Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Adik dan Kakak Bertengkar, Kapan Orangtua Perlu Turun Tangan?

Adik dan Kakak Bertengkar, Kapan Orangtua Perlu Turun Tangan?
Popmama.com/Violin Heldina/AI
  • Perselisihan adik-kakak dapat mendukung perkembangan sosial-emosional; orangtua boleh mengawasi tanpa langsung campur tangan bila konflik masih aman dan anak mampu bernegosiasi.
  • Orangtua harus segera memisahkan anak saat konflik menjadi fisik atau berisiko cedera, lalu membahas masalah setelah emosi mereda dengan keselamatan sebagai prioritas.
  • Hindari memaksa kakak selalu mengalah atau membandingkan anak; terapkan konsekuensi adil, bantu membuat solusi, dan respons konflik dengan tenang serta konsisten.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Melihat adik dan kakak bertengkar tentu bisa membuat Mama ikut pusing. Mulai dari berebut mainan, saling mengejek, sampai adu mulut mungkin menjadi pemandangan yang sesekali terjadi di rumah.

Meski begitu, tidak semua perselisihan perlu langsung dihentikan orangtua. Menurut dr. Citra Amelinda, SpA, IBCLC, MKes melalui unggahan Instagram @citra_amelinda, sibling rivalry atau persaingan antarsaudara merupakan salah satu tahap yang dapat mendukung perkembangan sosial dan emosional anak.

Anak bisa berselisih karena ingin mendapatkan perhatian orangtua, mencari posisi tertentu dalam keluarga, atau memperebutkan barang, teman, maupun waktu bersama orangtua.

Frekuensi dan tingkat perselisihan pun dapat berbeda pada setiap keluarga, bergantung pada jarak usia, kepribadian anak, serta cara orangtua meresponsnya.

Lantas, kapan Mama perlu membiarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri dan kapan harus segera turun tangan?

Simak penjelasannya yang telah dirangkum Popmama.com berikut ini.

  1. 1. Biarkan anak belajar menyelesaikan perselisihan jika situasinya masih aman

    Biarkan adik dan kakak mencari jalan keluar dari pertengkaran yang terjadi
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Tidak setiap pertengkaran adik dan kakak harus langsung dihentikan. Ketika perselisihan masih berupa perbedaan pendapat dan tidak ada risiko anak saling menyakiti, orangtua dapat memberi mereka kesempatan untuk mencari jalan keluar bersama.

    Situasi tersebut justru bisa menjadi momen bagi anak untuk belajar:

    • bernegosiasi,
    • menyampaikan keinginan,
    • memahami sudut pandang saudara,
    • mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi.

    Mama tetap bisa mengawasi dari jarak tertentu untuk memastikan keadaan tidak semakin buruk. Hindari buru-buru menentukan siapa yang benar atau salah, apalagi langsung meminta salah satu anak mengalah.

    Namun, kesempatan menyelesaikan masalah sendiri bukan berarti anak dibiarkan tanpa batas.

    Jika suara mulai meninggi, emosi semakin sulit dikendalikan, atau perselisihan berubah menjadi tindakan fisik, Mama perlu segera mengambil tindakan.

  2. 2. Segera lerai ketika perselisihan berubah menjadi perkelahian

    Orangtua perlu melerai ketika pertengkaran menjadi perkelahian fisik
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Mama perlu segera turun tangan ketika pertengkaran sudah berubah menjadi perkelahian fisik.

    Memukul, menendang, mencakar, mendorong, atau tindakan lain yang berisiko membuat salah satu anak terluka tidak lagi termasuk konflik yang aman untuk diselesaikan sendiri.

    Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memisahkan anak dan meminta mereka berada di area berbeda untuk sementara waktu.

    Tujuannya bukan untuk menghukum, melainkan memberi ruang agar masing-masing anak bisa menenangkan diri.

    Mama tidak perlu langsung meminta anak menjelaskan masalah atau menentukan siapa yang memulai pertengkaran ketika emosi masih tinggi. Percakapan dapat dilakukan setelah kondisi lebih tenang sehingga anak lebih siap mendengarkan dan menyampaikan perasaannya.

    Prioritaskan keselamatan terlebih dahulu. Setelah situasi terkendali, barulah Mama membantu anak memahami apa yang terjadi dan mencari penyelesaian bersama.

  3. 3. Hindari meminta anak yang lebih besar selalu mengalah

    Jangan selalu minta kakak untuk mengalah dengan adik karena lebih besar
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Kalimat seperti:

    “Kamu kan sudah besar, harusnya mengalah.”

