Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Tanda Jika Pertemanan Anak Remaja Tidak Sehat
Unsplash/NoorulabdeenAhmad
  • Artikel membahas pentingnya peran orangtua dalam membantu anak mengenali tanda-tanda pertemanan tidak sehat agar mereka bisa membangun hubungan sosial yang positif dan seimbang.
  • Dijelaskan lima tanda utama pertemanan tidak sehat, seperti candaan menyakitkan, sikap egois, manipulasi emosional, pengucilan, serta teman yang terlalu mengatur atau mengekang kebebasan anak.
  • Orangtua dianjurkan mengajarkan batasan sehat, mendorong anak berani berkata tidak, serta membantu mereka mengevaluasi dan memperluas lingkaran sosial yang mendukung rasa aman dan percaya diri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat anak beranjak remaja, mereka mulai memiliki teman-teman dekat dan membangun lingkaran pergaulan sendiri. Pada fase ini, sangat normal jika remaja mengalami dinamika pertemanan yang cukup rumit dan penuh tantangan. Mereka sedang belajar memahami batasan, empati, serta cara menjaga hubungan dengan orang lain.

Sebagai orangtua, hal yang paling penting adalah membantu anak mengenali tanda jika pertemanan mereka tidak sehat. Selain itu, Mama juga bisa mengajarkan bagaimana menetapkan batasan yang sehat. Kemampuan berteman merupakan salah satu life skill penting yang dapat membantu anak membangun kepercayaan diri, kecerdasan emosional, serta ketangguhan.

Dilansir dari Instagram @kidsstopstress, ada beberapa tanda jika pertemanan remaja tidak sehat. Berikut 5 tanda yang Popmama.com rangkum.

1. Sering mengkritik atau bercanda yang menyakitkan

Unsplash/ObieFernandez

Salah satu tanda pertemanan yang tidak sehat adalah teman yang terlalu sering mengkritik atau menggoda secara berlebihan. Candaan yang awalnya terlihat ringan bisa menjadi menyakitkan jika dilakukan terus-menerus. Misalnya mengejek kemampuan anak, mengomentari penampilan, atau mempermalukan di depan orang lain.

Contohnya seperti mengatakan, “Kamu kok lambat banget sih,” setiap anak kalah dalam lomba lari. Jika hal ini terjadi berulang, anak bisa merasa tidak percaya diri dan tertekan. Candaan yang sehat seharusnya membuat semua orang tertawa, bukan membuat seseorang merasa kecil.

Mama bisa mengajarkan anak bahwa mereka berhak merasa tidak nyaman terhadap candaan yang menyakitkan. Teman yang baik akan menghormati perasaan satu sama lain dan tidak menjadikan ejekan sebagai hiburan.

2. Pertemanan yang egois

Pexels/RDNEStockproject

Pertemanan yang tidak sehat juga bisa terlihat ketika hubungan hanya berpusat pada satu orang. Misalnya, teman selalu ingin menentukan aktivitas, membicarakan hobinya saja, atau hanya peduli pada kebutuhannya sendiri.

Contohnya, mereka hanya mau bermain dengan permainan yang mereka suka dan tidak pernah menanyakan pendapat teman lainnya. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, anak bisa merasa tidak dihargai dalam hubungan tersebut.

Mama bisa membantu anak memahami bahwa pertemanan yang sehat seharusnya memiliki timbal balik. Kedua belah pihak perlu saling mendengarkan, menghargai, dan memberi ruang untuk satu sama lain.

3. Manipulasi dan guilt trip

Pexels/Cottonbrostudio

Teman yang tidak sehat terkadang menggunakan manipulasi emosional untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka bisa membuat anak merasa bersalah agar mengikuti keinginannya. Misalnya dengan mengatakan, “Kalau kamu benar-benar temanku, kamu pasti mau melakukan ini untukku.”

Kalimat seperti ini dapat membuat anak merasa tertekan dan takut kehilangan teman. Padahal, hubungan pertemanan tidak seharusnya dibangun dengan rasa bersalah atau paksaan.

Mama bisa mengajarkan anak bahwa teman yang baik tidak akan memaksa atau mengontrol melalui emosi. Anak juga perlu tahu bahwa mereka boleh mengatakan tidak tanpa merasa bersalah.

4. Mengucilkan atau menggosip

Pexels/Cottonbrostudio

Tanda lain pertemanan tidak sehat adalah ketika teman sengaja mengucilkan atau menyebarkan rumor. Misalnya mereka merencanakan acara menginap tetapi tidak mengajak anak Mama, atau membicarakannya diam-diam di belakang.

Perilaku ini dapat membuat anak merasa tidak dianggap dan terluka secara emosional. Apalagi pada usia remaja, rasa diterima dalam kelompok menjadi hal yang sangat penting.

Mama bisa membantu anak memahami bahwa teman yang baik tidak akan sengaja membuat orang lain merasa tidak dianggap. Pertemanan yang sehat justru memberikan rasa aman dan nyaman.

5. Memiliki sikap mengatur atau mengekang

Pexels/Cottonbrostudio

Teman yang terlalu mengatur juga bisa menjadi tanda pertemanan tidak sehat. Misalnya mereka menentukan dengan siapa anak boleh berteman, apa yang harus dilakukan, atau aktivitas apa yang harus diikuti.

Contohnya seperti mengatakan, “Kamu nggak boleh main sama dia, dia nggak keren.” Sikap ini dapat membatasi kebebasan anak dalam memilih pergaulan.

Mama bisa mengajarkan bahwa teman seharusnya saling mendukung, bukan mengekang. Anak berhak menentukan pilihan pertemanannya sendiri tanpa tekanan.

Sebagai langkah tambahan, Mama juga bisa membantu anak mengevaluasi pertemanannya dengan menanyakan apakah ia merasa nyaman saat bersama teman tertentu. Mama juga bisa menggunakan film atau buku sebagai contoh, seperti menonton bersama lalu bertanya karakter mana yang menunjukkan pertemanan baik dan mana yang melewati batas. Cara ini membantu anak memahami konsep pertemanan sehat dengan lebih mudah.

Selain itu, dorong anak untuk berani membatasi diri dari teman yang menyakitinya. Mama juga bisa mengajak anak membangun koneksi di berbagai lingkungan, seperti sekolah, olahraga, atau kegiatan hobi. Penting juga untuk mengingatkan bahwa anak berhak memiliki teman yang membuatnya merasa aman, nyaman, dan dihargai. Tujuannya bukan menciptakan konflik, tetapi membantu anak memiliki pertemanan yang sehat dan seimbang.

Editorial Team