Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Viral! Dua Oknum Guru Ponpes Ditangkap Usai Lakukan Kekerasan Seksual
Pexels/RDNE Stock project
  • Polisi menangkap dua guru Ponpes Nur Zam Zam di Deli Serdang, Mikrot Sayuti dan Nondang Ibrahim, atas dugaan kekerasan seksual terhadap santri laki-laki berusia 13 tahun.
  • Korban menyatakan dugaan kekerasan terjadi berulang sejak Mei 2026 di asrama dan terungkap setelah ia bercerita kepada keluarga; kedua terduga pelaku kemudian diserahkan ke Polsek Patumbak.
  • Yayasan memberhentikan kedua guru dan menyerahkan perkara kepada polisi, sementara korban membutuhkan pendampingan psikologis untuk pemulihan trauma.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kasus kekerasan seksual terhadap anak kembali terjadi, Ma. Kali ini, dugaan tersebut melibatkan dua oknum tenaga pengajar di sebuah pondok pesantren.

Dua guru di Pondok Pesantren Nur Zam Zam, Jalan Kanal Marindal I, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, ditangkap polisi setelah diduga melakukan kekerasan seksual terhadap seorang santri laki-laki berusia 13 tahun.

Kedua terduga pelaku diketahui bernama Mikrot Sayuti (27) dan Nondang Ibrahim (30), yang merupakan warga Kabupaten Padang Lawas Utara.

Berikut Popmama.com telah merangkum 4 fakta terkait kasus dugaan kekerasan seksual terhadap santri di Deli Serdang.

1. Diduga terjadi sejak Mei 2026 di lingkungan asrama

Pexels/Alex Green

Melansir dari tvOnenews.com, dugaan kekerasan seksual tersebut telah berlangsung sejak Mei 2026 dan terjadi di lingkungan asrama pondok pesantren.

Menurut pengakuan korban, tindakan tersebut tidak hanya terjadi satu kali, melainkan berulang. Korban juga menduga masih ada korban lain yang mengalami kejadian serupa.

2. Terungkap setelah korban berani bercerita kepada keluarga

Instagram.com/arteranews

Kasus ini akhirnya terungkap setelah korban memberanikan diri menceritakan pengalaman yang dialaminya kepada keluarga.

Saat diinterogasi oleh pihak berwajib, salah satu pelaku mengakui perbuatannya yang telah dilakukan berulang kali kepada beberapa santri.

Dari video yang beredar di internet, pelaku sempat ditanya petugas, dan diakui bahwa aksi tersebut sudah dilakukan hingga 3 kali terhadap santri berbeda, bahkan pengakuan salah satu pelaku menyebutkan perbuatannya sudah berlangsung selama satu tahun lebih.

Setelah terbukti benar, kedua pelaku langsung diamankan dan diserahkan ke Polsek Patumbak untuk menjalani proses hukum.

3. Yayasan langsung memberhentikan kedua guru

Pexels/AI25.Studio AI GENERATIVE

Kepala Sekolah Ponpes Nur Zam Zam, Harun, mengaku terkejut saat mengetahui adanya dugaan kasus tersebut.

Ia mengatakan pihak sekolah baru mengetahui peristiwa itu setelah dipanggil oleh kantor desa setempat.

Sebagai bentuk tindak lanjut, yayasan langsung memberhentikan kedua guru tersebut dan menyerahkan penanganan kasus sepenuhnya kepada pihak kepolisian.

4. Korban membutuhkan pendampingan psikologis

Pexels/Vitaly Gariev

Selain penanganan hukum terhadap para terduga pelaku, korban yang masih berusia 13 tahun juga membutuhkan pendampingan psikologis untuk membantu proses pemulihan dari trauma yang dialaminya.

Pemulihan mental menjadi bagian penting agar korban dapat kembali merasa aman dan memperoleh dukungan yang dibutuhkan selama proses pendampingan.

Ajarkan Konsep Bodily Integrity Sejak Dini

Kasus seperti ini menjadi pengingat bagi orangtua untuk mengenalkan konsep bodily integrity atau integritas tubuh kepada anak.

Konsep ini mengajarkan bahwa tubuh anak adalah miliknya sendiri sehingga tidak boleh disentuh, dilihat, atau diperlakukan orang lain tanpa persetujuannya.

WHO dan UNICEF juga menekankan pentingnya pendidikan mengenai keamanan tubuh sejak usia dini sebagai salah satu langkah pencegahan kekerasan seksual pada anak.

Orangtua memiliki peran penting untuk membangun komunikasi yang terbuka sehingga anak merasa aman untuk bercerita apabila mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Beberapa langkah sederhana yang dapat Mama lakukan di rumah antara lain:

  • Kenalkan area tubuh pribadi yang tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain tanpa izin.

  • Ajarkan anak bahwa mereka boleh berkata "tidak", berteriak, menjauh, dan mencari bantuan ketika merasa tidak aman.

  • Biasakan anak bercerita tentang aktivitas yang dialaminya di sekolah, tempat mengaji, asrama, atau lingkungan bermain.

  • Dengarkan setiap cerita anak tanpa menyalahkan atau meragukan pengakuannya agar mereka merasa aman untuk terus terbuka kepada orangtua.

Itulah fakta dari kasus yang memilukan dan mirisnya dilakukan oleh oknum yang seharusnya menjadi pengganti orangtua di sekolah.

Karena itu, penting bagi Mama untuk mendengarkan cerita anak tanpa menyalahkan, meremehkan, atau memaksa anak diam.

Dukungan dan rasa aman dari keluarga bisa menjadi langkah pertama yang sangat berarti bagi proses pemulihan anak.

Curated For You

Editorial Team

Related Article