8 Cara Melatih Anak agar Kritis dan Berani Melawan Ketidakadilan

Anak perlu memahami alasan di balik aturan, membedakan ketidaksukaan dari ketidakadilan, serta mempertimbangkan hak orang lain.
Keberatan dapat disampaikan dengan jelas dan tegas tanpa berteriak, menghina, atau merendahkan orang lain.
Dalam situasi berisiko, keberanian juga berarti menjauh, mencari bantuan, dan meminta dukungan orang dewasa tepercaya.
Mengajarkan anak untuk bersikap kritis bukan berarti membuatnya suka membantah. Justru, anak perlu belajar memahami alasan di balik sebuah aturan, membedakan mana yang adil dan tidak adil, serta menyampaikan keberatan dengan cara yang tepat.
Kemampuan ini juga penting ketika anak menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman, seperti diperlakukan tidak adil, dirundung, atau melihat temannya mendapat perlakuan yang salah. Anak perlu tahu bahwa keberanian tidak selalu berarti melawan secara langsung, tetapi juga bisa berupa mencari bantuan dan menyampaikan apa yang terjadi.
Berikut Popmama.com rangkum beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua untuk melatih anak agar lebih kritis dan berani menghadapi ketidakadilan.
Table of Content
1. Biasakan anak bertanya dan mencari alasan di balik sesuatu

Pexels/Anastasia Shuraeva Anak yang terbiasa bertanya akan lebih terlatih untuk tidak menerima sesuatu begitu saja. Orangtua bisa memancingnya dengan pertanyaan sederhana seperti, “Menurut kamu kenapa aturan ini dibuat?” atau “Kalau menurutmu, ada cara lain nggak?”
Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa kemampuan seperti mempertimbangkan informasi, mengontrol respons, dan memecahkan masalah merupakan bagian dari fungsi eksekutif yang berkembang melalui latihan berulang sejak masa kanak-kanak.
Karena itu, daripada langsung memberi semua jawaban, orangtua bisa memberi ruang agar anak mencoba berpikir terlebih dahulu.
2. Jangan langsung mematikan pendapat anak yang berbeda

Pexels/RDNE Stock project Saat anak punya pendapat yang berbeda dari orangtua, respons pertama tidak harus selalu berupa koreksi. Dengarkan dulu alasan di balik pendapat tersebut.
Anak perlu belajar bahwa berbeda pendapat tidak selalu berarti tidak sopan. Yang perlu diajarkan adalah cara menyampaikan ketidaksetujuan tanpa berteriak, menghina, atau merendahkan orang lain.
Dengan begitu, anak akan lebih percaya diri menyampaikan pendapat ketika menemukan situasi yang menurutnya tidak tepat.
3. Ajarkan beda antara ‘tidak suka’ dan ‘tidak adil’

Pexels/ArtHouse Studi Tidak semua hal yang tidak disukai anak otomatis berarti tidak adil. Misalnya, anak mungkin merasa tidak adil karena tidak boleh bermain lebih lama, padahal aturan tersebut berlaku sama untuk semua anggota keluarga.
Orangtua bisa membantu anak melihat konteks dengan bertanya, “Apakah semua orang mendapat aturan yang sama?” atau “Apakah ada hak orang lain yang ikut dipengaruhi?”
Latihan seperti ini membantu anak memahami bahwa keadilan bukan hanya soal keinginannya sendiri, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan dan hak orang lain.
4. Latih anak menyampaikan keberatan secara asertif

Pexels/Katerina Holmes Anak perlu tahu bahwa ia boleh mengatakan tidak ketika merasa tidak nyaman. Namun, ia juga perlu belajar mengungkapkannya dengan jelas dan tegas.
Misalnya, anak bisa berlatih mengatakan, “Aku tidak suka diperlakukan seperti itu,” atau “Menurutku itu tidak adil, boleh aku jelaskan alasannya?”
Kemampuan menyampaikan kebutuhan dan keberatan secara jelas merupakan bagian dari self-advocacy. Dikutip dari Child Mind Institute menekankan pentingnya anak belajar mengutarakan apa yang ia butuhkan tanpa harus menjadi agresif.
5. Gunakan cerita dan kejadian sehari-hari sebagai bahan diskusi

Magnific/jcomp Film, buku, berita ringan, atau kejadian sehari-hari bisa menjadi cara sederhana untuk membicarakan soal keadilan bersama anak.
Orangtua dapat bertanya, “Menurut kamu, tokoh itu diperlakukan dengan adil nggak?” atau “Kalau kamu jadi temannya, apa yang akan kamu lakukan?”
Pertanyaan terbuka membantu anak belajar melihat sebuah situasi dari berbagai sudut pandang. Anak juga bisa mulai memahami bahwa sebuah keputusan dapat membawa konsekuensi bagi dirinya maupun orang lain.
6. Ajarkan bahwa berani tidak berarti harus menghadapi semuanya sendiri

Unsplash/CDC Saat menghadapi bullying, intimidasi, atau orang yang lebih kuat, anak tidak harus selalu melawan secara langsung. Keselamatan tetap menjadi prioritas.
Anak perlu tahu kapan harus menjauh, mencari guru, menghubungi orangtua, atau meminta bantuan orang dewasa tepercaya. American Psychological Association menyarankan anak untuk tidak membalas bullying dengan kekerasan, melainkan mencari dukungan dari orang dewasa.
Jadi, keberanian juga berarti tahu kapan situasi terlalu berisiko untuk dihadapi seorang diri.
7. Orangtua perlu memberi contoh ketika menghadapi ketidakadilan

Pexels/cottonbro studio Anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari apa yang dilakukan orangtuanya. Cara Mama dan Papa menghadapi konflik, menyampaikan komplain, atau memperlakukan orang lain dapat menjadi contoh langsung.
Jika orangtua menghadapi sesuatu yang dirasa tidak adil, tunjukkan bahwa keberatan bisa disampaikan dengan tenang, berdasarkan fakta, dan tetap menghormati pihak lain.
Harvard Center on the Developing Child juga menekankan bahwa dukungan dan contoh dari orang dewasa berperan dalam perkembangan kemampuan anak mengatur diri dan mengambil keputusan.
8. Berikan ruang anak membuat keputusan sesuai usianya

Pexels/Kampus Production Kemampuan berpikir kritis juga dapat dilatih dengan memberi anak kesempatan memilih. Mulai dari hal sederhana seperti menentukan pakaian, memilih kegiatan akhir pekan, hingga ikut berdiskusi tentang aturan keluarga.
Setelah anak membuat pilihan, ajak ia melihat konsekuensinya. Jika pilihannya tidak berjalan sesuai harapan, hindari langsung mengambil alih. Bantu anak mengevaluasi apa yang bisa dilakukan berbeda pada kesempatan berikutnya.
Dengan terbiasa mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya, anak akan lebih terlatih berpikir mandiri ketika menghadapi situasi yang membutuhkan keberanian dan pertimbangan.
Pada akhirnya, melatih anak agar kritis dan berani melawan ketidakadilan bukan berarti mengajarkannya untuk selalu menentang aturan. Hal yang lebih baik yakni membantu anak mengenali situasi, berpikir sebelum bertindak, berani menyampaikan pendapat, dan tahu kapan perlu meminta bantuan.
























