Selain penanganan hukum terhadap para terduga pelaku, korban yang masih berusia 13 tahun juga membutuhkan pendampingan psikologis untuk membantu proses pemulihan dari trauma yang dialaminya.
Pemulihan mental menjadi bagian penting agar korban dapat kembali merasa aman dan memperoleh dukungan yang dibutuhkan selama proses pendampingan.
Ajarkan Konsep Bodily Integrity Sejak Dini
Kasus seperti ini menjadi pengingat bagi orangtua untuk mengenalkan konsep bodily integrity atau integritas tubuh kepada anak.
Konsep ini mengajarkan bahwa tubuh anak adalah miliknya sendiri sehingga tidak boleh disentuh, dilihat, atau diperlakukan orang lain tanpa persetujuannya.
WHO dan UNICEF juga menekankan pentingnya pendidikan mengenai keamanan tubuh sejak usia dini sebagai salah satu langkah pencegahan kekerasan seksual pada anak.
Orangtua memiliki peran penting untuk membangun komunikasi yang terbuka sehingga anak merasa aman untuk bercerita apabila mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Beberapa langkah sederhana yang dapat Mama lakukan di rumah antara lain:
Kenalkan area tubuh pribadi yang tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain tanpa izin.
Ajarkan anak bahwa mereka boleh berkata "tidak", berteriak, menjauh, dan mencari bantuan ketika merasa tidak aman.
Biasakan anak bercerita tentang aktivitas yang dialaminya di sekolah, tempat mengaji, asrama, atau lingkungan bermain.
Dengarkan setiap cerita anak tanpa menyalahkan atau meragukan pengakuannya agar mereka merasa aman untuk terus terbuka kepada orangtua.
Itulah fakta dari kasus yang memilukan dan mirisnya dilakukan oleh oknum yang seharusnya menjadi pengganti orangtua di sekolah.
Karena itu, penting bagi Mama untuk mendengarkan cerita anak tanpa menyalahkan, meremehkan, atau memaksa anak diam.
Dukungan dan rasa aman dari keluarga bisa menjadi langkah pertama yang sangat berarti bagi proses pemulihan anak.