Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Kenapa Banyak Anak Bisa Fatherless Walau Papa di Rumah?

5 min read
Kenapa Banyak Anak Bisa Fatherless Walau Papa di Rumah?
Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI
  • Indonesia disebut berada di peringkat ketiga negara fatherless; lebih dari 1,5 juta anak dilaporkan tumbuh tanpa pengasuhan dan kehadiran Papa yang optimal.

  • Fatherless emosional terjadi saat Papa hanya berperan sebagai pencari nafkah tanpa interaksi bermakna; keterlibatan ideal mencakup engagement, accessibility, dan responsibility.

  • Kekosongan dukungan Papa dapat memicu rendah diri, krisis identitas, dan hambatan emosi; komunikasi hangat serta edukasi tumbuh kembang diperlukan untuk memperbaiki pola pengasuhan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjalani peran sebagai orangtua memang tidak pernah mudah dan selalu penuh dengan pembelajaran setiap harinya, ya.

Terkadang, kita mungkin merasa sudah memberikan yang terbaik secara fisik dan materi untuk anak. 

Namun, pernahkah Mama dan Papa mendengar fenomena di mana anak tetap merasa kehilangan sosok ayah meskipun tinggal serumah?

Fenomena fatherless secara emosional ini belakangan menjadi topik yang hangat diperbincangkan di kalangan para orangtua, lho.

Banyak yang mengira bahwa kehadiran fisik seorang Papa di dalam rumah sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan psikologis anak. 

Padahal Pa, kedekatan emosional dan interaksi yang bermakna jauh lebih esensial dalam tumbuh kembang mental si Anak di rumah.

Oleh karena itu, penting sekali bagi Papa untuk memahami akar permasalahan ini agar tidak terjebak dalam pola pengasuhan yang keliru. 

Yuk, simak bersama di Popmama.com alasan kenapa banyak anak bisa fatherless walau papa di rumah. 

  1. 1. Indonesia masuk peringkat ketiga fatherless di dunia

    Data fatherless di Indonesia tahun 2025
    jateng.kemendukbangga.go.id

    Tahu nggak sih Pa, Indonesia ternyata masuk peringkat ketiga sebagai negara paling fatherless di dunia, lho!

    Hal ini berdasarkan data dari KemenPPPA dan UGM. 

    Sebanyak lebih dari 1,5 juta anak di Indonesia dilaporkan tumbuh tanpa pengasuhan dan kehadiran Papa yang optimal. 

    Kondisi ini tentu menjadi alarm untuk lebih peduli terhadap keterlibatan Papa dalam keluarga. 

    Angka yang tinggi ini menunjukkan betapa seriusnya isu pengasuhan di tanah air saat ini.

    Jika dibiarkan tanpa penanganan, kualitas generasi mendatang bisa mengalami penurunan secara emosional. 

    Karena itu, penting bagi setiap orangtua untuk mulai menyadari hambatan pengasuhan ini di rumah, ya.

  2. 2. Budaya patriarki dan peran economic provider

    Papa yang pulang kerja disambut oleh anak dan istrinya
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Budaya patriarki sering kali mempersempit peran seorang Papa untuk sebatas menjadi pencari uang atau economic provider saja. 

    Anggapan keliru ini membuat banyak Papa di Indonesia mengabaikan pentingnya kehadiran secara emosional di tengah-tengah keluarga. 

    Akibatnya, anak-anak merasa asing dengan figur Papa mereka sendiri meskipun tinggal di bawah atap yang sama.

    Papa sibuk bekerja dari pagi hingga malam demi mencukupi kebutuhan materi keluarga.

    Sayangnya, waktu luang yang tersisa kerap kali tidak dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan si Anak. 

    Padahal, anak sangat merindukan kehadiran Papa yang benar-benar fokus mendampingi mereka.

  3. 3. 3 aspek utama keterlibatan Papa

    Anak dan orangtua yang sedang mengobrol
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Keterlibatan Papa yang ideal harus mencakup tiga aspek utama, lho!

    Ketiga aspek tersebut adalah engagement, accessibility, dan responsibility. 

    Engagement sendiri berkaitan dengan keceriaan bersama anak di rumah.

    Lalu accessibility adalah kemudahan anak dalam mengakses komunikasi.

    Responsibility adalah tanggung jawab pengasuhan yang melampaui materi. 

    Jika ketiga hal ini tidak terpenuhi, anak akan mengalami kekosongan peran Papa yang nyata.

