“Mama kena siksa, Pak,” lirih sang Anak dari video viral yang beredar.
Viral! Anak di Pontianak Lapor Polisi Sendiri karena Mamanya di KDRT

Seorang anak laki-laki berjalan sekitar dua kilometer ke Polsek Pontianak Barat untuk meminta bantuan bagi ibunya.
Polisi mendatangi rumah korban dan menemukan Noviana dalam kondisi syok dengan luka di bibir.
Noviana dibawa ke Polsek Pontianak Barat dan menjalani visum, sementara suaminya masih belum diketahui keberadaannya.
Viral di media sosial sebuah video yang menunjukkan keberanian seorang anak laki-laki di Pontianak Barat, Kalimantan Barat. Ia berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju kantor polisi untuk meminta pertolongan bagi ibunya.
Tanpa telepon genggam untuk menghubungi petugas, anak tersebut memilih datang langsung ke Polsek Pontianak Barat bersama seorang temannya. Dalam video itu sang Anak terdengar lirih melaporkan ke petugas polisi kalau mamanya disiksa oleh papanya.
Laporan itu pun kemudian membawa polisi ke rumah sang Anak. Di sana, petugas menemukan sang Mama dalam kondisi syok dengan luka di bibir dan rumah dalam keadaan berantakan.
Berikut Popmama.com rangkum kronologi lengkapnya.
Table of Content
1. Berjalan kaki sekitar 2 kilometer demi mencari bantuan

Tiktok.com/@muhazir108 Peristiwa ini terungkap pada Senin, 19 Oktober 2026 sekitar pukul 12.30 WIB. Seorang anak laki-laki berjalan kaki dari kawasan Jalan Kenari menuju Polsek Pontianak Barat bersama seorang temannya. Jarak yang ditempuh disebut sekitar 2 kilometer.
Bukan tanpa alasan, ia nekat mencari polisi karena khawatir terhadap kondisi mama dan saudara perempuannya di rumah. Anak tersebut juga tidak memiliki telepon genggam untuk meminta bantuan.
Dalam video yang beredar, anak tersebut menyampaikan kepada petugas kalau sang Mama disiksa.
2. Polisi langsung datang ke rumah setelah menerima laporan anak

Tiktok.com/@muhazir108 Setelah mendengarkan sang Anak, Unit Enggang Polsek Pontianak Barat langsung bergerak menuju rumah korban di Jalan Kom Yos Sudarso, Gang Kenari 2.
Kapolsek Pontianak Barat AKP Basuki Arif Wibowo, dikutip dari IDN Times, menjelaskan bahwa petugas sempat bertemu dengan suami korban, Muhammad Hassan, untuk menanyakan apa yang terjadi dan keberadaan istrinya.
Menurut keterangan kepolisian, sang suami awalnya mengatakan tidak ada keributan dan menyebut persoalan yang terjadi hanya masalah rumah tangga biasa. Ia juga mengatakan istrinya sedang tidur di kamar.
3. Sang Mama ditemukan syok dengan luka di bagian bibir

Tiktok.com/@muhazir108 Polisi kemudian meminta Noviana, ibu dari anak tersebut, keluar dari kamar untuk menemui petugas. Noviana ditemukan dalam keadaan syok dengan luka pada bagian bibir. Polisi juga melihat sejumlah barang di dalam rumah dalam keadaan berantakan.
Kepada petugas, Noviana mengaku dirinya bersama anak perempuannya dikurung di dalam kamar dan tidak diperbolehkan keluar rumah. Ia juga mengaku mengalami kekerasan fisik berupa dicekik, diinjak, serta dipukul dengan tangan kosong pada wajah dan tubuh hingga bibirnya pecah.
Dugaan kekerasan disebut terjadi pada Minggu, 18 Oktober 2026 sekitar pukul 22.00 WIB, setelah suaminya pulang bekerja. Menurut keterangan korban, konflik tersebut diduga dipicu persoalan keterlambatan menjemput.
4. Suami korban disebut melarikan diri saat hendak dimintai keterangan

Tiktok.com/@muhazir108 Ketika petugas mencoba mengklarifikasi kejadian lebih lanjut, suami korban disebut justru melarikan diri.
“Petugas berupaya melakukan mediasi dan mengklarifikasi persoalan tersebut. Namun, Hassan justru melarikan diri saat hendak dimintai keterangan lebih lanjut,” ujar AKP Basuki Arif Wibowo.
Hingga keterangan kepolisian disampaikan pada Rabu, 21 Oktober 2026, keberadaannya masih belum diketahui. Polisi menyatakan kasus dugaan KDRT tersebut masih berada dalam penanganan Polsek Pontianak Barat.
5. Keberanian sang anak membuat mamanya bisa mendapat pertolongan

Pexels/Azis Js Melihat kondisi Noviana, polisi kemudian membawanya ke Polsek Pontianak Barat untuk membuat laporan dugaan KDRT. Korban selanjutnya menjalani visum di RS Bhayangkara sebagai bagian dari proses penanganan perkara.
Kasus ini mengingatkan pentingnya mengajarkan anak untuk bisa melapor ketika ada hal buruk terjadi kepadanya atau orang sekitar. Hal yang paling menyentuh dari kejadian ini sang Anak memiliki kepekaan dan rasa khawatir terhadap keselamatan Mama dan saudara perempuannya.
Ini yang membuatnya bisa mengambil keputusan untuk mencari pertolongan meski harus berjalan sekitar 2 kilometer karena tidak memiliki telepon genggam.
Tindakan anak di Pontianak ini menjadi pengingat bahwa anak yang menyaksikan kekerasan di rumah juga dapat berada dalam situasi penuh tekanan dan ketakutan. Ketika anak berani bercerita atau mencari bantuan, lalu direspons cepat dan aman oleh orang dewasa menjadi sangat penting agar anak dan korban kekerasan segera mendapatkan perlindungan.
























