Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Penanganan Gigitan Ular yang Tepat Menurut Pakar Toksinologi

Penanganan Gigitan Ular yang Tepat Menurut Pakar Toksinologi
Pexels/Karol Czinege
Intinya Sih
  • dr. Tri Wahyuni, ahli toksinologi Indonesia, menegaskan bahwa bisa ular menyebar lewat kelenjar getah bening, bukan darah, sehingga penanganan harus dengan anti-bisa intravena, bukan sayatan atau suntikan otot.

  • Demi menyelamatkan pasien gigitan ular langka, dr. Tri rela membeli anti-venom spesifik dari Tailand menggunakan gaji pribadinya karena stok lokal tidak efektif untuk semua jenis ular.

  • Pertolongan pertama yang benar adalah metode imobilisasi agar racun tidak cepat menyebar, disertai edukasi pencegahan seperti menjaga kebersihan rumah dan lingkungan dari tempat persembunyian ular.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Zaman dulu, jika ada yang tergigit ular, tempat gigitan tersebut akan diikat dengan keras, dan ketika dibawa ke rumah sakit atau klinik mereka membelah silang kulit yang tujuannya adalah untuk mengeluarkan bisa ular lewat darah. 

Padahal, bisa ular itu tidak masuk ke dalam darah, mereka justru ada di kelenjar getah bening. 

Dr. dr. Tri Wahyuni, M.Si., Sp. EM., seorang dokter ahli toksinologi di Indonesia, dalam podcast Raditya Dika membagikan ilmu tentang cara menangani gigitan ular yang benar agar tidak terjadi fatalitas.

Berikut Popmama.com merangkum deretan fakta dan ilmu penting dari dr. Tri untuk mengedukasi Mama dan Papa!

Table of Content

1. Awal mula ketertarikan dr. Tri pada bidang toksinologi ular

1. Awal mula ketertarikan dr. Tri pada bidang toksinologi ular

Gunung
Pexels/Ilham Zovanka

Perjalanan karier dr. Tri dimulai ketika ia mengabdi sebagai dokter puskesmas desa selama 7 tahun di wilayah Nganjuk dan Bondowoso.

Kedua daerah tersebut berada di kawasan lereng gunung (Gunung Kawi dan Gunung Ijen) yang dikenal memiliki populasi ular yang cukup tinggi.

Pengalaman langsung di lapangan inilah yang memicu ketertarikannya ketika bertemu dengan Prof. Madya Dr. Ahmad Khaldun bin Ismail, Ketua Malaysia Toksinologi.

Saat pakar dari Malaysia tersebut datang ke Indonesia sebagai pembicara seminar untuk membagikan ilmunya kepada para spesialis emergency, hanya dr. Tri yang menunjukkan ketertarikan besar untuk mendalami ilmu tersebut karena relevansi dengan kasus-kasus pasien yang pernah ia temui di desa.

2. Kekeliruan penanganan pertama dan metode medis yang benar

Darah
Pexels/Humeyra

Sepulangnya dari Belgia di tahun 2012 untuk menempuh spesialisasi kardioviproses, dr. Tri diundang oleh Prof. Khaldun ke Malaysia untuk mendalami toksinologi hingga tahun 2015.

Berdasarkan panduan dari WHO tahun 2010, ia mempelajari bahwa bisa ular menyebar lewat kelenjar getah bening, bukan pembuluh darah.

Oleh karena itu, tindakan membelah kulit atau menyuntikkan obat di otot bokong adalah salah besar.

“Jadi tidak boleh lagi dicross in sisi dan bisa ular itu tidak boleh lagi diinfiltrasi dan diintermuskular di bokong,” jelas dr. Trim

Penanganan yang benar adalah memasukkan anti-bisa ular secara intravena (melalui infus) ke dalam pembuluh darah vena agar reaksinya cepat mengikat racun yang sistemik.

“Karena kondisi sistemik itu, anastomose antara kelenjar getah bening dan pembuluh darah. Jadi dia harus diberikan cepet, nggak bisa infiltrasi aja karena itu lama, apalagi di bokong, itu berjam-jam lama," jelas dr. Tri

3. Perjuangan membeli anti-venom spesifik di Tailand

Vaksin
Pexels/SHVETS Production

Banyak masyarakat awam yang mengira bahwa semua gigitan ular bisa disembuhkan dengan SABU. 

Namun, dalam konteks medis, SABU merupakan singkatan dari Serum Anti-Bisa Ular, bukan narkoba jenis sabu-sabu. 