    Ketiga elemen ini saling melengkapi ya, untuk membentuk pondasi emosional anak yang kokoh. 

    Papa perlu mengalokasikan waktu berkualitas tanpa terganggu oleh urusan pekerjaan.

    Dengan begitu, si Anak dapat merasakan perhatian serta kasih sayang yang utuh dari Papa, deh. 

  4. 4. Figur Papa sebagai perwakilan dunia luar

    Papa dan anak yang sedang mengobrol
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Figur Papa itu bertindak sebagai perwakilan dunia luar bagi anaknya, lho!

    Ketika Papa hadir, mendengarkan, serta mengapresiasi, anak akan merasa berharga dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. 

    Sebaliknya, ketiadaan dukungan emosional dari Papa bisa membuat anak merasa tidak diakui keberadaannya. 

    Mama memang  mengajarkan tentang kehangatan dan rasa aman dasar di dalam lingkungan rumah. 

    Sementara itu, penerimaan dari Papa memberikan keberanian bagi anak untuk mengeksplorasi dunia. 

    Tanpa validasi tersebut, anak akan ragu dalam mengambil langkah saat menghadapi tantangan luar. 

  5. 5. Bahaya father hunger bagi psikologis anak

    Anak yang ingin bermain saat papanya kerja
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Dampak kekosongan peran Papa atau father hunger sangat berdampak pada psikologis anak bahkan hingga mereka dewasa, Pa. 

    Kondisi ini dapat memicu rasa rendah diri, krisis identitas, hingga hambatan dalam kematangan emosional saat anak beranjak dewasa. 

    Hal tersebut tentu akan mempengaruhi cara mereka dalam menjalin hubungan sosial di masa depan. 

    Anak yang mengalami father hunger sering kali merasa ada bagian dari dirinya yang kurang lengkap. 

    Mereka cenderung kesulitan dalam mengendalikan emosi ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan. 

    Pada akhirnya, luka masa kecil ini berisiko terbawa hingga mereka membangun keluarga sendiri di masa depan.

  6. 6. Ancaman media sosial dan AI dapat menggantikan figur Papa

    Anak yang sedang bermain handphone dan mendiamkan papanya
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Peran emosional Papa yang kosong sangat rawan digantikan oleh media sosial hingga teknologi AI yang canggih, lho. 

    Jika orangtua gagal membangun koneksi emosional di rumah, anak akan mencari pelarian di tempat lain.

    Oleh karena itu, komunikasi dua arah yang hangat antara Papa dan si Anak menjadi kunci perlindungan utama. 

    Kemajuan teknologi saat ini menawarkan berbagai kenyamanan instan bagi perasaan anak.

    Namun, interaksi digital tentu tidak pernah bisa menggantikan kehangatan sentuhan dan perhatian seorang Papa. 

    Orangtua harus bergerak cepat sebelum si Anak terikat secara emosional dengan dunia maya. 

  7. 7. Memutus rantai pengasuhan dengan edukasi tumbuh kembang

    Anak yang sedang mengobrol dengan kedua orangtuanya
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Pengetahuan mengenai tumbuh kembang anak adalah kunci utama untuk memutus rantai pengasuhan yang keliru. 

    Dengan membekali diri dengan ilmu parenting yang tepat, orangtua bisa lebih bijak dalam merespons perilaku anak. 

    Hal ini membantu Mama dan Papa untuk mengelola emosi dengan baik sehingga tercipta hubungan keluarga yang harmonis. 

    Pemahaman yang baik membuat orangtua tidak mudah meluapkan kekesalan secara emosionalnya. 

    Kita menjadi lebih sabar dalam memahami alasan di balik setiap tingkah laku si Anak, deh. 

    Pembelajaran yang konsisten akan membantu kita membesarkan anak dengan penuh kehangatan dan cinta.  

    Memutus rantai fatherless di dalam keluarga memang memerlukan kesadaran penuh serta kerja sama yang baik antara Mama dan Papa. 

    Itu dia Pa, alasan kenapa banyak anak bisa fatherless walau papa di rumah. 

    Mari kita jadikan momen ini sebagai refleksi untuk menghadirkan kehangatan emosional yang utuh bagi anak di rumah.  

    Ingatlah bahwa kehadiran seorang Papa bukan hanya tentang figur fisik, tetapi tentang cinta, perhatian, dan keterlibatan aktif dalam setiap tumbuh kembang anak. 

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More