
“Pesannya mungkin anak-anak Indonesia bisa bangga dari budaya-budaya kita. Karena budaya kita kaya dan sebelum diakui negara lain, kita bisa menjaga sendiri,” ujar Minuk.
Ia juga berpesan kepada para orangtua agar sabar mendampingi anak dalam mengembangkan minatnya dan tidak merasa malu untuk belajar dari mereka.
Perjalanan Kitama Arturo menunjukkan bahwa mengenal budaya bisa dimulai dari rasa penasaran sederhana. Dari menirukan Gatotkaca saat berusia 6 tahun hingga tampil dalam pertunjukan Wayang Jurnalis di usia 12 tahun, Kitama terus belajar untuk menjaga agar wayang tetap dikenal oleh generasi muda.
Melalui ketekunannya, Kitama berharap semakin banyak anak Indonesia yang tertarik mengenal kesenian tradisional dan merasa bangga terhadap budaya bangsanya sendiri.
