    Mungkin terdengar sederhana, tetapi sebaiknya tidak menjadi respons utama setiap kali adik dan kakak bertengkar.

    Meminta anak yang lebih besar selalu mengalah dapat membuatnya merasa perasaannya kurang diperhatikan dibandingkan dengan saudaranya.

    Anak juga bisa melihat bahwa menjadi kakak berarti harus terus mengorbankan keinginannya.

    Menurut dr. Citra, orangtua sebaiknya menghindari membandingkan anak secara negatif ketika menghadapi sibling rivalry.

    Alih-alih menentukan siapa yang harus mengalah, Mama bisa membantu keduanya memahami masalah dan mencari solusi yang dirasa adil.

    Mama juga dapat menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan bahwa usia bukan alasan untuk mengabaikan perasaan orang lain. Kakak tetap boleh merasa kesal, sementara adik juga perlu belajar menghargai batasan saudaranya.

  4. 4. Berikan konsekuensi yang adil kepada semua anak yang terlibat

    Berikan hukuman yang adil bagi kakak maupun adik atas perilakunya
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Ketika pertengkaran terjadi, Mama mungkin tergoda memberikan hukuman kepada anak yang dianggap paling bersalah.

    Namun, konsekuensi sebaiknya diberikan secara adil kepada semua anak yang terlibat dalam perselisihan.

    Misalnya, adik dan kakak bertengkar karena berebut sebuah mainan. Setelah pertengkaran terjadi, Mama tidak perlu memberikan mainan tersebut kepada salah satu anak sebagai bentuk hadiah karena dianggap lebih berhak.

    Mainan tersebut justru dapat disimpan sementara sampai keduanya lebih tenang.

    Setelah itu, Mama dapat membantu mereka menentukan cara bergantian atau membuat kesepakatan untuk menggunakannya.

    Konsekuensi yang adil membantu anak memahami bahwa tindakan mereka memiliki dampak. Anak juga belajar bahwa menyelesaikan konflik dengan cara berteriak atau menggunakan kekerasan bukanlah cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

  5. 5. Tenangkan diri sebelum menghadapi pertengkaran anak

    Mama jangan terbawa emosi ketika melihat anak bertengkar
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Mendengar anak berteriak atau melihat adik-kakak saling dorong memang bisa membuat emosi orangtua ikut terpancing.

    Namun, ketika kondisi masih aman dan belum membutuhkan tindakan segera, Mama dapat berhenti sejenak sebelum merespons.

    dr. Citra menyarankan orangtua mencoba menghitung sampai 10 sebelum bertindak. Jeda singkat tersebut dapat membantu Mama mengatur emosi sehingga tidak langsung bereaksi dengan kemarahan.

    Setelah lebih tenang, Mama bisa mendekati anak dengan suara yang lebih terkendali.

    Respons orangtua yang tenang juga dapat membantu anak belajar bahwa konflik tidak harus diselesaikan dengan teriakan atau tindakan agresif.

    Jika Mama merasa membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, tidak ada salahnya meminta bantuan pasangan atau pengasuh untuk menangani anak sementara waktu.

    Dengan begitu, Mama dapat mengembalikan energi sebelum kembali menghadapi situasi di rumah.

  6. 6. Ingat, sibling rivalry bukan selalu sesuatu yang harus dihilangkan

    Pertengkaran membuat anak belajar untuk menyelesaikan masalah
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Perselisihan antara adik dan kakak mungkin tidak bisa sepenuhnya dihindari. Anak sedang belajar memahami dirinya sendiri sekaligus belajar hidup bersama saudara dengan karakter, kebutuhan, dan keinginan yang berbeda.

    Karena itu, tujuan orangtua bukan membuat anak tidak pernah bertengkar, melainkan membantu mereka belajar menghadapi konflik dengan cara yang lebih sehat.

    Anak dapat diberi kesempatan menyelesaikan masalah sendiri selama situasinya aman, tetapi orangtua perlu segera turun tangan ketika konflik mulai mengarah pada kekerasan atau berisiko menyebabkan cedera.

    Respons Mama yang konsisten dan adil juga dapat membantu anak memahami batasan dalam hubungan dengan saudaranya.

    Dengan begitu, pertengkaran yang awalnya membuat rumah terasa riuh perlahan bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar berkomunikasi, mengelola emosi, dan menyelesaikan masalah.

    Itulah 6 hal yang perlu diperhatikan Mama ketika adik dan kakak sedang berselisih. Jadi, tidak setiap pertengkaran harus langsung dilerai, tetapi jangan ragu untuk turun tangan ketika keselamatan anak mulai terancam.

    Semoga membantu, Ma!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More