Anak 10 Tahun di China Bantu Bisnis Keluarga Pakai Teknologi AI

Tahukah Mama, bahwa libur panjang di China kerap menjadi tantangan tersendiri bagi pemilik restoran karena sulit mencari tenaga harian.
Bahkan, diketahui bahwa upah pekerja sementara di sana bisa melonjak hingga 300–500 RMB per hari atau sekitar Rp764.000–Rp1,2 juta, lho.
Alih-alih mencari pekerja sementar, seorang Mama pemilik toko makanan di Changsha punya solusi tak terduga dari anak laki-lakinya yang baru berusia 10 tahun.
Awalnya hanya membantu cuci sayur dan bersih-bersih, tapi siapa sangka sang anak justru punya inisiatif lebih dengan memanfaatkan AI untuk bantu memudahkan pekerjaan orangtuanya.
Bisa jadi inspirasi anak untuk memanfaatkan teknologi AI dengan positif, berikut Popmama.com rangkumkan ulasan selengkapnya.
1. Ketertarikan anak pada teknologi AI

Melansir dari Baidu China sebagaimana dikutip dalam akun @chineserd.id, disebutkan bahwa anak laki-laki ini awalnya hanya membantu pekerjaan fisik ringan seperti mengantar makanan, mencuci sayur, dan membersihkan toko.
Namun di sela-sela kesibukan itu, ia mulai penasaran dengan teknologi kecerdasan buatan yang sering ia lihat dari ponsel sang Mama atau konten online di media sosial.
Ketertarikan itu bukan sekadar ingin bermain atau scroll aplikasi saja, Ma, tapi juga mencari tahu bagaimana AI bisa digunakan untuk hal-hal praktis.
Nah, dari rasa ingin tahunya inilah yang kemudian membuka jalan untuknya membantu bisnis keluarga dengan cara yang lebih modern dan efisien.
2. Gunakan tools AI untuk keperluan toko

Anak yang masih duduk di bangku SD itu kemudian mulai memakai berbagai tools AI sederhana untuk membantu sang Mama di toko.
Mulai dari mengurus stok barang, mencatat persediaan bahan makanan, hingga mengecek transaksi toko setiap hari. Semua tugas yang biasanya memakan waktu dan rawan salah kini bisa dilakukan lebih cepat.
Meski melakukan ini secara sistem, sang Mama tak lupa untuk selalu mengawasi anaknya.
Hasil dari inisiatif anak tersebut ternyata terbukti sangat membantu, terutama saat toko makanan keluarganya sedang ramai pengunjung.
Hal ini menunjukkan bahwa AI nggak cuma untuk orang dewasa atau pekerja kantoran saja, Ma, tapi bisa dipelajari dan diterapkan oleh anak usia 10 tahun dengan pendampingan yang tepat.
3. AI bisa jadi alat bantu diberbagai sektor

Banyak netizen di China kagum karena selain paham teknologi, anak tersebut juga menggunakan AI ini untuk menyelesaikan masalah nyata dalam bisnis keluarga.
Apa yang dilakukan anak tersebut berhasil menggeser pandangan umum bahwa AI untuk anak hanya sebatas game edukasi atau hiburan.
Nah, Mama dan Papa juga bisa mulai membuka mata bahwa memanfaatkan AI pada anak ternyata bisa juga membantu pekerjaan rumah tangga hingga usaha keluarga.
Dengan bimbingan yang tepat dan selalu dalam pengawasan, AI justru bisa menjadi alat yang memberdayakan anak sejak dini, sekaligus mengajarkan tanggung jawab dan kreativitas.
Jadi, Mama dan Papa sudah merasakan manfaat AI pada anak-anak di rumah nggak, nih?


