Faktanya, SABU lokal tidak mempan untuk semua jenis ular, seperti ular hijau yang banyak ditemukan di Gunung Ijen. 

Karena saat itu negara belum memfasilitasi pembelian anti-venom spesifik dari luar negeri, dr. Tri rela menggunakan seluruh gaji PNS miliknya sebesar 3 juta rupiah demi memesannya langsung dari pabrik milik kerajaan Tailand. 

“Kenapa? Aku waktu itu kan masih sehat, kan, dokter, masih sehat aku. Bisa makan apa aja. Tapi kalau pasienku itu kan hampir mati, jadi harus kutolong dulu. Masalah aku, nanti Tuhan akan pelihara.”

4. Kasus pasien yang mengalami pendarahan hebat

Kepingan darah
Pexels/Roger Brown

Pada tahun 2014, saat menjabat sebagai Kepala UGD di rumah sakit Bondowoso, dr. Tri dihadapkan pada kasus kritis seorang pasien yang mengalami pendarahan hebat di berbagai organ akibat gigitan ular. 

Kondisi pasien sudah sangat memprihatinkan dengan sisa trombosit hanya berada di angka 2000, serta mengalami gejala urin berdarah atau hematuri. 

Demi menyelamatkan nyawa pasien tersebut, dr. Tri langsung terbang ke Tailand saat itu juga untuk membeli anti-venom yang tepat. 

Berkat aksi cepatnya, kondisi pasien berangsur pulih total, pendarahan berhenti, dan kadar trombositnya melonjak naik kembali ke angka normal 150.000.

5. Penanganan kasus gigitan ular pada anak di Bandung dan Banten

Anak sakit
Pexels/Tima Miroshnichenko

Dalam kesempatan tersebut, dr. Tri juga menceritakan penanganan dua kasus terbaru yang melibatkan anak-anak. 

Kasus pertama menimpa seorang anak pesantren di Bandung yang koma akibat gigitan ular dengan racun neurotoksin. Setelah dirujuk ke rumah sakit kota dan dipasang ventilator, dr. Tri merawatnya hingga anak tersebut sadar dan bisa kembali ke pesantren. 

Kasus kedua terjadi di Tigaraksa, Banten, di mana seorang anak berusia 9 tahun tergigit ular saat bermain di malam hari. Anak tersebut tiba di IGD dalam kondisi gagal napas, namun berhasil diselamatkan setelah diinkubasi. 

Lewat pengalaman ini, dr. Tri berkomitmen memberikan edukasi ke lingkungan sekitar agar kasus serupa tidak terulang pada anak-anak.

6. Metode imobilisasi sebagai pertolongan pertama

Anak dibawa ke rumah sakit
Pexels/Pavel Danilyuk

Pertolongan pertama yang paling direkomendasikan oleh ahli toksinologi saat ini bukanlah diikat dengan tali, melainkan metode imobilisasi. 

Caranya adalah dengan memasang bidai atau kayu pada bagian tubuh yang tergigit, persis seperti menangani patah tulang. Tujuannya adalah agar bagian tubuh tersebut sama sekali tidak bergerak. 

Karena bisa ular bergerak melalui kelenjar getah bening yang cairannya dipicu oleh pergerakan otot, meminimalkan gerakan tubuh anak secara total akan memperlambat penyebaran racun ke organ vital sebelum mereka mendapatkan serum anti-bisa ular di rumah sakit.

7. Langkah preventif menjaga lingkungan rumah dari ular

Anak membersihkan halaman
Pexels/Yan Krukau

Untuk menjaga keselamatan anak di rumah, Mama dan Papa perlu melakukan langkah pencegahan mengingat ular sering mencari tempat yang lembap dan gelap.

  • Pastikan halaman rumah terbebas dari tumpukan barang bekas, sampah daun, atau rumput liar yang tinggi yang bisa menjadi tempat persembunyian ideal bagi ular.
  • Potong ranting pohon yang menyentuh jendela atau atap rumah, serta pasang saringan kawat pada saluran air.
  • Mengingat ular menyukai mangsa seperti tikus dan katak, menjaga kebersihan rumah dari hama pengerat juga secara otomatis akan menjauhkan predator melata ini dari lingkungan bermain anak.

Sudahkah Mama dan Papa memeriksa kebersihan sudut-sudut rumah hari ini untuk memastikan lingkungan bermain anak tetap aman dari ancaman ular?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More