Bullying satu ini menjadi jenis yang dinilai paling sulit dideteksi karena sering terjadi di balik pintu tertutup dan tanpa saksi. Pelaku menggunakan taktik psikologis untuk mengontrol, menakuti, dan merendahkan korbannya.
Dampak dari bullying ini sangat mematikan, Ma, karena bisa menghancurkan harga diri. Korban bisa merasa tidak berdaya, terus-menerus merasa bersalah, dan kehilangan identitas dirinya.
Agar tak terus terulang, berikut cara mengatasinya:
Bicara pada orang yang dipercaya: Mengungkapkan apa yang dialami kepada teman, keluarga, atau guru yang dipercaya adalah langkah pertama untuk melepaskan diri dari isolasi emosional.
Lakukan teknik relaksasi: Latihan pernapasan, meditasi, atau olahraga ringan dapat membantu mengelola stres dan kecemasan yang ditimbulkan.
Cari dukungan profesional: Konseling atau terapi psikologis sangat penting untuk menyembuhkan luka emosional, membangun kembali harga diri, dan mempelajari cara menghadapi manipulasi.
Seperti yang ditegaskan Polri dalam unggahannya, perundungan bukanlah hal sepele. Ini adalah persoalan serius yang merusak masa depan anak bangsa.
Untuk itu, kita sebagai orangtua perlu lebih komunikatif dalam menjelaskan perihal bullying pada anak. Dengan harapan, anak bisa lebih bersuara ketika melihat atau mengalami, serta mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya.
Yuk, sama-sama kita ciptakan lingkungan yang lebih aman, bebas dari rasa takut, dan penuh dengan rasa hormat untuk sesama.